Ahli Masalah PBNU dan Gus Yahya: Seputar R20 yang Disalahpahami
Selasa, 08 November 2022 - 22:14 WIB
loading...
A
A
A
Permohonan maaf dan pertobatan seseorang, hanya mungkin bermakna jika didahului dengan pengakuan. Atas segala tindakan, penafsiran, dan pemaknaan yang bias mengenai ajaran tertentu dari agama. Pengakuan atas klaim dan merasa paling benar menangkap pesan dan kehendak Tuhan. Situasi kejiwaan semacam ini, terbukti paling kuat menghuni ruang-ruang batin terdalam kaum agama. Mematut diri sebagai wakil Tuhan dan juru bicara-Nya.
Apakah kaum agamawan terbebas dari salah dan ambisi? Apakah ajaran hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan, tak ada dalilnya dalam agama? Penaklukan wilayah oleh penguasa beragama tertentu atas wilayah beragama lain, selalu atas nama pesan agama. Pesan hasil penafsiran kaum agamawan pada masanya dan dijadikan landasan para penguasa politik, yang sudah tidak kampatipel di zaman sesudahnya.
Situasi ini sudah berlangsung lama sekali. Selama berdirinya peradaban manusia. Musim berganti tapi para agamawan enggan menyiapkan "run way" yang potensial bagi ruang besar bersama. Ruang bagi semua. Hal ini bisa dimulai dari keberanian kaum agamawan untuk duduk bersama. Berbicara dari hati ke hati. Mengakui secara jujur telah memberi tafsir atas ajaran agama dan mengamalkannya secara deviatif dan menyesatkan.
Diafirmasi Presiden
Karena niat baik dan visi ke depan soal peradaban dan kemanusiaan itu, maka Presiden Joko Widodo memberi afirmasi kepada Gus Yahya. Dari Istana Negara dan dalam kedudukan sebagai Ketua Presidensi G20, Jokowi mengamini inisiatif PBNU. Menerima usulan R20 jadi bagian dari official engagement group dalam kegiatan G20. Tentu saja Jokowi sudah menghitung dari banyak sudut. Termasuk melirik agama sebagai instrumen diplomasi.
Dalam sejumlah kunjungan ke luar negeri, tampak Jokowi membangun kebanggaan tertentu atas kedudukan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Di samping karena posisinya sebagai Ketua Presidensi G20 di tahun 2022, kunjungan dia ke Rusia dan Ukraina, lalu dilanjutkan ke Timur Tengah, juga karena membawa pesan perdamaian dari umat Islam Indonesia. Ia diterima sebagai Saudara Dekat di tujuan-tujuan itu.
Apakah Jokowi menimbang aspek panggung belakang (back-stage) yang tidak tampak di panggung depan (front-stage) oleh mata publik, seperti dalam teori dramaturgi dari Erving Goffman (1959)? Tampaknya Jokowi bukan kritikus bagi PBNU apalagi untuk Gus Yahya. Terbukti, R20 dapat dukungan penuh negara. Kehadiran Kementerian Luar Negeri RI dari awal hingga akhir agenda di Yogyakarta, jadi bukti RI bangga atas forum R20.
Soal kenapa forum R20 tidak menerbitkan resolusi apalagi kecaman atas aksi penyerangan negara tertentu atas negara lainnya, itu memang bukan ranahnya. Di forum ini, paling jauh, hanya mengeluarkan komunike. Komunike Bersama dalam bentuk seruan. Bukankah selama ini aksi kecaman dan dilanjutkan dengan aksi boikot juga tidak pernah jadi jalan keluar? Siapa tahu rekomendasi R20 jadi adendum bagi forum G20? Wallaahu Waliyut Taufiq.
Apakah kaum agamawan terbebas dari salah dan ambisi? Apakah ajaran hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan, tak ada dalilnya dalam agama? Penaklukan wilayah oleh penguasa beragama tertentu atas wilayah beragama lain, selalu atas nama pesan agama. Pesan hasil penafsiran kaum agamawan pada masanya dan dijadikan landasan para penguasa politik, yang sudah tidak kampatipel di zaman sesudahnya.
Situasi ini sudah berlangsung lama sekali. Selama berdirinya peradaban manusia. Musim berganti tapi para agamawan enggan menyiapkan "run way" yang potensial bagi ruang besar bersama. Ruang bagi semua. Hal ini bisa dimulai dari keberanian kaum agamawan untuk duduk bersama. Berbicara dari hati ke hati. Mengakui secara jujur telah memberi tafsir atas ajaran agama dan mengamalkannya secara deviatif dan menyesatkan.
Diafirmasi Presiden
Karena niat baik dan visi ke depan soal peradaban dan kemanusiaan itu, maka Presiden Joko Widodo memberi afirmasi kepada Gus Yahya. Dari Istana Negara dan dalam kedudukan sebagai Ketua Presidensi G20, Jokowi mengamini inisiatif PBNU. Menerima usulan R20 jadi bagian dari official engagement group dalam kegiatan G20. Tentu saja Jokowi sudah menghitung dari banyak sudut. Termasuk melirik agama sebagai instrumen diplomasi.
Dalam sejumlah kunjungan ke luar negeri, tampak Jokowi membangun kebanggaan tertentu atas kedudukan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Di samping karena posisinya sebagai Ketua Presidensi G20 di tahun 2022, kunjungan dia ke Rusia dan Ukraina, lalu dilanjutkan ke Timur Tengah, juga karena membawa pesan perdamaian dari umat Islam Indonesia. Ia diterima sebagai Saudara Dekat di tujuan-tujuan itu.
Apakah Jokowi menimbang aspek panggung belakang (back-stage) yang tidak tampak di panggung depan (front-stage) oleh mata publik, seperti dalam teori dramaturgi dari Erving Goffman (1959)? Tampaknya Jokowi bukan kritikus bagi PBNU apalagi untuk Gus Yahya. Terbukti, R20 dapat dukungan penuh negara. Kehadiran Kementerian Luar Negeri RI dari awal hingga akhir agenda di Yogyakarta, jadi bukti RI bangga atas forum R20.
Soal kenapa forum R20 tidak menerbitkan resolusi apalagi kecaman atas aksi penyerangan negara tertentu atas negara lainnya, itu memang bukan ranahnya. Di forum ini, paling jauh, hanya mengeluarkan komunike. Komunike Bersama dalam bentuk seruan. Bukankah selama ini aksi kecaman dan dilanjutkan dengan aksi boikot juga tidak pernah jadi jalan keluar? Siapa tahu rekomendasi R20 jadi adendum bagi forum G20? Wallaahu Waliyut Taufiq.
(kri)
Lihat Juga :