Siti Aisyah: Pelaku atau Korban?

Selasa, 07 Maret 2017 - 08:07 WIB
Siti Aisyah: Pelaku atau Korban?
Siti Aisyah: Pelaku atau Korban?
A A A
Heru Susetyo
Staf Pengajar Viktimologi Fakultas Hukum Universitas Indonesia/
Sekjen Asosiasi Pengajar Viktimologi Indonesia (APVI)

NAMA Siti Aisyah adalah nama yang amat populer di Indonesia. Banyak orang tua yang menamakan anaknya Aisyah, atau Aishah ataupun Aisha. Ya, karena nama tersebut berasal dari nama istri Nabi Muhammad SAW yang dikenal sangat pintar, cantik, dan juga salehah.

Sayangnya Siti Aisyah yang satu ini berbeda. Ia dicokok Kepolisian Diraja Malaysia pada 13 Februari 2017 kemudian ditahan sampai kini dengan sangkaan yang lumayan seram: sebagai tersangka kasus pembunuhan Kim Jong Nam, kakak satu ayah dari Kim Jong Un, pemimpin tertinggi Korea Utara saat ini.

Ini bukan drama. Ini kejahatan betulan yang terorganisasi. Walau terkesan seperti drama, paling tidak itu yang dirasakan oleh Siti Aisyah.

Wanita asal Serang berusia 25 tahun ini, menurut berita media Malaysia dan pengakuannya kepada perwakilan Indonesia di Malaysia, menyemprotkan cairan ke wajah Kim Jong Nam (pada saat yang sama seorang wanita Vietnam Doan Thi Huang, memegang Kim dari belakang) karena berpikir itu adalah bagian dari reality show (prank) dari sebuah televisi Jepang. Aisyah pun dibayar 400 ringgit Malaysia untuk itu.

Keterangan Aisyah bisa jadi benar, bisa jadi salah. Kita belum bisa memastikan karena proses penyidikan masih berlangsung. Empat terduga pelaku asal Korea Utara juga masih buron. Padahal, tanpa keterangan mereka pembuktian kasus ini kian rumit.

Persidangan pun baru berlangsung sekali, pada 1 Maret 2017, dan sidang berikutnya masih 13 April 2017. Maka, asas presumption of innocence (praduga tidak bersalah) berlaku pada Aisyah. Dia tak dapat dikatakan sebagai bersalah dan patut menerima hukuman, kecuali setelah putusan pengadilan memutuskannya demikian.

Satu persoalan yang kini tersisa adalah, sejauh apa peran Aisyah dalam kasus ini. Bisakah ia sekaligus disebut sebagai korban dalam kasus ini? Tidak semata-mata sebagai tersangka pelaku yang diyakini betul oleh kepolisian Malaysia karena terlihat pada CCTV? Berhakkah ia mendapatkan keringanan atau bahkan penghapusan pidana?

Tipologi Korban
Ilmu viktimologi, alias ilmu yang concern terhadap korban, viktimisasi, dan reaksi masyarakat terhadap viktimisasi, memiliki perspektif sendiri dalam memandang kejahatan maupun korban kejahatan.

Dalam perspektif viktimologi, korban kejahatan memiliki tipologi sendiri, apakah tingkat kerentanannya (victims culpability), tingkat hubungan dengan pelaku kejahatan yang berkontribusi pada terjadinya kejahatan yang menimpa dirinya (victims precipitation) dan tingkat kealpaan korban (victims culpability) dalam hubungannya dengan tindak pidana yang terjadi.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0865 seconds (10.55#12.26)