Pernah Ditahan Polisi, Siapa Sangka Jalan Hidup Mengubah Sosok Ini Jadi Jenderal Kopassus
Jum'at, 30 Desember 2022 - 05:56 WIB
loading...
Letjen TNI (Purn) Sutiyoso. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Hidup adalah misteri. Kalimat itu rasanya tepat disematkan kepada Letjen TNI (Purn) Sutiyoso. Pernah tersandung kasus dan ditahan polisi, namun siapa sangka perjalanan hidup mengubahnya menjadi seorang Jenderal Kopassus .
Tak hanya menjadi orang nomor dua di Korps Baret Merah sebagai Wadanjen Kopassus, Sutiyoso juga kelak menjadi orang nomor satu yang menjaga keamanan Ibu Kota Jakarta sebagai Pangdam Jaya. Termasuk menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Dikutip dari buku biografinya “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando” diceritakan, lahir di Desa Pongangan, Gunung Jati, Semarang Jawa Tengah pada 6 Desember 1944, Sutiyoso merupakan anak keenam dari delapan saudara.
Baca juga: Berkat Ucapkan Kalimat Ini, Nyawa Jenderal Sutiyoso Selamat Setelah Dikepung Kombatan GAM
Sejak kecil, Sutiyoso tumbuh menjadi anak yang gemar bermain apa pun tanpa memperdulikan risiko. Kebiasaannya ini kerap kali dianggap sebagai kenakalan atau kebandelan.
Pernah suatu ketika, Sutiyoso menunggang kuda padahal dia masih terlalu kecil. Akibatnya, Sutiyoso jatuh beberapa kali dan pingsan di semak-semak, sementara kudanya pulang sendiri ke rumah. Kejadian itu membuat orang tuanya kelabakan. Meski demikian, kejadian itu tidak membuat Sutiyoso kapok dan hilang nyali. Dia justru kembali menunggang kuda.
Baca juga: 5 Hari Tak Makan, Jenderal Kopassus Ini Nyaris Tewas saat Selamatkan 4 Nyawa Prajuritnya
Hal itu membuat ayahnya, Tjitrodihardjo yang bekerja sebagai guru sekaligus kepala sekolah di SD tempat Sutiyoso bersekolah marah dan menghukumnya dengan keras. Tidak hanya itu, Sutiyoso juga kerap mengganggu anak-anak seumurannya bahkan yang lebih tua di atasnya.
![Pernah Ditahan Polisi, Siapa Sangka Jalan Hidup Mengubah Sosok Ini Jadi Jenderal Kopassus]()
Sutiyoso (tanda panah) saat terjun ke medan operasi Timur Timor (Timtim). Foto/istimewa
Tanpa alasan yang jelas, Sutiyoso kerap mengajak mereka untuk berkelahi. Apalagi kalau ada temannya yang dipukul atau dilecehkan, Sutiyoso akan membela habis-habisan tak perduli dengan risiko yang dihadapinya.
Tamat dari SD, Sutiyoso melanjutkan sekolahnya di SMP yang berada di Kota Semarang. Lokasinya yang jauh membuat Sutiyoso harus indekos. Kondisi ini membuat Sutiyoso tidak lagi dalam pengawasan ketat ayahnya dan semakin leluasa bermain dan berkelahi. Bahkan, tidak jarang Sutiyoso mencari gara-gara dengan mengajak orang untuk berduel. Fisiknya yang prima karena gemar berolahraga membuat Sutiyoso selalu menang setiap kali berkelahi.
Selepas dari SMP, Sutiyoso melanjutkan sekolahnya ke SMA 1 Semarang. Agar tidak indekos, Sutiyoso tinggal bersama ibunya Sumini. Namun hal itu tidak mengubah Sutiyoso, jiwa mudanya yang bergejolak membuat dia semakin sering berkelahi dan menampilkan dirinya sebagai seorang tentara.
Sutiyoso kerap memakai celana tentara bertuliskan KKO, pemberian kakaknya Soesatijo yang merupakan prajurit KKO sekarang bernama Marinir. Bersama gengnya, kenakalan Sutiyoso semakin tidak terbendung. Hal ini membuat kedua orang tuanya risau dan memutuskan untuk memindahkan sekolahnya ke Pontianak, Kalimantan Barat.
Tujuannya untuk memisahkan Sutiyoso dari teman-temannya satu geng yang bengal dan nakal. Di Pontianak, Sutiyoso akan tinggal bersama kakaknya Suparto yang menjadi pejabat di Kalimantan Barat. ”Nak, jangan berkelahi lagi di sana ya!” ucap ibundanya dikutip SINDOnews Jumat (30/12/2022).
