Utang Pemerintah Naik

Selasa, 07 Juli 2015 - 08:34 WIB
Utang Pemerintah Naik
Utang Pemerintah Naik
A A A
Setelah Yunani dinyatakan bangkrut karena tak bisa membayar utang, kini dibayangi oleh sejumlah negara yang juga dililit utang. Sebut saja Puerto Rico yang sempat kebingungan melunasi utang.

Utang negara Amerika Latin itu tercatat sebesar USD70 miliar, kalau dirupiahkan sekitar Rp910 triliun. Namun, pada detik-detik jatuh tempo, sejumlah utang tersebut berhasil dibayar sehingga nasib Puerto Rico untuk sementara bisa terhindar dari jejak Yunani yang kini tercatat sebagai negara maju yang bangkrut.

Perekonomian Puerto Rico memang sedang bermasalah dalam beberapa tahun terakhir ini, penerimaan pajak semakin mengecil dan tidak sedikit warga yang pindah ke Amerika Serikat (AS) untuk mencari kehidupan yang layak. Sebelumnya, negara yang berada dalam payung persemakmuran AS itu diprediksi bakal tumbang karena utang menumpuk dan kesulitan untuk membayarnya. Untungnya pemerintah Puerto Rico tidak mengibarkan bendera putih tanda menyerah.

Pada awal Juli lalu, sejumlah kewajiban yang jatuh tempo berhasil diselesaikan, di antaranya surat utang (obligasi) sebesar USD645 juta atau sekitar Rp8,3 triliun, pinjaman jangka pendek sebesar USD245 juta atau sebesar Rp3,1 triliun. Meski demikian, pemerintah negara yang berlokasi di Kepulauan Karibia itu belum tenang sebab masih memiliki utang besar yang harus dilunasi tahun depan.

Antara Yunani dan Puerto Rico memang sama-sama bermasalah dalam urusan utang, namun profil kedua negara tersebut mengelola utang berbeda. Selama ini, Yunani boleh dikatakan hidup dari utang karena total utang negeri Dewa Dewi itu terungkap lebih besar dari penghasilan. Begitu utang jatuh tempo menumpuk pemerintah Yunani kelimpungan , dan masyarakat terpecah belah menyikapi langkah pemerintah.

Total utang Yunani mencapai sebesar 340 miliar euro atau sebesar Rp5.000 triliun. Negara yang mengandalkan pendapatan dari pariwisata mulai goyang ketika krisis finansial global 2008 yang berawal dari AS dan menular ke seluruh dunia. Pendapatan dari pariwisata mengecil karena jumlah kunjungan wisatawan ke negara tersebut turun drastis. Kebangkrutan Yunani akibat utang adalah sebuah pelajaran menarik bagi negara yang doyan berutang.

Bagaimana dengan Indonesia dalam enam bulan terakhir di mana jumlah utang terus bertambah? Sebenarnya, utang bertambah tidak bermasalah sepanjang utang tersebut bisa dialokasikan untuk sektor produktif dan pengelolaannya dilakukan secara transparan dengan mematuhi penyelesaian kewajiban yang sudah diatur bersama pemberi utang.

Adapun posisi utang pemerintah Indonesia saat ini mencapai sebesar Rp2.845,25 triliun atau sekitar 24,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) per Mei 2015. Jumlah utang tersebut sebagaimana diakui Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan, Pembiayaan, dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengalami kenaikan sebesar Rp64,28 triliun dari jumlah utang sebesar Rp2.780,97 triliun pada periode Januari-April 2015.

Untuk saat ini, pemerintah tidak khawatir melakukan penambahan utang. Pasalnya, rasio utang terhadap PDB masih tergolong rendah. Rasio utang sekitar 24,7% dari PDB yang tercatat sebesar Rp11.000 triliun. Rasio utang tersebut masih dalam ambang aman. Adapun rincian utang pemerintah meliputi surat berharga negara (SBN) sebesar Rp2.151,58 triliun dan pinjaman sekitar Rp691,66 triliun.

Pernahkah terpikirkan utang pemerintah sebesar itu kalau dibebankan kepada masyarakat maka setiap orang harus menanggung utang sekitar Rp11 juta lebih. Dan, penambahan utang pemerintah diperkirakan bakal semakin kencang ke depan menyusul pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang kian tajam.

Walau pemerintah menyatakan Indonesia masih aman dalam pengelolaan utang, tak sedikit suara-suara kritis yang khawatir utang akan membawa bencana seperti yang dialami Yunani. Namun, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro selalu menepis kekhawatiran dengan fakta bahwa Indonesia tidak pernah terkena isu gagal bayar.

Meski demikian, pemerintah tak boleh lengah apalagi kondisi perekonomian yang melesu bisa menjadi pemicu gagal bayar. Kasus Yunani dan Puerto Rico adalah cermin lebar untuk negara yang memiliki utang besar.
(bhr)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Bonjowi Minta PTUN Jakarta...
Bonjowi Minta PTUN Jakarta Tolak Gugatan UGM Soal Keberatan Putusan Komisi Informasi Pusat
2 Pengusaha Penyuap...
2 Pengusaha Penyuap Noel Ebenezer Cs Divonis 1,5 Tahun Penjara, Lebih Rendah dari Tuntutan Jaksa
Kawal Anggaran Negara,...
Kawal Anggaran Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Tuntas BGN hingga ke Daerah
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved