Indonesia Punya Resep Mujarab Lawan Covid-19
Kamis, 09 Juli 2020 - 07:22 WIB
loading...
A
A
A
Pihaknya ingin kembali merenungkan cara hidup sehat yang sudah diwariskan oleh pendahulu. Bahan alam itu akan selalu lebih cepat diterima dan menyatu dengan tubuh. “Ini sudah menjadi hukum alam. Asalkan semua dikonsumi dengan teratur dan rutin. Minimal tiga kali dalam seminggu,” jelasnya.
Selain empon-empon, para peneliti dari Universitas Airlangga juga menemukan obat pencegahan Covid-19. Temuan itu berupa lima kombinasi regimen obat yang berasal dari obat-obat yang sudah beredar di pasaran dan berpotensi menjadi obat bagi pasien Covid-19. Temuan kombinasi obat ini menjadi angin segar bagi penanganan virus corona di Indonesia. Beberapa warga pun terus berburu resep yang tepat karena mereka tak mau diisolasi di rumah sakit. (Baca juga:17 Tahun Buron, Pelarian Maria Lumowa Berakhir di Serbia)
Rektor Universitas Airlangga Prof Mohammad Nasih menuturkan, para peneliti di Universitas Airlangga menemukan lima kombinasi regimen obat. Penemuan regimen itu terdiri atas obat-obat yang sudah beredar di pasaran. Maka itu, obat tersebut bisa langsung digunakan. Kelima regimen kombinasi itu yakni lopinavir/ritonavir dengan azithromicyne, lopinavir/ritonavir dengan doxycycline, lopinavir/ritonavir dengan chlaritromycine, hydroxychloroquine dengan azithromicyne, hydroxychloroquine dengan doxycycline.
Nasih menambahkan, penggunaan lima regimen kombinasi obat itu terjamin dan aman digunakan, lantaran berbahan dari obat yang telah lolos uji klinis fase 3 dan terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Universitas Airlangga, Dr dr Purwati, SpPD, K-PTI FINASIM menjelaskan, semua regimen kombinasi obat Covid-19 itu tidak untuk diperjualbelikan secara bebas di pasaran, sehingga harus benar-benar dijaga. "Belum diperjualbelikan. Ini kolaborasi antara Unair, BNPB, dan juga Badan Intelijen Negara," kata dr Purwati.
Ia melanjutkan, kombinasi regimen obat tersebut memiliki potensi dan efektivitas cukup bagus terhadap daya bunuh virus. Dosis masing-masing obat dalam kombinasi tersebut yaitu 1/5 dan 1/3 lebih kecil dibandingkan dosis tunggalnya, sehingga mengurangi efek toksik dari obat tersebut bila diberikan sebagai obat tunggal. “Kini sudah ada ratusan obat yang sudah diproduksi dan akan disebarkan kepada rumah sakit yang membutuhkan,” jelasnya. (Lihat videonya: Kapal Tak Bisa Sadar, Sapi Dilempar ke Laut)
Selain regimen kombinasi obat yang ditemukan, sejumlah peneliti Unair juga menemukan potensi dalam penelitian stem cell. Pihaknya juga menemukan dua formula yaitu Haematopotic Stem Cells (HSCs) dan Natural Killer (NK) cells yang memiliki fungsi untuk melawan Covid-19.
“Dari hasil uji tantang HSCs ditemukan bahwa setelah 24 jam virus SARS CoV2 isolat Indonesia sudah dapat dieliminasi oleh stem cells tersebut, sedangkan hasil uji tantang NK cells terhadap virus, setelah 72 jam didapatkan sebagian virus dapat diinaktivasi oleh NK cells tersebut,” jelasnya. (Aan Haryono)
Selain empon-empon, para peneliti dari Universitas Airlangga juga menemukan obat pencegahan Covid-19. Temuan itu berupa lima kombinasi regimen obat yang berasal dari obat-obat yang sudah beredar di pasaran dan berpotensi menjadi obat bagi pasien Covid-19. Temuan kombinasi obat ini menjadi angin segar bagi penanganan virus corona di Indonesia. Beberapa warga pun terus berburu resep yang tepat karena mereka tak mau diisolasi di rumah sakit. (Baca juga:17 Tahun Buron, Pelarian Maria Lumowa Berakhir di Serbia)
Rektor Universitas Airlangga Prof Mohammad Nasih menuturkan, para peneliti di Universitas Airlangga menemukan lima kombinasi regimen obat. Penemuan regimen itu terdiri atas obat-obat yang sudah beredar di pasaran. Maka itu, obat tersebut bisa langsung digunakan. Kelima regimen kombinasi itu yakni lopinavir/ritonavir dengan azithromicyne, lopinavir/ritonavir dengan doxycycline, lopinavir/ritonavir dengan chlaritromycine, hydroxychloroquine dengan azithromicyne, hydroxychloroquine dengan doxycycline.
Nasih menambahkan, penggunaan lima regimen kombinasi obat itu terjamin dan aman digunakan, lantaran berbahan dari obat yang telah lolos uji klinis fase 3 dan terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Universitas Airlangga, Dr dr Purwati, SpPD, K-PTI FINASIM menjelaskan, semua regimen kombinasi obat Covid-19 itu tidak untuk diperjualbelikan secara bebas di pasaran, sehingga harus benar-benar dijaga. "Belum diperjualbelikan. Ini kolaborasi antara Unair, BNPB, dan juga Badan Intelijen Negara," kata dr Purwati.
Ia melanjutkan, kombinasi regimen obat tersebut memiliki potensi dan efektivitas cukup bagus terhadap daya bunuh virus. Dosis masing-masing obat dalam kombinasi tersebut yaitu 1/5 dan 1/3 lebih kecil dibandingkan dosis tunggalnya, sehingga mengurangi efek toksik dari obat tersebut bila diberikan sebagai obat tunggal. “Kini sudah ada ratusan obat yang sudah diproduksi dan akan disebarkan kepada rumah sakit yang membutuhkan,” jelasnya. (Lihat videonya: Kapal Tak Bisa Sadar, Sapi Dilempar ke Laut)
Selain regimen kombinasi obat yang ditemukan, sejumlah peneliti Unair juga menemukan potensi dalam penelitian stem cell. Pihaknya juga menemukan dua formula yaitu Haematopotic Stem Cells (HSCs) dan Natural Killer (NK) cells yang memiliki fungsi untuk melawan Covid-19.
“Dari hasil uji tantang HSCs ditemukan bahwa setelah 24 jam virus SARS CoV2 isolat Indonesia sudah dapat dieliminasi oleh stem cells tersebut, sedangkan hasil uji tantang NK cells terhadap virus, setelah 72 jam didapatkan sebagian virus dapat diinaktivasi oleh NK cells tersebut,” jelasnya. (Aan Haryono)
(ysw)
Lihat Juga :