Cara Berpikir Manusia dalam Hiper-koneksivitas

Kamis, 20 Juni 2019 - 07:08 WIB
Cara Berpikir Manusia...
Cara Berpikir Manusia dalam Hiper-koneksivitas
A A A
Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh dan Council AMAN, Bangkok

SALAH satu gejala ma­syarakat dalam Pe­r­adaban Planetari ada­lah hyper-conec­ti­vity (hiper-koneksivitas). Ma­nusia terhubung pikirannya da­lam waktu sangat cepat. Mereka cenderung lebih suka me­res­pons suatu gejala dan me­nuang­kan­nya dalam media so­sial secara cepat. Di sini seolah-olah setiap individu memiliki tanggung ja­wab untuk mem­berikan pan­da­ng­an terhadap fenomena sosial dan budaya. Pikiran orang ter­biar­kan untuk memberikan ko­men­tar, wa­lau­pun kemudian ber­dampak fatal dalam cara berpikir masyarakat itu sendiri. Gejala ini meru­pa­kan akibat dari ke­ter­hu­bungan manusia secara pikiran dalam dunia maya.Saat ini dampak tersebut su­dah mulai dirasakan masya­ra­kat dunia maya. Orang ber­ko­mentar juga untuk menaikkan reputasi, seolah-olah dia begitu penting dalam membangun sebuah ga­gasan di berbagai hal. Istilah pa­ling sering di­mun­culkan adalah pencerahan, ken­dati tujuannya reputasi. Saat ini sudah muncul studi tentang seni reputasi (art of reputation). Kegaduhan dapat tercipta ha­nya disebabkan oleh beberapa penggal kata di media sosial. Kekuatan kalimat yang pendek dalam suatu status me­le­bihi pe­nemuan-penemuan il­miah di per­guruan tinggi. Orang mulai malas membaca sesuatu yang pan­jang dibingkai dengan “bum­bu ilmiah.”

Semakin tinggi reputasi se­seorang, semakin besar ke­kuat­an dan pengaruh kata-kata atau status yang diucapkan dalam media sosial. Akibatnya, ada ke­biasaan baru dalam cara ber­pikir masyarakat saat ini, yaitu mem­baca status-status orang yang memiliki reputasi tinggi. Ka­re­na itu, orang sudah malas mem­baca buku atau karya ilmiah lainnya yang mencapai pu­luhan hingga ratusan ha­laman. Ka­li­mat-kalimat pen­dek itu ter­simpan di dalam me­mo­ri otak manusia. Semakin banyak yang disimpan, semakin besar pula rasa hubungan emo­sional de­ngan orang yang di­baca pi­kir­an­nya dari status mereka.

Tidak mengejutkan mana kala seseorang mampu meng­ha­biskan waktu hanya untuk membaca kalimat-kalimat pen­dek dalam diskusi di media sosial. Adapun yang muncul adalah orang cenderung me­rujuk pada kalimat atau status di media sosial yang memiliki dampak sosial. Uniknya, media massa pun tidak lagi memburu berita secara investigatif. Na­mun, kabar yang diberitakan cu­kup merujuk pada status se­seorang di dinding media sosial. Jadi, sistem pemberitaan di­da­sarkan atas apa kalimat-kalimat pendek pada sesuatu yang di­ang­gap akan “pecah.”

Kekuatan lain dari kalimat-kalimat pendek ini kemudian menghadirkan sistem ka­pi­ta­lisme kata-kata oleh mereka yang menjalankan bisnis da­ring. Kata-kata sudah menjadi bisnis yang amat menjanjikan. Bahkan, iklan bermunculan pada konten yang sering dibaca atau viral. Pada kondisi seperti ini, tampaknya masyarakat bu­kan lagi dicerdaskan oleh media sosial, tetapi menikmati re­ka­yasa kebodohan sosial dipicu oleh bisnis kata-kata, terutama bagi yang memiliki kekuatan di dalam studi artificial intelligence. Rekayasa kebodohan sosial ini berujung pada masyarakat bu­kan semakin tercerahkan, te­tapi semakin tumpul daya kritis dan analitisnya.

