Energi untuk Keamanan Nasional

loading...
Energi untuk Keamanan Nasional
Energi untuk Keamanan Nasional
A+ A-
Mudi Kasmudi
Praktisi Energi, Industri, dan Pertambangan

PADA 4 Agustus 2019, kita diingatkan pada peristiwa pemadaman total (blackout ) di Jawa-Bali yang diawali dengan gangguan pada sistem Saluran Udara Tegangan Ekstra-Tinggi (SUTET) Ungaran-Pemalang. Akibatnya kurang lebih 152 juta penduduk Jawa-Bali (58% dari total penduduk) mengalami pemadaman, industri dan pabrik berhenti, fasilitas publik padam, bahkan Ibu Kota lumpuh, KRL dan MRT berhenti, transaksi elektronik dan jaringan telekomnuikasi terganggu. Kejadian itu membuka mata kita bahwa keamanan nasional (national security ) mudah dilumpuhkan (vulnerability).

Setelah 74 tahun Indonesia merdeka, keamanan nasional memerlukan redefinisi karena bukan hanya keamanan terhadap gangguan atau serangan musuh, tetapi yang tidak kalah penting adalah keamanan terhadap fasilitas energi nasional dari gangguan teknis maupun nonteknis. Misalnya bencana alam, sabotase, dan teror terhadap fasilitas energi, jaringan SUTET, gardu induk, pembangkit listrik, pusat-pusat kontrol, terminal BBM, LPG-LNG, pelabuhan kapal tanker, pengeboran minyak baik offshore maupun onshore , kilang minyak dan gas (migas), tambang batu bara, pipeline , yang mengakibatkan terhentinya suplai energi.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang pernah mengalami peristiwa blackout. Negara-negara maju sekalipun seperti AS, Kanada, Jepang pernah mengalaminya, yang disebabkan faktor teknis maupun nonteknis. Departemen Energi Amerika Serikat (AS) mencatat, antara 1970 sampai pertengahan 1980 terjadi serangan fasilitas energi seperti pembangkit listrik, gardu induk, pipeline, terminal migas, kilang minyak dan sumur migas, kapal tanker dan fasilitas lainnya dalam jumlah 366 insiden, di dalam negeri 174 insiden dan di luar negeri 192 insiden (Lovins,2001).



Mengapa Energi untuk Keamanan Nasional

Dapat dibayangkan apabila fasilitas energi mengalami gangguan dalam waktu yang lama seperti listrik blackout, kilang migas berhenti, impor BBM berhenti, karena negara sumber BBM sedang berkonflik, atau fasilitas energi lainnya berhenti beroperasi. Maka akibatnya akan terjadi gejolak stabilitas politik tidak terkendali yang berujung negeri ini akan jatuh ekonominya karena tingkat kepercayaan kepada keamanan nasional menurun, bahkan hilang. Oleh karena itu keamanan energi nasional adalah pilar kekuatan nasional.

Keamanan nasional, menurut Brown (1983), sekretaris pertahanan AS, adalah kemampuan nasional untuk menjaga wilayah teritorial, ekonomi, dan melindungi institusi dan pemerintahan dari gangguan luar. Akan tetapi setelah berakhirnya Perang Dingin (Cold War ) serta di era globalisasi dan keterbukaan, keamanan nasional meliputi stabilitas ekonomi, lingkungan, sistem informasi, dan tidak semata pada batas teritorial (Watson, 2008).



Sebagai perbandingan, konsep keamanan nasional AS berubah setelah tragedi 11 September 2001 dan pada periode presiden George W Bush, keamanan nasional tidak hanya mempertahankan batas teritorial semata, tetapi termasuk melindungi warga negara di luar negeri, melindungi akses dan aset negara.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top