Jangan Anggap Partai Politik Baru sebagai Musuh

Minggu, 09 Oktober 2016 - 18:23 WIB
Jangan Anggap Partai...
Jangan Anggap Partai Politik Baru sebagai Musuh
A A A
JAKARTA - Rencana pemerintah menjegal partai politik (parpol) baru agar tidak bisa mengusung calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) pada Pemilu 2019 terus menuai kritik.

Peneliti senior Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD), Pipit R Kartawidajaj‎a mengatakan, kehadiran parpol baru yang ingin memunculkan kadernya menjadi pejabat eksekutif tidak bisa dipersempit dengan regulasi.

‎"Karena itu di manapun selalu tumbuh partai baru. Jadi itu tidak bisa dihalangi dengan regulasi semacam apapun kayak di Indonesia," ujar Pipit usai berbicara dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (9/10/2016).

Sebagaimana diketahui, Kementerian Dalam Negeri mengusulkan adanya aturan dalam revisi Undang-undang Pemilu yang menetapkan parpol pengusung capres dan cawapres didasarkan atas hasil Pemilu 2014.

Usulan tersebut disoroti berbagai pihak karena dianggap bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) melalui putusan Nomor 14/PUU-XI/2013 menyatakan pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD termasuk pemilu presiden dan wakil presiden pada tahun 2019 harus dilaksanakan bersamaan.

Putusan tersebut merupakan jawaban MK atas gugatan uji materi Undang-undang Nomor 42 Tahun 2014 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Atas putusan itu, setiap parpol berhak mengusung capres-cawapres pada 2019. (Baca juga: Yusril: Pemerintah Cari Akal Batasi Parpol Usung Capres)

Menurut Pipit, kehadiran parpol baru tidak bisa dimusuhi apalagi dihadang dengan senjata berupa persyaratan ambang batas.

Dia mengatakan, kecenderungan kultur politik di Indonesia‎ selalu berubah. Jadi hak untuk mendirikan parpol tidak bisa dibatasi. Oleh karena itu, kata dia, ‎pemerintah dan DPR tidak bisa melarang parpol baru mengusung capres dan cawapres.

Bahkan, Pipit menilai sah saja jika di suatu daerah dibentuk partai lokal untuk mengusung kader daerah yang dianggap mumpuni memimpin daerahnya.

‎"Setiap warga negara kan punya hak untuk ikut berpartisipasi," katanya. (Baca juga: Parpol Baru Dilarang Nyapres, Parpol Besar Merajalela)
(dam)
Berita Terkait
UU Pemilu Baru Harus...
UU Pemilu Baru Harus Mencegah Oligarki Parpol
Belajar dari 2019, Faktor...
Belajar dari 2019, Faktor Fundamental UU Pemilu Perlu Direvisi
Manik Marganamahendra...
Manik Marganamahendra Harap Partai Perindo Terlibat Susun Revisi UU Pemilu
Tolak Revisi UU Pemilu,...
Tolak Revisi UU Pemilu, Sikap Pemerintah dan Parpol Dinilai Aneh
Gugatan Sistem Proporsional...
Gugatan Sistem Proporsional Terbuka, MK Diminta Libatkan Partai Politik
Cukup dengan PKPU, UU...
Cukup dengan PKPU, UU Pemilu Tidak Harus Direvisi Setiap Mau Pemilu
Berita Terkini
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Penampakan Andri Mulyono...
Penampakan Andri Mulyono Pakai Rompi Tahanan usai Jadi Tersangka Baru Pengadaan Motor Listrik BGN
Kejagung: Tersangka...
Kejagung: Tersangka Andri Mulyono Mark up Pengadaan Motor Listrik BGN
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Refly Harun Pertanyakan...
Refly Harun Pertanyakan Nasib Kasus Roy Suryo Cs: Sudah 30 Kali Wajib Lapor, Kasus Belum Jelas
Infografis
Jangan Anggap Sepele,...
Jangan Anggap Sepele, Ini 4 Penyebab Sakit saat Buang Air Kecil
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved