Kisah Kak Seto Jatuh Cinta pada Anak SMA
Minggu, 04 September 2022 - 08:11 WIB
loading...
A
A
A
Keinginan menikah juga mendapat restu kedua keluarga. Saking senangnya, Kak Seto kemudian bernazar dirinya akan mendongeng di hadapan anak yatim piatu pada hari pernikahan.
Tepat pada 10 Januari 1988, hari bahagia itu tiba. Kak Seto dan Deviana mengucapkan ijab kabul pernikahan di Masjid Sunda Kelapa dilanjutkan dengan resepsi di rumah Deviana dengan adat Jawa.
Kak Seto dan Deviana tak melupakan nazarnya. Keduanya menanggalkan baju pengantin meninggalkan pesta pernikahan menuju Panti Asuhan Muslimin di Kramat Raya. Orang tua, keluarga, dan tamu undangan pun dibuat bingung karena ditinggalkan begitu saja.
Tak lama setelah menikah, doa Kak Seto ingin segera memiliki momongan dikabulkan. Deviana hamil. Kak Seto gembira mengetahuinya mengingat usianya sudah 36 tahun. Kak Seto lalu mengajukan izin cuti kuliah untuk sang istri.
Meski hamil, Deviana setia mendampingi Kak Seto melakukan kegiatan sosial. Suatu waktu, Deviana terpaksa menyeberangi sungai dengan air sebatas pinggang, ketika menemani sang suami mengunjungi anak-anak kembar di daerah yang sulit dijangkau.
Anak sulung Kak Seto dan Deviana akhirnya lahir. Berjenis kelamin perempuan dan diberi nama Eka Putri Duta Sari. Setelahnya juga lahir anak-anak buah cinta Kak Seto-Deviana, yakni Bimo Dwi Putra Utama, Shelomita Kartika Putri Maharani, dan Nindya Putri Catur Permatasari.
Ada kebiasaan unik dalam keluarga Kak Seto dan Deviana. Secara periodik keduanya menggelar sidang umum MPR (Majelis Permusyawaratan Rumah). Di momen ini keluarga berkumpul untuk mengobrol tentang apa saja. Orang tua bisa menyampaikan kritik kepada anak dan sebaliknya, anak boleh mengkritik orang tua.
"Kami mencoba untuk bisa demokratis. Saya pernah mengarang buku Anakku Sahabatku dan Guruku. Anak itu sebagai sahabat tapi juga pengajar untuk hal-hal yang biasa kita lupa, khususnya kebesaran jiwa untuk memaafkan," kata Kak Seto.
Hal lain yang jadi kebiasaan Kak Seto adalah mendongeng sebelum anak-anak tidur. Kak Seto tak pernah melewatkan momen itu selama anak-anaknya belum tidur meski pulang larut dan badannya dalam kondisi capek.
"Saya mendongeng apa saja. Kalau mendongeng saya bisa menari-nari di atas kasur, bisa ngumpet, bisa main guling, lempar-lemparan, atau apa saja," kata Doktor Psikologi UI ini.
Deviana juga suka mendongeng. Biasanya dia mengambil dongeng dari buku tidak seperti Kak Seto yang lebih sering mendongengkan rekaan sendiri.
"Mengurus anak bukan tugas istri sendiri, tapi juga suami," kata Deviana.
Tepat pada 10 Januari 1988, hari bahagia itu tiba. Kak Seto dan Deviana mengucapkan ijab kabul pernikahan di Masjid Sunda Kelapa dilanjutkan dengan resepsi di rumah Deviana dengan adat Jawa.
Kak Seto dan Deviana tak melupakan nazarnya. Keduanya menanggalkan baju pengantin meninggalkan pesta pernikahan menuju Panti Asuhan Muslimin di Kramat Raya. Orang tua, keluarga, dan tamu undangan pun dibuat bingung karena ditinggalkan begitu saja.
Tak lama setelah menikah, doa Kak Seto ingin segera memiliki momongan dikabulkan. Deviana hamil. Kak Seto gembira mengetahuinya mengingat usianya sudah 36 tahun. Kak Seto lalu mengajukan izin cuti kuliah untuk sang istri.
Meski hamil, Deviana setia mendampingi Kak Seto melakukan kegiatan sosial. Suatu waktu, Deviana terpaksa menyeberangi sungai dengan air sebatas pinggang, ketika menemani sang suami mengunjungi anak-anak kembar di daerah yang sulit dijangkau.
Anak sulung Kak Seto dan Deviana akhirnya lahir. Berjenis kelamin perempuan dan diberi nama Eka Putri Duta Sari. Setelahnya juga lahir anak-anak buah cinta Kak Seto-Deviana, yakni Bimo Dwi Putra Utama, Shelomita Kartika Putri Maharani, dan Nindya Putri Catur Permatasari.
Ada kebiasaan unik dalam keluarga Kak Seto dan Deviana. Secara periodik keduanya menggelar sidang umum MPR (Majelis Permusyawaratan Rumah). Di momen ini keluarga berkumpul untuk mengobrol tentang apa saja. Orang tua bisa menyampaikan kritik kepada anak dan sebaliknya, anak boleh mengkritik orang tua.
"Kami mencoba untuk bisa demokratis. Saya pernah mengarang buku Anakku Sahabatku dan Guruku. Anak itu sebagai sahabat tapi juga pengajar untuk hal-hal yang biasa kita lupa, khususnya kebesaran jiwa untuk memaafkan," kata Kak Seto.
Hal lain yang jadi kebiasaan Kak Seto adalah mendongeng sebelum anak-anak tidur. Kak Seto tak pernah melewatkan momen itu selama anak-anaknya belum tidur meski pulang larut dan badannya dalam kondisi capek.
"Saya mendongeng apa saja. Kalau mendongeng saya bisa menari-nari di atas kasur, bisa ngumpet, bisa main guling, lempar-lemparan, atau apa saja," kata Doktor Psikologi UI ini.
Deviana juga suka mendongeng. Biasanya dia mengambil dongeng dari buku tidak seperti Kak Seto yang lebih sering mendongengkan rekaan sendiri.
"Mengurus anak bukan tugas istri sendiri, tapi juga suami," kata Deviana.
(abd)
Lihat Juga :