Mengapa Amerika Serikat Selalu Gunakan Standar Ganda dalam Urusan Taiwan?

Rabu, 23 November 2022 - 13:10 WIB
loading...
A A A
Dalam memahami hubungan Republik China (Taiwan) dan AS, kita harus kembali sebelum tahun 1949. Pada saat itu AS tidak peduli dengan Taiwan atau wilayah yang kini menjadi pusat pemerintahan Republik China, tetapi setelah berdirinya Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, keamanan Taiwan menjadi objek perhatian AS. Sampai hari ini, AS merasa mempunyai tanggung jawab moral dalam melindungi pemerintah Republik China dan ingat, bukan Taiwan. AS merasa berhutang kepada sekutunya yang bersama-sama berhasil mengalahkan Jepang dalam Perang Dunia II.

Tentu saja banyak pengamat akan berpikir bahwa AS mendukung Taiwan karena letak geografisnya penting. Namun, penulis percaya bahwa rasa bersalah karena "kehilangan Republik China" di Nanjing dan AS ingin "mempromosikan nilai-nilai Amerika" merupakan salah satu faktor utama dalam bantuan untuk selalu menjaga Republik China di Taiwan. Perlu dicatat di sini bahwa "tanggung jawab moral" AS tidak untuk mengelola atau mengatur Taiwan, tetapi berharap bahwa Taiwan bisa "mengatur negara mereka sendiri dengan cara yang sama seperti orang Amerika mengelola Amerika Serikat" tanpa campur tangan dari China maupun kekuatan lainnya.

Republik China sangat tidak setuju dengan cara AS. Melalui kajian data historis, penulis menemukan bahwa meskipun semua orang percaya bahwa Republik China adalah sekutu setia AS, pada kenyataannya, dalam hal "strategi nasional", "sikap terhadap mainland China atau RRC", "sistem politik yang demokratis di Republik China-Taiwan", "derajat demokrasi" maupun "kebijakan ekonomi", Republik China, setidaknya selama Perang Dingin, tidak seperti yang dilakukan oleh AS terhadap negara lain. Dan Republik China-Taiwan sangat tidak setuju dengan "demokrasi" buatan AS.

Selama Perang Dingin, selain membantu pembangunan ekonomi Taiwan, fokus kebijakan AS adalah melindungi Taiwan, jangan sampai RRC merasa ada peluang untuk melancarkan perang melawan Taiwan. Di sisi lain, AS memang berniat melindungi Taiwan, tapi tidak ingin membantu Taiwan menyerang kembali daratan China. Keputusan Chiang Kai-shek, Presiden Republik China di Taiwan waktu itu untuk "menyerang balik daratan" adalah hambatan utama bagi hubungan antara Taiwan dan AS, karena AS percaya bahwa serangan balik di daratan tidak mungkin berhasil, dan itu akan membuat AS dan RRC saling berhadapan. Oleh karena itu selama Perang Dingin, AS tidak menganggap Taiwan sebagai umpan atau koin yang penting. AS juga yakin Taiwan tidak akan diserang oleh RRC. Karena RRC juga tidak menganggap nilai strategis Taiwan, dan bagi AS Taiwan sama sekali tidak bernilai, kecuali sebagai tempat untuk mempropagandakan anti komunisnya AS.

Ketidaksepakatan atau perbedaan pandangan antara Chiang Kai Shek dan AS adalah posisi Taiwan. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan “counter-ofensif daratan China”. Penulis percaya bahwa untuk AS, "dua negara di kedua sisi Selat Taiwan" (dua China atau satu China, dan satu Taiwan) adalah kebijakan yang cenderung diadopsi AS sebelum pemerintahan Nixon, meskipun AS sudah melakukannya dari dulu tetapi karena alasan politis, sampai saat ini AS belum tentu menyatakannya secara eksplisit.

Seperti kesepakatan tak tertulis dari berbagai negara, negara-negara yang bertikai tidak boleh menyelesaikan perselisihan dengan kekerasan. Jika prinsip ini juga diterapkan di antara China daratan dan Taiwan, maka AS akan selalu merasa memiliki dukungan moral dari internasional untuk membela Taiwan dan melawan China. Tentu saja, logika yang sama berlaku untuk "serangan balik ke daratan", sehingga AS akan menentangnya. Jika tidak, dukungan AS terhadap serangan Chiang Kai-shek di daratan China akan menjadi campur tangan AS dalam perang saudara China.

Akan tetapi, Republik China juga dengan tegas menentang hal ini, karena kebijakan "Satu China" artinya "hanya ada Satu China di dunia, Satu China tentu saja adalah Republik Rakyat China, dan Taiwan adalah bagian dari China." Berdasarkan landasan diplomatik dunia, yang terakhir adalah landasan politik kepemilikan pemerintah Kuomintang atas Taiwan; Pemerintah Chiang Kai Shek menuntut bahwa kenapa prinsip Satu China tidak bisa diartikan bahwa hanya ada satu Republik China-Taiwan yang sah di dunia? Yang bisa mewakili seluruh China? Dan Chiang Kai Shek yakin apabila ada dukungan dan persetujuan AS, semua ini akan menjadi nyata. Dan inilah sebabnya mengapa keturunan China di seluruh dunia menuding bahwa Taiwan menjual diri kepada AS, tanpa mempelajari sejarah dan latar belakang yang membuat semua ini terjadi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Airlangga Bertolak ke...
Airlangga Bertolak ke Shanghai Tanda Tangani Pendirian WAICO
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
Seorang Tentara AS Tewas...
Seorang Tentara AS Tewas di Irak Saat Buang Amunisi Drone Iran yang Jatuh
AS Tak Dapat Lindungi...
AS Tak Dapat Lindungi 50.000 Pasukannya di Timur Tengah dari Persenjataan Iran yang Besar
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
Rekomendasi
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
Prediksi Ngeri Goldman...
Prediksi Ngeri Goldman Sachs: Harga Minyak Brent Bakal Meroket ke USD120 per Barel
Berita Terkini
Cerita Megawati Pergoki...
Cerita Megawati Pergoki Intelijen: Hidup Saya Ini Diinteli Terus
Pakar Hukum: Secara...
Pakar Hukum: Secara Yuridis Pemeriksaan Mantan Jampidsus Tak Perlu Izin Kapolri dan Pejabat Negara Lainnya
Anggaran Rehab-Rekon...
Anggaran Rehab-Rekon Mulai Didistribusikan, Tito Minta K/L Informasikan Rencana Program pada Kepala Daerah
Roy Suryo: Rismon Tak...
Roy Suryo: Rismon Tak Layak Jadi Saksi di Kasus Ijazah Jokowi
Menteri Dody Ungkap...
Menteri Dody Ungkap Masalah Internal Kementerian PU Sangat Serius, Bongkar Berbagai Kasus termasuk Korupsi
OTT di Lombok Barat,...
OTT di Lombok Barat, KPK Sita Barang Bukti Rp9,06 Miliar
Infografis
Angkatan Darat Amerika...
Angkatan Darat Amerika Serikat Incar 'Pasukan Tua' Masuk Militer
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved