Isu dan Peluang dalam Kerja Sama antara Indonesia-China

Senin, 09 Januari 2023 - 19:43 WIB
loading...
A A A
Pekerja di Indonesia sangat sensitif tentang jumlah orang China daratan yang bekerja di Indonesia. Dan, permasalahan seperti ini sudah sering diembuskan oleh kalangan anti-pekerja asing di Indonesia. Pemerintah harus lebih tegas lagi dalam perekrutan tenaga kerja asing, dalam arti tenaga kerja asing yang direkrut adalah tenaga kerja yang benar-benar profesional dan yang tugasnya tidak bisa digantikan oleh pekerja lokal. Selain itu, pemerintah harus memberi bekal atau pendidikan kepada tenaga lokal, bahwa pekerja profesional asing yang didatangkan dari luar bukan cuma untuk mengerjakan projek mereka saja, tetapi pekerja lokal harus segera belajar teknik mereka, agar suatu hari Indonesia tidak perlu lagi mengimpor tenaga asing dari negara manapun juga. Sehingga, pergesekan antar negara tidak akan terjadi hanya karena masalah tenaga kerja.

Kesimpulan

Indonesia selalu tegas dalam kerja sama dengan negara asing, terutama dalam kerangka BRI. Pemerintah Indonesia melihat BRI sebagai peluang ekonomi untuk memanfaatkan investasi China. Sementara itu, sikap China selalu lebih tertarik untuk mempromosikan perdagangan dan pembangunan infrastruktur China di Indonesia. Proyek lain seperti pembangkit listrik, bendungan, dan jembatan terkait dengan pembangunan infrastruktur Indonesia. Ke depannya dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia, kehadiran China maupun negara besar yang mempunyai dana besar akan sangat berarti untuk Indonesia yang sedang melaju ke landasan pacu pembangunan nasional yang merata dan adil-makmur.

Oleh karena itu proyek bersama China–Indonesia akan menjadi semakin penting. Indonesia saat ini masih kekurangan dana dan teknologi untuk mengembangkan infrastrukturnya, dan karena itu membutuhkan modal dan teknologi China. Meskipun demikian, tidak semua “proyek BRI” akan sesuai dengan kepentingan Indonesia. Namun, Indonesia mungkin harus menerima proyek-proyek tersebut untuk mendapatkan modal yang dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di negara ini.

Selama ini memang selalu terjadi pasang surut dalam hubungan dengan China, dari era Presiden Soekarno, Soeharto, sampai dengan era Joko Widodo. Sentimen anti China memang masih ada di Indonesia meskipun semakin berkurang, karena saat ini sudah semakin banyak sarjana lulusan China yang turut berpartisipasi dalam pembangunan di Indonesia. Akan tetapi, terlalu terpaku pada satu negara, terutama dalam bidang ekonomi juga bukan sesuatu yang positif untuk sebuah negara yang mempunyai sumber daya alam yang banyak.

Untuk itu, pembangunan sumber daya juga harus digencarkan, kesejahteraan masyarakat juga harus ditingkatkan seiring dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Selama pemerintah Indonesia (siapa pun presidennya) lebih condong ke China dalam urusan ekonomi, akan terus ada tekanan politik kepada pemerintah untuk menjaga jarak dengan China, karena alasan dan sebab yang telah ditulis oleh penulis di atas. Masalah ini pada akhirnya akan berdampak buruk pada proyek pembangunan bersama antara China-Indonesia.

Kerja sama dalam kerangka BRI China di Indonesia sangat tergantung pada hubungan baik antara kedua negara. Oleh karena itu, untuk memuluskan kerangka kerja sama dalam BRI dan melanjutkan pembangunan Indonesia yang akhirnya akan menuju ke kesejateraan rakyat Indonesia, isu-isu seperti sentimen dan peningkatan sumber daya manusia harus segera diselesaikan oleh presiden manapun yang akan memimpin Indonesia ke depannya.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
Hadapi Dominasi China...
Hadapi Dominasi China Dalam Ranah Digital, Indonesia Diimbau Waspadai Risiko Ketergantungan
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
Perang Iran Terus Berkobar,...
Perang Iran Terus Berkobar, China Tuding AS Bawa Timur Tengah ke Jurang Maut
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
Rekomendasi
Keonho CORTIS Alami...
Keonho CORTIS Alami Patah Tulang Jelang Tur Solo Perdana
Kronologi Venezuela...
Kronologi Venezuela Simpan 31 Ton Emas di Bank of England tapi Tak Bisa Diambil
Kilas Balik: Lamine...
Kilas Balik: Lamine Yamal Masih Bayi saat Dimandikan Messi, Kini Bentrok di Final Piala Dunia 2026
Berita Terkini
UGM Dinilai Keliru Ajukan...
UGM Dinilai Keliru Ajukan Keberatan ke PTUN Jakarta, Bonjowi Hadirkan Saksi Ahli untuk Meluruskan
Menko PM: SDM Unggul...
Menko PM: SDM Unggul dan Teknologi Kunci Kemajuan Bangsa
KJRI Johor Bahru Bantu...
KJRI Johor Bahru Bantu Biayai Deportasi 90 PMI dari Malaysia ke Batam
Sidang Ijazah Jokowi,...
Sidang Ijazah Jokowi, Kubu Dokter Tifa Desak JPU Serahkan BAP Ahli dan Daftar Barbuk
Cegah Korupsi, Mendagri...
Cegah Korupsi, Mendagri Tito Setuju Kepala Daerah Dapat Bonus dari PAD
Selain Bobby Rizaldi,...
Selain Bobby Rizaldi, Tenaga Ahli hingga Dirjen PKN BPK juga Diperiksa KPK terkait Kasus Bupati Muara Enim
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved