Waspadai Datangnya Krisis Ekonomi

Jum'at, 12 Juni 2015 - 09:14 WIB
Waspadai Datangnya Krisis...
Waspadai Datangnya Krisis Ekonomi
A A A
ARIES HERU PRASETYO
Ketua Program Sarjana PPM School of Management

Alarm krisis sudah berbunyi nyaring, sekeras nada saat krisis melanda di medio 1998. Sejumlah indikator ekonomi mulai masuk zona merah. Sebut saja rupiah yang perlahan namun pasti menurun ke level Rp13.000-an atau tertekan lebih dari 7% sejak perdagangan awal tahun ini.

Selanjutnya, pergerakan indeks harga saham gabungan yang kembali meninggalkan titik psikologis 5.000. Belum lagi dari sisi cadangan devisa. Hingga pengujung Mei tahun ini, cadangan devisa yang dimiliki pemerintah senilai USD110,8 miliar, lebih rendah dari nilai tahun 2014 sebesar USD110,9 miliar.

Realitas tersebut mau tak mau membuat pilihan jatuh pada peningkatan imbal hasil surat utang negara ke level 8,76% (tertinggi sejak Februari 2014) dan kenaikan credit default swap menjadi 256,5. Runyamnya situasi ekonomi dalam negeri diperburuk dengan dua isu utama baik yang bersifat internasional ataupun nasional. Dari sisi global, dampak tren perdagangan bebas telah membuat perekonomian Indonesia sangat bergantung pada fluktuasi ekonomi dunia.

Sehingga krisis Yunani, perlambatan laju pertumbuhan industri di China, serta wacana peningkatan suku bunga The Fed dalam waktu dekat turut mendera rapor kinerja keuangan dalam negeri. Realitas tersebut semakin kompleks dengan hadirnya beberapa kebijakan dalam negeri termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak. Spontan, laju inflasi terlihat mulai tak terkendali.

Terlebih beberapa saat lagi kita akan memasuki bulan puasa, dimanabayang-bayangkenaikan inflasi mulai menghantui. Ketika produsen tak lagi mampu menahan beban yang berat, beban itu pulalah yang dialihkan kepada konsumen. Namun sampai titik tertentu, ketika pasar tak lagi mampu menanggungnya maka daya beli akan berkurang drastis. Ini berarti excess output industri akan berlimpah ruah. Di sinilah ancaman perlambatan industry akan berujung pada krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Upaya mengatasi krisis kali ini berbeda dengan apa yang pernah dialami pada 1998. Pemerintah perlu mencermati era knowledge economy secara lebih tepat. Pemahaman bahwa peran opini dalam menentukan arah pergerakan pasar sangatlah besar perlu dikaji kembali. Dengan cara itulah ketidakharmonisan kebijakan antarlembaga pemerintah dapat diminimalkan.

Sebagai contoh silang pendapat antara pemerintah dan Bank Indonesia beberapa waktu lalu terkait suku bunga SBI. Kiranya kedua belah pihak sama-sama memahami bahwa ada konsekuensi negatif dari pendapat-pendapat yang dilontarkan. Semua itu berimbas pada opiniyangterjadidipasar. Ketika opini negatif yang didulang, secara otomatis risiko investasi di tanah air akan semakin tinggi.

Fenomena ini mengingatkan kita akan perlunya penerapan good corporate governance (GCG) di semua lembaga atau instansi pemangku ekonomi tanah air. GCG bukanlah sebatas wacana, namun harus menjadi spirit pelaksanaan program di lapangan. Intinya ada pada bagaimana setiap lembaga mampu mengedepankan semangat akuntabilitas publik, transparansi kebijakan, dan prinsip-prinsip kejujuran.

Berpegang pada elemen-elemen tersebut, pekerjaan rumah pemerintah kiranya masih bertumpuk- tumpuk. Ketegasan kepemimpinan yang telah ditunjukkan dinilai belum mampu membawa pasar pada sebuah kepastian ekonomi di masa depan. Kini publik tengah menanti sinkronisasi kebijakan baik antar lembaga maupun hubungan koordinasi pusat dan daerah.

Fokus pada upaya peningkatan penyerapan anggaran harus benar- benar dimonitor secara berkala agar meminimalkan setiap bentuk penyelewengan dana yang mungkin terjadi. Selain itu, langkah strategis juga perlu diarahkan pada upaya penyederhanaan jalur birokrasi untuk menarik perhatian investasi asing dalam jangka panjang.

Sampai saat ini, meski aktivitas investasi asing di pasar modal sudah berada di level 50%, namun hampir sebagian besar masih bersifat jangka pendek. Kehadiran kebijakan insentif di bidang investasi dalam negeri diharapkan mampu memperpanjang eksistensi dana tersebut dalam jangka menengah.

Bila paradigma ini dapat dilakukan, niscaya segenap elemen bangsa akan mampu mematikan alarm krisis secara bersama- sama. Semoga ini dapat menjadi sebuah gerakan moral bangsa agar Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dalam hal kesejahteraan ekonomi menjelang penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN pengujung tahun ini.
(bbg)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Penyidik KPK Datangi...
Penyidik KPK Datangi Rumah Silmy Karim di Jalan Brawijaya Jaksel
Relawan Jokowi Sebut...
Relawan Jokowi Sebut Tudingan Roy Suryo Cs Soal Ijazah Jokowi Menguras Energi
Breaking News! Silmy...
Breaking News! Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK
Copot 3 Pimpinan BGN,...
Copot 3 Pimpinan BGN, Prabowo: Saya Sedih, Mengganti Orang yang Saya Sayangi
Kemenhaj Serahkan Paket...
Kemenhaj Serahkan Paket Daging Dam Jemaah Haji Indonesia untuk Rakyat Palestina
Sepak Bola dan Organisme...
Sepak Bola dan Organisme Kepercayaan
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Ekonomi Paling Heboh di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved