Tuhan Tidak Mati

Jum'at, 09 Februari 2018 - 07:47 WIB
Tuhan Tidak Mati
Tuhan Tidak Mati
A A A
Faisal Ismail
Guru Besar Pascasarjana FIAI
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Kepada orang yang bersin sa­ja, orang Amerika Se­ri­kat (AS) mengucapkan ”God bless you” (Tuhan mem­ber­ka­timu). Saya sering men­de­ngar ucapan ini dari Ibu Alexan­dra Crapels (salah seorang guru ba­hasa Inggris saya) ketika saya meng­ambil kursus bahasa Ing­gris di English Program for In­ter­nationals di University of South Carolina pada tahun 1986.

Ucapan ”God bless you” se­r­ing pula saya dengar ketika sa­ya melanjutkan kursus bahasa ­Ing­gris di American Language Prog­ram di Columbia Uni­ver­si­ty, New York. Bahkan, saya ke­ti­ka bersin pernah mendapat ucap­an ”God bless you” dari te­man sekelas kursus bahasa Inggris yang saat itu kami duduk ber­sebelahan di ruang kelas.

Poin apa yang ingin saya ka­ta­kan dengan mengemukakan hal se­pele ini? Tuhan disebut ketika orang bersin untuk menebar ke­berkahan kepada sesamanya. Ini berarti Tuhan merupakan acu­an kepercayaan manusia. Vi­si, misi, dan orientasi hidup ma­nusia berpusat pada Tuhan. Teo­sentrisme menjadi dasar pan­dangan hidup manusia.

Contoh sederhana di atas bi­sa dilengkapi dengan contoh yang lebih signifikan dalam ling­k­up kebangsaan dan ke­ne­ga­raan. Sesuai keputusan kong­res tahun 1956, AS memakai mo­to nasional yang berbunyi ”In God We Trust” (Kepada T­u­han Kami Percaya). Lagi, Tuhan sa­ngat dimuliakan, di­agung­kan, dan disanjung pada level ke­bangsaan dan kenegaraan.

Mo­to nasional ini secara jelas ter­lihat pada mata uang AS. Mata uang pertama yang di atas­nya tertera moto ”In God We Trust” adalah koin dua sen edisi 1864. Moto ini baru tertera di uang kertas AS pada tahun 1950-an. Perlu dicatat, moto ”In God We Trust” tidak secara resmi meng­gantikan moto AS yang ber­bunyi ”E Pluribus Unum” (Da­ri Banyak Menjadi Satu).

Sekularisme dan Rasionalisme

Sejak munculnya se­ku­la­ris­me dan rasionalisme, terjadi per­geseran pandangan hidup orang-orang AS dan Barat pada umum­nya. Sekularisme mem­ba­wa masyarakat Barat menjadi ma­syarakat sekuler yang me­mi­sah­kan urusan keagamaan dari urus­an keduniawian.

Nilai ke­ben­daan dan keduniawian lebih di­pentingkan daripada nilai spi­ri­tualitas keagamaan dan ­me­ta­fi­sis. Konsekuensinya, hed­o­nis­me (paham yang hanya me­nge­jar kesenangan duniawi) me­nyeruak dalam kehidupan me­reka. Keadaan ini menyeret ma­syarakat Barat berbudaya dan bermoral permisif, ter­uta­ma di bidang seksualitas.

Free sex, sex expo, free love, erotisme, streap tease, nudist camp, por­no­grafi sejenis majalah Playboy dan Penthouse, aborsi, hidup ber­sa­ma tanpa ikatan per­ni­kah­an sampai punya anak, dan per­nikahan sesama jenis di­te­ri­ma dan dibolehkan. Ukuran dan ni­lai moral diserahkan kepada se­lera subjektif atau kelompok pe­lakunya, bukan lagi di­da­sar­kan pada aturan baku agama dan nilai moral absolut yang ber­sumber dari ajaran Tuhan.

Rasionalisme juga telah me­nye­ret masyarakat Barat me­nem­patkan rasio (akal) sebagai pe­nentu tunggal kebenaran. Ke­benaran yang berbasis kitab suci sekalipun kalau dinilai ber­ten­tangan dengan rasio ditolak oleh penganut rasionalisme. Ba­gi penganut rasionalisme, akal adalah penentu tunggal ke­be­naran dan ukuran baik-buruk pe­rilaku moral manusia. Ra­sio­na­lisme dan sekularisme ber­kem­bang berdampingan.

Peng­anut sekularisme dan ra­sio­na­lis­me tidak mengakui keb­en­ar­an abadi (eternal truth) dan ada­nya Tuhan. Persis seperti di­ung­kap oleh Roderick C Maredith: ”There is no eternal truth, there can be no fixed standard by which we can judge any issue, no way of know­ing what is right or wrong and certainly no God to look to for guidance.” (Tidak ada kebenaran aba­di, tidak ada ukuran yang pas­ti untuk menilai sesuatu, ti­d­ak ada cara untuk mengetahui yang benar dan yang salah, dan ten­tunya tidak ada Tuhan yang bisa memimpin).