Pesan orang tuanya itu dijawab Sutiyoso dengan mengangguk sambil tersenyum. Tak lama tinggal di Pontianak, Sutiyoso sudah menjelajahi daerah tersebut dengan menggunakan mobil Land Rover milik kakaknya. Meski tinggal bersama kakaknya, kegemaran berkelahi tidak bisa hilang.
Tak hanya menjadi orang nomor dua di Korps Baret Merah sebagai Wadanjen Kopassus, Sutiyoso juga kelak menjadi orang nomor satu yang menjaga keamanan Ibu Kota Jakarta sebagai Pangdam Jaya. Termasuk menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Dikutip dari buku biografinya “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando” diceritakan, lahir di Desa Pongangan, Gunung Jati, Semarang Jawa Tengah pada 6 Desember 1944, Sutiyoso merupakan anak keenam dari delapan saudara.
Baca juga: Berkat Ucapkan Kalimat Ini, Nyawa Jenderal Sutiyoso Selamat Setelah Dikepung Kombatan GAM
Sejak kecil, Sutiyoso tumbuh menjadi anak yang gemar bermain apa pun tanpa memperdulikan risiko. Kebiasaannya ini kerap kali dianggap sebagai kenakalan atau kebandelan.
Pernah suatu ketika, Sutiyoso menunggang kuda padahal dia masih terlalu kecil. Akibatnya, Sutiyoso jatuh beberapa kali dan pingsan di semak-semak, sementara kudanya pulang sendiri ke rumah. Kejadian itu membuat orang tuanya kelabakan. Meski demikian, kejadian itu tidak membuat Sutiyoso kapok dan hilang nyali. Dia justru kembali menunggang kuda.
Baca juga: 5 Hari Tak Makan, Jenderal Kopassus Ini Nyaris Tewas saat Selamatkan 4 Nyawa Prajuritnya
Hal itu membuat ayahnya, Tjitrodihardjo yang bekerja sebagai guru sekaligus kepala sekolah di SD tempat Sutiyoso bersekolah marah dan menghukumnya dengan keras. Tidak hanya itu, Sutiyoso juga kerap mengganggu anak-anak seumurannya bahkan yang lebih tua di atasnya.

Sutiyoso (tanda panah) saat terjun ke medan operasi Timur Timor (Timtim). Foto/istimewa
Tanpa alasan yang jelas, Sutiyoso kerap mengajak mereka untuk berkelahi. Apalagi kalau ada temannya yang dipukul atau dilecehkan, Sutiyoso akan membela habis-habisan tak perduli dengan risiko yang dihadapinya.
Tamat dari SD, Sutiyoso melanjutkan sekolahnya di SMP yang berada di Kota Semarang. Lokasinya yang jauh membuat Sutiyoso harus indekos. Kondisi ini membuat Sutiyoso tidak lagi dalam pengawasan ketat ayahnya dan semakin leluasa bermain dan berkelahi. Bahkan, tidak jarang Sutiyoso mencari gara-gara dengan mengajak orang untuk berduel. Fisiknya yang prima karena gemar berolahraga membuat Sutiyoso selalu menang setiap kali berkelahi.
Selepas dari SMP, Sutiyoso melanjutkan sekolahnya ke SMA 1 Semarang. Agar tidak indekos, Sutiyoso tinggal bersama ibunya Sumini. Namun hal itu tidak mengubah Sutiyoso, jiwa mudanya yang bergejolak membuat dia semakin sering berkelahi dan menampilkan dirinya sebagai seorang tentara.
Sutiyoso kerap memakai celana tentara bertuliskan KKO, pemberian kakaknya Soesatijo yang merupakan prajurit KKO sekarang bernama Marinir. Bersama gengnya, kenakalan Sutiyoso semakin tidak terbendung. Hal ini membuat kedua orang tuanya risau dan memutuskan untuk memindahkan sekolahnya ke Pontianak, Kalimantan Barat.
Tujuannya untuk memisahkan Sutiyoso dari teman-temannya satu geng yang bengal dan nakal. Di Pontianak, Sutiyoso akan tinggal bersama kakaknya Suparto yang menjadi pejabat di Kalimantan Barat. ”Nak, jangan berkelahi lagi di sana ya!” ucap ibundanya dikutip SINDOnews Jumat (30/12/2022).
Pesan orang tuanya itu dijawab Sutiyoso dengan mengangguk sambil tersenyum. Tak lama tinggal di Pontianak, Sutiyoso sudah menjelajahi daerah tersebut dengan menggunakan mobil Land Rover milik kakaknya. Meski tinggal bersama kakaknya, kegemaran berkelahi tidak bisa hilang.

Lihat Juga :