Soekarno: Pancasila Versus RUU HIP
Senin, 29 Juni 2020 - 21:43 WIB
loading...
A
A
A
Melihat objektivitas dan subjektivitas yang berkembang terkait transformasi gagasan trisila dan ekasila dalam draf RUU HIP adalah sebuah kemunduran berbangsa dan bernegara. Ketidakpekaan yang sengaja di-setting di parlemen itu yang membuat publik gaduh dan panas.
Fatalnya rentetan kejadian semuanya terang benderang, karena adanya stimulisasi oleh aktor intelektual di balik hilangnya konsideran TAP MPRS/XXV/1966 tentang Pembubaran PKI dan Ajaran Komunisme. Ini yang paling berbahaya.
Bisa jadi manuver pengusul RUU HIP memiliki agenda besar untuk melencengkan Pancasila dan Soekarno dalam arti sebenarnya. Mungkin, mereka dengan sebagian yang lain sudah memperlihatkan dirinya sebagai kelompok yang perlahan ingin menggeser ruh dan jiwa rakyat Indonesia. Inilah yang menjadi kewaspadaan kita bersama.
Sekadar menukil ucapan SBY tentang RUU HIP, menyusun sesuatu yang berkaitan dengan ideologi dan dasar negara mesti dilakukan secara hati-hati. Jangan ada ideological clash dan perpecahan bangsa. Jika ada kekeliruan, maka akan berdampak besar terhadap aspek kehidupan bernegara. Pernyataan ini jelas warning keras, bahwa masa depan negeri ini ada dipersimpangan jalan jika para elite politik dan penguasa lemah dalam memahami filosofi bernegara.
Agaknya kita perlu merenungan perjalanan bangsa perhari ini, bahwasanya Pancasila sudah selesai menjadi ideologi seluruh rakyat Indonesia. Mengubah atau mengutak-atik sesuatu yang tidak bermasalah sama dengan perampok ideologi negara. Sudah saatnya negara dikelola dengan baik, jangan jadikan roda pemerintahan berjalan seolah tidak menapak pada filosofi kebangsaannya.
Jadikan rakyat sejahtera, bukan sebaliknya, karena jika kesejahteraan itu lenyap, kekuasaan itulah yang jadi pertaruhannya. Kita lihat saja.
Fatalnya rentetan kejadian semuanya terang benderang, karena adanya stimulisasi oleh aktor intelektual di balik hilangnya konsideran TAP MPRS/XXV/1966 tentang Pembubaran PKI dan Ajaran Komunisme. Ini yang paling berbahaya.
Bisa jadi manuver pengusul RUU HIP memiliki agenda besar untuk melencengkan Pancasila dan Soekarno dalam arti sebenarnya. Mungkin, mereka dengan sebagian yang lain sudah memperlihatkan dirinya sebagai kelompok yang perlahan ingin menggeser ruh dan jiwa rakyat Indonesia. Inilah yang menjadi kewaspadaan kita bersama.
Sekadar menukil ucapan SBY tentang RUU HIP, menyusun sesuatu yang berkaitan dengan ideologi dan dasar negara mesti dilakukan secara hati-hati. Jangan ada ideological clash dan perpecahan bangsa. Jika ada kekeliruan, maka akan berdampak besar terhadap aspek kehidupan bernegara. Pernyataan ini jelas warning keras, bahwa masa depan negeri ini ada dipersimpangan jalan jika para elite politik dan penguasa lemah dalam memahami filosofi bernegara.
Agaknya kita perlu merenungan perjalanan bangsa perhari ini, bahwasanya Pancasila sudah selesai menjadi ideologi seluruh rakyat Indonesia. Mengubah atau mengutak-atik sesuatu yang tidak bermasalah sama dengan perampok ideologi negara. Sudah saatnya negara dikelola dengan baik, jangan jadikan roda pemerintahan berjalan seolah tidak menapak pada filosofi kebangsaannya.
Jadikan rakyat sejahtera, bukan sebaliknya, karena jika kesejahteraan itu lenyap, kekuasaan itulah yang jadi pertaruhannya. Kita lihat saja.
(poe)