Inilah dampak dari cara berpikir masyarakat di era hi­per-koneksivitas dewasa ini. In­formasi yang berawal untuk mencerahkan, namun karena ada rekayasa kebodohan sosial (the scenario of social stupidness ), maka informasi tersebut mem­buat masyarakat semakin ma­las berpikir secara kontemplatif dan imajinatif. Di sini bukan kebodohan untuk melawan ke­pintaran, melainkan ke­bo­doh­an untuk menutup kekuatan pikiran yang berpikir kritis, analitis, intuitif, dan kon­tem­platif. Kondisi cara berpikir ma­syarakat seperti ini, persis se­perti yang diulas dalam karya Da­niel Kahneman, Thinking, Fast and Slow (2013).

Orang cenderung berpikir secara cepat untuk sampai pada kesimpulan semata. Sang krea­tor kata-kata pun lebih tertarik menyajikan kesimpulan ke­tim­bang merangsang orang untuk berpikir. Ketika muncul dam­pak dari cara berpikir pada ke­hi­dupan sosial dan budaya, maka sebenarnya para kreator kata-kata sedang membuat ma­sya­ra­kat berada dalam jamaah ke­bo­dohan sosial. Salah satu tesis yang bisa diturunkan adalah me­dia sosial telah mem­bu­mi­kan kebodohan sosial bagi ma­sya­rakat di era Peradaban Pla­netari (Planetary Civilization). Te­sis ini menyiratkan bahwa te­muan akademik tidak begitu di­minati masyarakat. Para cen­dekiawan pun masuk untuk be­r­­usaha secara aktif mere­ka­yasa kebodohan sosial ini.

Daya berpikir masyarakat saat ini cenderung mencerna informasi untuk kebutuhan emo­si, bukan untuk akal pikiran sehat. Parahnya, para akade­misi malah menimbun ke­bu­tuh­an emosi masyarakat ter­se­but. De­ngan begitu, rekayasa ke­bo­doh­an sosial bukan di­se­babkan oleh kelemahan ber­pi­kir, tetapi ka­rena kebutuhan data dan fakta untuk me­muas­kan kebutuhan emosional ma­syarakat.

Dampaknya adalah be­be­rapa individu merasa menjadi orang penting terhadap ma­sa­lah yang bukan ranah ke­il­mu­an­nya. Orang merasa penting ka­rena fak­tor emosional. Hoaks, dengan de­mi­kian, menjadi sub­kultur dari re­ka­yasa kebodohan sosial sebagai dampak dari orang merasa pen­ting untuk berkomentar ter­ha­dap sesuatu yang bukan bidang disiplin keilmuannya. Orang ber­ilmu ketika terlibat dalam re­kayasa kebodohan sosial, maka dia pun sebenarnya bukan men­jadi orang yang menyelesaikan ma­salah, tetapi menjadi bagian dari masalah sosial.

Upaya menanggulangi ma­salah di atas tentu bukan hal mu­dah. Sebab ketika informasi untuk emosi dikedepankan, ma­ka persoalan ini tidak akan tuntas. Pada hakikatnya, infor­masi untuk mendayagunakan akal pikiran secara kritis. Me­ngembalikan khitah manusia berpikir, maka manusia itu ada karena agenda yang harus di­kampanyekan ulang kepada netizen. Keberadaan manusia berpikir bukan ditopang oleh materi, tetapi ditopang oleh kemampuan untuk mence­rah­kan umat manusia secara kon­ti­nu. Mereka adalah yang ber­pi­kir bahwa ide merupakan ba-gian dari rekayasa peradaban.
(mhd)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Gugatan Paulus Tannos...
Gugatan Paulus Tannos di Singapura Ditolak, KPK: Percepat Proses Ekstradisi ke Indonesia
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Infografis
Menelusuri Jejak 6 Kartel...
Menelusuri Jejak 6 Kartel Paling Kejam dalam Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved