Masalah Ekonomi Dominasi Pemikiran Publik, Ini Komentar Jubir TKN
Selasa, 27 November 2018 - 20:06 WIB
Masalah Ekonomi Dominasi Pemikiran Publik, Ini Komentar Jubir TKN
A
A
A
JAKARTA - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga angkat suara mengenai hasil lembaga survei Median yang menyebut meski Jokowi unggul elektabilitasnya namun sebesar 48,9% masalah ekonomi mendominasi pemikiran publik.
Menurut Arya, pihaknya menghargai hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga survei. "Survei kita hargai baru data tersebut kita lihat dan kita akan mengechek kesesuaian data antar lembaga survei," ujar Arya di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta, Selasa (27/11/2018).
Maksudnya, kata Arya, kesesuaian dilihat berdasarkan satu lembaga survei dengan lembaga survei lainnya. Jika terdapat kesesuaian maka hasil itu dianggap tepat. Sebaliknya, jika hasil satu survei berbeda dengan kebanyakan survei lainnya maka patut diabaikan hasilnya.
Arya berpandangan0 jika dibaca secara statistik maka hasil satu survei dengan survei lain biasanya cenderung konsisten dan melihat gejala ini, Jokowi diangggap konsisten. Karenanya, Arya mengaku tak khawatir dengan langkah Cawapres Sandiaga S Uno yang turun ke pasar akan memengaruhi pemilih.
Politikus Partai Perindo itu menambahkan beda persepsi masyarakat dengan persepsi politik di mana masyarakat cenderung merasakan perubahan ekonomi yang dibangun Jokowi. Sedangkan persepsi politik yakni mempolitisasi ekonomi untuk kepentingan elektoral.
"Beda lho ini bukan presepsi politik. Harga ini berhubugan dengan kehidupan sehari-hari dia dan ini berhubungan dengan inflasi. Kalau berhubungan dengan inflasi artinya itu mereka yang rasakan kalau mereka tidak merasakan adanya kenaikan harga yang signifikan maka surveinya jadi diragukan," pungkasnya.
Menurut Arya, pihaknya menghargai hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga survei. "Survei kita hargai baru data tersebut kita lihat dan kita akan mengechek kesesuaian data antar lembaga survei," ujar Arya di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta, Selasa (27/11/2018).
Maksudnya, kata Arya, kesesuaian dilihat berdasarkan satu lembaga survei dengan lembaga survei lainnya. Jika terdapat kesesuaian maka hasil itu dianggap tepat. Sebaliknya, jika hasil satu survei berbeda dengan kebanyakan survei lainnya maka patut diabaikan hasilnya.
Arya berpandangan0 jika dibaca secara statistik maka hasil satu survei dengan survei lain biasanya cenderung konsisten dan melihat gejala ini, Jokowi diangggap konsisten. Karenanya, Arya mengaku tak khawatir dengan langkah Cawapres Sandiaga S Uno yang turun ke pasar akan memengaruhi pemilih.
Politikus Partai Perindo itu menambahkan beda persepsi masyarakat dengan persepsi politik di mana masyarakat cenderung merasakan perubahan ekonomi yang dibangun Jokowi. Sedangkan persepsi politik yakni mempolitisasi ekonomi untuk kepentingan elektoral.
"Beda lho ini bukan presepsi politik. Harga ini berhubugan dengan kehidupan sehari-hari dia dan ini berhubungan dengan inflasi. Kalau berhubungan dengan inflasi artinya itu mereka yang rasakan kalau mereka tidak merasakan adanya kenaikan harga yang signifikan maka surveinya jadi diragukan," pungkasnya.
(kri)