Jika sekelompok manusia su­­dah berprinsip ” tidak ada ke­be­­naran abadi, tidak ada ukuran yang pasti untuk menilai se­sua­tu, tidak ada cara untuk me­nge­ta­­hui yang benar dan yang sa­lah, dan tentunya tidak ada T­u­han yang bisa memimpin,” me­re­k­a men­jadi kaum agnostik, ni­hi­lis, bah­k­an ateis. Kepercayaan ke­pa­da Tuhan (iman) sudah ti­dak ada dalam lubuk kesadaran ba­tin mereka.

Sebenarnya, po­ten­si kepercayaan kepada Tu­han ini su­dah diberikan oleh Tu­han da­lam setiap jiwa manusia se­jak la­hir sebagai fitrah (ins­tinct). D­a­lam per­tum­buhan­nya, manusia itu sendiri, orang tua, atau ling­kung­annya yang me­mengaruhi dan mengubah ke­sadaran ke­tu­han­an yang ada da­lam jiwanya itu sehingga men­jadi layu, ke­ring, dan mati.

Me­nyaksikan fe­no­mena ini, Friedrich Nietzsche (1844-1900) berteriak lantang ”Der Gott ist tot” (Tuhan telah mati) di Barat. ”Kematian” Tu­han da­lam lubuk batin k­esa­dar­an ma­nu­sia telah membuat ma­nu­sia men­jadi penganut antro­po­­sen­tris­me yang menem­pat­kan ma­nu­sia sebagai pusat dan pe­­nen­tu segalanya, termasuk ukur­an baik-buruk perilaku mo­ral manusia.

Rasio dan Revelasi

Salah satu sifat Tuhan ada­lah Maha Kekal Abadi. Dialah Sang Pencipta alam semesta dan seisinya. Dialah Zat Yang Ma­ha Gaib, Maha Esa, Maha Kua­sa, Maha Bijaksana, Maha Pe­murah, Maha Pengasih, Ma­ha Penyayang, Maha Pen­g­am­pun, dan sifat Maha lainnya.

Dia­lah yang berhak atas pe­nyem­bahan dan pemujaan. Cara paling mudah untuk me­mer­cayai Tuhan adalah meng­ikuti ajaran rasul/nabi yang me­mang diperintahkan oleh ­Tu­han untuk memberi tahu ma­nu­sia tentang keberadaan-Nya me­la­lui wahyu-Nya. Bagi ma­nu­sia beriman, wahyu (revelasi) di­tem­patkan di atas rasio. Rasio di­gunakan sebagai instrumen un­tuk memperkuat iman. Se­orang bijak mengatakan, man ara­fa nafsahu arafa rabbahu (ba­rang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya).

Tuhan adalah Zat Yang Ma­ha Gaib yang berada di luar alam fi­sik (metafisik) dan rasio tidak mam­pu memikirkan masalah-ma­salah metafisis. Ra­sio ber­si­fat relatif dan nisbi dan hanya da­pat mengetahui hal-hal yang tam­pak di alam fi­sik secara sa­ngat terbatas.

Mi­sal­nya, ma­nu­sia dengan akal­nya tidak mam­pu mengetahui se­luruh isi ruang angkasa. Kaum ma­te­ria­lis, rasionalis, ko­munis, dan ateis telah ”g­a­gal” dalam me­ma­hami dan me­nge­nal Tuhan ka­re­na mereka m­e­nolak wahyu dan hanya meng­gunakan rasio se­bagai ins­trumen untuk me­ma­hami ek­sistensi Tuhan.

Dari ne­geri yang kehidupan rak­yat­nya di­re­sapi oleh nilai-nilai Pan­ca­sila dan agama, kita ku­man­dang­kan kesaksian: Tuhan Ada, Hi­dup, Tidak Mati, Tidak Akan Ma­­t­i. Tuhan Kekal Abadi. Kullu syay in halikun illa wajhahu (se­mua­nya pasti binasa kecuali Allah; QS Al-Qashash: 88).
(nag)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Pengadilan Tinggi Singapura...
Pengadilan Tinggi Singapura Tolak Gugatan Paulus Tanos, Menkum Koordinasi KPK dan Polri
Eks Wakil Kepala BGN...
Eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Masih Syok setelah Jadi Tersangka Korupsi
Bahas RUU Polri, Habiburokhman...
Bahas RUU Polri, Habiburokhman Soroti Polisi Aktif di Ormas
Infografis
Keterbatasan Strategis...
Keterbatasan Strategis USS Abraham Lincoln: Si ’Benteng Terapung’ yang Tidak Kebal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved