Berkat Ucapkan Kalimat Ini, Nyawa Jenderal Sutiyoso Selamat Setelah Dikepung Kombatan GAM
Kamis, 27 Oktober 2022 - 05:35 WIB
loading...
Sepak terjang Letjen TNI (Purn) Sutiyoso dalam dunia militer Indonesia tak perlu diragukan lagi. Bahkan ketika sudah pensiun dari Kopassus yang dijalani sebagian besar hidupnya, Sutiyoso masih tetap turun ke medan operasi. Foto/Okezone
A
A
A
JAKARTA - Sepak terjang Letjen TNI (Purn) Sutiyoso dalam dunia militer Indonesia tak perlu diragukan lagi. Bahkan ketika sudah pensiun dari Kopassus yang dijalani sebagian besar hidupnya, Sutiyoso masih tetap turun ke medan operasi.
Pria kelahiran Semarang yang kenyang dengan pengalaman tempur ini masih bertaruh nyawa di hutan belantara di pedalaman Aceh untuk menunaikan tugas mulia mengabdi kepada negara. Di usianya yang tidak lagi muda, mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengajak sisa-sisa kelompok bersenjata kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Baca juga: Kisah Hendropriyono, Jenderal Kopassus Sergap Petinggi Komunis di Belantara Kalimantan
Sutiyoso yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) terpanggil untuk meredam pergerakan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Nurdin Ismail alias Din Minimi di Aceh. “Saya pikir yang belum aman di Aceh dan Papua. Ini cuma satu kelompok maka saya selesaikan dulu ini,” kenang Sutiyoso dalam kanal YouTube Refly Harun yang dikutip SINDOnews, Kamis (27/10/2022).
Din Minimi merupakan pimpinan kelompok bersenjata mantan anggota GAM paling dicari pascapenandatanganan kesepakatan Helsinki di Finlandia pada 15 Agustus 2005. Sepak terjangnya sangat meresahkan masyarakat dan aparat.
Tidak sedikit masyarakat maupun aparat keamanan yang menjadi korban keganasan kelompok ini. ”Din Minimi, kelompok GAM yang masih ada jumlahnya 120 orang. Nama aslinya Nurdin, sedangkan Minimi itu sebutan senjata tangguh. Sudah empat tahun lebih dia diburu aparat,” ujarnya.
Tak ingin jatuh korban lebih banyak lagi, mantan Wadanjen Kopassus ini memutuskan untuk terjun langsung ke medan operasi. Ditemani dua anak buahnya yakni Kapten Desna dan Sersan Wayan, pria yang dikenal dengan panggilan Bang Yos ini kemudian masuk ke hutan untuk mencari tempat persembunyian Din Minimi.
Pria kelahiran Semarang yang kenyang dengan pengalaman tempur ini masih bertaruh nyawa di hutan belantara di pedalaman Aceh untuk menunaikan tugas mulia mengabdi kepada negara. Di usianya yang tidak lagi muda, mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengajak sisa-sisa kelompok bersenjata kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Baca juga: Kisah Hendropriyono, Jenderal Kopassus Sergap Petinggi Komunis di Belantara Kalimantan
Sutiyoso yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) terpanggil untuk meredam pergerakan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Nurdin Ismail alias Din Minimi di Aceh. “Saya pikir yang belum aman di Aceh dan Papua. Ini cuma satu kelompok maka saya selesaikan dulu ini,” kenang Sutiyoso dalam kanal YouTube Refly Harun yang dikutip SINDOnews, Kamis (27/10/2022).
Din Minimi merupakan pimpinan kelompok bersenjata mantan anggota GAM paling dicari pascapenandatanganan kesepakatan Helsinki di Finlandia pada 15 Agustus 2005. Sepak terjangnya sangat meresahkan masyarakat dan aparat.
Tidak sedikit masyarakat maupun aparat keamanan yang menjadi korban keganasan kelompok ini. ”Din Minimi, kelompok GAM yang masih ada jumlahnya 120 orang. Nama aslinya Nurdin, sedangkan Minimi itu sebutan senjata tangguh. Sudah empat tahun lebih dia diburu aparat,” ujarnya.
Tak ingin jatuh korban lebih banyak lagi, mantan Wadanjen Kopassus ini memutuskan untuk terjun langsung ke medan operasi. Ditemani dua anak buahnya yakni Kapten Desna dan Sersan Wayan, pria yang dikenal dengan panggilan Bang Yos ini kemudian masuk ke hutan untuk mencari tempat persembunyian Din Minimi.
Lihat Juga :