Pariwisata yang Bermoral

Selasa, 07 November 2017 - 08:15 WIB
Pariwisata yang Bermoral
Pariwisata yang Bermoral
A A A
Abdul Mu’ti
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah;
Dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PEMERINTAH DKI Jakarta tidak memperpanjang izin (baca: menutup) Hotel Alexis. Penutupan Alexis mendapat dukungan kuat dari masyarakat, khususnya pendukung pasangan Anies-Sandi. Selain untuk memenuhi janji politik, penutupan Alexis dilakukan karena alasan moral.

Alexis disinyalir telah menjadi tempat mesum yang merusak citra Jakarta sebagai ibu kota yang religius dan moralitas masyarakat. Tidak hanya menutup Alexis, pemerintah DKI Jakarta juga akan menertibkan izin hotel dan tempat hiburan serta akan mengembangkan wisata halal.

Berbagai pihak menilai langkah pemerintah DKI akan menurunkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Lebih jauh dengan mengembangkan wisata halal, pemerintah Anies-Sandi dinilai akan melakukan ”islamisasi” Jakarta. Penilaian itu agak berlebihan. Negara seperti Jepang dan Thailand mengembangkan wisata halal untuk menarik lebih banyak wisatawan muslim dari Timur Tengah dan negara-negara lainnya.

Tempat Setan

Berwisata merupakan kebutuhan manusia. Beberapa negara maju bahkan telah menjadikan wisata sebagai hak warga negara. Secara psikologis, berwisata dapat menumbuhkan semangat kerja, inspirasi, dan kebahagiaan. Berwisata yang sering kali disebut dengan tur, rekreasi, pelesir, melancong, piknik, dan sebutan lainnya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.

Istilah rekreasi (Inggris: recreation) mengundang makna penyegaran (refreshing), santai (relaxation), atau ketenangan jiwa (reflection) yang membangkitkan semangat terbarukan dan menemukan ide cerdas untuk hidup yang lebih baik. Secara teologis, berwisata merupakan bagian dari ajaran Islam. ”... Jelajahilah dunia, kemudian perhatikan bagaimana Allah Menghancurkan bangsa-bangsa penguatan.” (QS. 3, Ali Imran: 137).

Pariwisata kemudian menjadi industri jasa yang melayani kebutuhan wisatawan dengan berbagai tujuan. Dilihat dari tujuannya, sekarang ini ada lima jenis pariwisata. Pertama, wisata alam (natural tourism) di mana wisatawan menjelajahi dan menikmati keindahan alam semesta seperti gunung, laut, dan sebagainya. Wisata alam merupakan jenis wisata yang paling populer.

Kedua, wisata jajanan (culinary tourism) di mana wisatawan bertujuan menikmati berbagai menu makanan di restoran berkelas di hotel berbintang dengan menu tingkat dunia. Atau bisa juga di kedai sederhana dengan menu makanan khas daerah yang lezat dan best selera. Wisatawan ingin menikmati suasana kultural khas suatu daerah.

Ketiga, wisata religi (religious tourism) dimana wisatawan berziarah ke makam dan tempat suci, bangunan bersejarah, dan kegiatan ritual. Wisata religius seperti umrah, haji, ziarah ke Yerusalem, Vatikan, dan tempat suci agama dunia yang lainnya tumbuh subur menjadi pelayanan spiritual di tengah kebangkitan kesadaran beragama dan menjadi ”industri spiritual ” yang sangat menjanjikan.

Keempat, wisata kesehatan (medical tourism). Pariwisata jenis ini berkembang seiring dengan bisnis kesehatan, gaya hidup, dan pengobatan. Masyarakat berobat tidak sekedar untuk penyembuhan tetapi juga untuk kenyamanan dan pelesiran. Kelima, wisata kependidikan (educational tourism).

Seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat memerlukan layanan pendidikan yang berkualitas, walaupun dengan biaya yang mahal. Bagi kelas menengah dan elite, pendidikan merupakan bagian dari prestise sosial. Pendidikan dan wisata pendidikan berkembang menjadi industri baru.

Berbagai jenis wisata di atas terintegrasi dengan tiga jenis pelayanan; transportasi, kon­sumsi, dan akomodasi. Keberhasilan bisnis pariwisata sangat ditentukan oleh kemampuan memenuhi pelayanan yang aman dan nyaman baik secara material dan spiritual.

Sayang sekali, pebisnis pariwisata Indonesia belum mampu memenuhi tuntutan pasar. Padahal potensi pariwisata Indonesia sungguh luar biasa. Lebih ironis lagi, istilah pariwisata mengandung makna peyoratif. Narasi dan persepsi pariwisata terkesan sebagai tempat ”SETAN” yaitu Seks bebas, Entertainment yang merusak, Transaksi bisnis dan lobi negatif seperti korupsi dan sejenisnya, Adultery (perzinaan, perselingkuhan), dan Narkotika.

Pemerintah sebagai pemangku kepentingan memiliki wewenang dan tanggung jawab moral untuk mengembangkan pariwisata yang bersih, bermoral, dan menguntungkan.

Wisata Bermoral

Pariwisata tidak sekadar industri untuk menghasilkan uang tetapi pencerminan dari kebudayaan, peradaban dan keadaban bangsa. Di masa depan, industri pariwisata tidak bisa lagi hanya mengandalkan kemolekan alam tetapi juga keelokan budi pekerti. Alam sebagai tempat wisata harus dijaga dan terjaga kebersihan, keaslian, dan keindahannya.

Kebijakan wisata alam tidak boleh merusak kekayaan dan keanekaragaman hayati dan nabati. Aspek konservasi ini sering terkalahkan oleh kepen­tingan komersialisasi. Pengembangan industri pariwisata bermoral harus juga mengedepankan aspek edukasi dalam dua bentuk kebijakan.

Pertama, peningkatan kemampuan dan pelibatan masyarakat dalam mengelola tempat-tempat wisata. Dalam banyak kasus, industri pariwisata menimbulkan limbah alam (kerusakan lingkungan) dan limbah budaya (kerusakan moral). Kedua, tanggung jawab masyarakat dan wisatawan dalam melestarikan alam, menjaga kebersihan, menjaga ketertiban, menciptakan keamanan dan kenyamanan berdasarkan nilai-nilai agama dan budaya masyarakat setempat.

Pariwisata budaya tetap ber­pijak pada perilaku yang berbudaya dan berkeadaban bukan eksploitasi erotisme, mistisisme, dan primitivisme. Pariwisata tidak hanya menjual kekayaan benda-benda antik, bangunan bersejarah, atau gedung-gedung tua. Indonesia juga bisa memasarkan arsitektur modern seperti Dubai menjual Burj Khalifa.

Hotel dan akomodasi disumbangkan sebagai layanan yang mencerminkan namanya. Hotel adalah rumah (home), keramahan (hospitality), dan kebahagiaan (happiness). Hal ini penting agar imaji, persepsi, dan narasi peyoratif masyarakat tentang hotel perlahan-lahan dapat berubah.

Sudah waktunya bangsa Indonesia mengembangkan pariwisata bermoral. Pariwisata ini dikembangkan sebagai industri yang berbasis pada keindahan alam, kekayaan budaya, kebesaran sejarah, kemajuan teknologi, kesantunan budi pekerti, dan keunggulan moral.
(whb)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Dadan Hindayana Cs Korupsi...
Dadan Hindayana Cs Korupsi Tata Kelola MBG, Noel: Memprihatinkan
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved