Menghidupkan Kembali Nilai-nilai Syafii Maarif melalui Serambi Buya Syafii
Jum'at, 11 November 2022 - 20:13 WIB
loading...
A
A
A
Haedar mengatakan, merayap dari bawah dan berangkat dari nol ini merupakan kisah yang melekat pada perjalanan hidup Buya Syafii. Karena itu, kader yang terlahir di era setelahnya harusnya lebih bersyukur dan lebih mampu mengakses ilmu dengan segala kemudahan yang disediakan oleh zaman.
Ingatan kedua Haedar tentang Buya Syafii adalah sosok yang mampu membungkus ketegasan, rasionalitas dengan humanis. Hal itu tercermin dari keseharian Buya Syafii yang menjalani hidup dengan santai. Meski menjadi tokoh besar, tapi Buya Syafii tidak berjarak dengan realitas, mudah dijangkau oleh siapa pun.
Baca juga: Kisah Hendropriyono Diuji Buya Syafii Maarif soal Terorisme, Hasilnya Bikin Salut!
"Jadi siapa pun itu, tetapi jadi manusia biasa yang memancarkan humanisme. Humanismenya juga biasa, tidak dibuat-buat, dan itulah autentisitas yang selalu diajarkan beliau," kata Haedar.
Pelajar ketiga adalah Buya Syafii merupakan sosok yang mempraktikkan demokrasi dalam sikap egalitarian. Menurut Haedar, tokoh kelahiran Sumpur Kudus, Minangkabau, 31 Mei 1935 itu sangat resah ketika melihat tokoh yang menyuarakan demokrasi, bahkan disebut sebagai tokoh demokrasi, tetapi marah ketika dikritik. Buya Syafii tidak melawan kritik dengan sikap otoritarian, baik otoritarian personal maupun institusional.
"Kunci dari praktik demokrasi adalah ketika negara dan orang di negara itu yang memegang kunci kekuasaan, ketika dikritik bisa lapang hati atau tidak melawan kritik dengan penjara, tidak melawan kritik dengan intimidasi, tidak melawan kritik dengan kriminalisasi alus maupun terbuka," katanya.
Ingatan kedua Haedar tentang Buya Syafii adalah sosok yang mampu membungkus ketegasan, rasionalitas dengan humanis. Hal itu tercermin dari keseharian Buya Syafii yang menjalani hidup dengan santai. Meski menjadi tokoh besar, tapi Buya Syafii tidak berjarak dengan realitas, mudah dijangkau oleh siapa pun.
Baca juga: Kisah Hendropriyono Diuji Buya Syafii Maarif soal Terorisme, Hasilnya Bikin Salut!
"Jadi siapa pun itu, tetapi jadi manusia biasa yang memancarkan humanisme. Humanismenya juga biasa, tidak dibuat-buat, dan itulah autentisitas yang selalu diajarkan beliau," kata Haedar.
Pelajar ketiga adalah Buya Syafii merupakan sosok yang mempraktikkan demokrasi dalam sikap egalitarian. Menurut Haedar, tokoh kelahiran Sumpur Kudus, Minangkabau, 31 Mei 1935 itu sangat resah ketika melihat tokoh yang menyuarakan demokrasi, bahkan disebut sebagai tokoh demokrasi, tetapi marah ketika dikritik. Buya Syafii tidak melawan kritik dengan sikap otoritarian, baik otoritarian personal maupun institusional.
"Kunci dari praktik demokrasi adalah ketika negara dan orang di negara itu yang memegang kunci kekuasaan, ketika dikritik bisa lapang hati atau tidak melawan kritik dengan penjara, tidak melawan kritik dengan intimidasi, tidak melawan kritik dengan kriminalisasi alus maupun terbuka," katanya.
Lihat Juga :