Ekologi Politik: Kontestasi Spiritual Ata Modo dalam Konservasi TNK

Jum'at, 05 Agustus 2022 - 17:23 WIB
loading...
A A A
Paradigma religious yang dipraktikkan Ata Modo kerap dianggap sebagai hal tabu oleh pemerintah, bahkan tidak diperhitungkan guna melanggengkan proyek konservasinya. Dalam tataran ekologi politik, cara demikian sepenuhnya dapat dimaklumi, mengingat zona konservasi yang ditetapkan TNK ini dilandaskan pada basis scientific knowledge, yang diorientasikan untuk mengkodifikasi alam sebagai langkah promosi proyek modernisasi wisata Komodo ke pasar dunia (Foster, 2000).

Hal ini dibuktikan dengan menempatkan penilaian pasar atas pengelolaan TNK sebagai prinsip utama, sehingga cara pandang yang demikian akan menggugurkan cara pandang yang lain -cara pandang Ata Modo yang menganggap alam memiliki nilai sakral tidak mendapatkan tempat yang proporsional dalam kebijakan pengelolaan TNK. Dengan demikian, dampak dari sistem komodifikasi ini adalah menjadikan konsep konservasi alam sebagai jembatan untuk merealisasikan keuntungan.

Atas dasar itu, maka penting untuk mendudukkan kembali paradigma religious kelompok indigenous sebagai pijakan utama yang berkaitan langsung dalam aspek tataran konseptualnya.

Hubungan Ata Modo dengan lingkungannya diikat dalam jalinan yang saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Cara pandang masyarakat adat seperti ini secara tidak langsung melibatkan diri secara pro-aktif dan serius dalam menyuarakan perihal kelangsungan dan keberlangsungan harmonisasi kosmos.

Pandangan ini tentu berbeda dalam cara pandang religious pemerintah yang menggunakan kacamata agama dunia, Komodo hanya dipandang sebagai hewan atau satwa purba yang harus dilindungi, tidak lebih dan tidak kurang. Oleh karenanya, pandangan pemerintah semacam ini oleh Samsul Maarif melahirkan tiga aspek hirarkis: supernatural, culture, dan nature.

Maka, kompleksitas persoalan di TNK pada gilirannya bukan hanya soal menyelamatkan alam dari pengaruh aktivitas manusia, melainkan juga krisis paradigma pemerintah yang masih memandang alam sebagai objek. Krisis ini merupakan dampak dari pertentangan dua konsesus ilmiah oleh dua pemikir besar Robert Boyle dan Thomas Hobbes pada abad 17 yang kini kita sebut ‘modern’.

Meminjam perspektif Latour, bahwa memisahkan realitas menjadi alamiah/objek/non-manusia dan yang sosio-kultural/politik/manusia sebetulnya tidak pernah terjadi, sebab nyatanya yang ‘alamiah’ dan ‘sosial’ tetap bertemu dan saling berinteraksi. Cara berfikir modern yang paradoks dalam mengkotak-kotakkan inilah yang kemudian dibantah oleh Latour dengan gerakan purifikasi dibarengi hibridisasi.

Renegosiasi Agenda Konservasi
Ideologi konservasi yang digaungkan oleh TNK, bukanlah ideologi yang lahir dari ruang kosong, melainkan bersangkut paut dengan pola konservasi masa kolonial. Hal ini ditunjukkan dengan adanya hubungan gerakan internasional tentang konservasi di Hindia Belanda pada masa 1800-1940.

Kaitan gerakan Konservasi Internasional dan Hindia Belanda kala itu bukanlah hubungan yang terjadi secara kebetulan, melainkan karena signifikansi pergaulan konservasi internasional para botanis seperti Trueb, Koorders dan Reinwart yang juga terkoneksi dengan Hindia Belanda (Jepson & Whittaker, 2002).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Dari Pulau Terpencil...
Dari Pulau Terpencil ke Dunia yang Lebih Luas, PNM Bangun Ruang Literasi untuk Anak Rinca
Meruorah Jadi Gerbang...
Meruorah Jadi Gerbang Menjelajahi Pesona Komodo dan Flores
Rekomendasi
Presiden Emmanuel Macron...
Presiden Emmanuel Macron dan Istri Nonton Konser BTS di Paris, Penggemar Heboh
Produksi CPO RI Capai...
Produksi CPO RI Capai 53 Juta Ton, Hilirisasi Sawit Perlu Dipercepat
4 Alasan Rakyat AS Marah...
4 Alasan Rakyat AS Marah Besar atas Kematian 2 Tentara dan Kegagalan Melawan Iran
Berita Terkini
Pemerintah Bangun Ekosistem...
Pemerintah Bangun Ekosistem Pendidikan Berkualitas lewat Revitalisasi Sekolah
Seskab Teddy dan Menteri...
Seskab Teddy dan Menteri Ara Sirait Bahas Target Bedah 400.000 Rumah
APH Didorong Usut Tuntas...
APH Didorong Usut Tuntas Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus
Sekjen PKS: Pemilih...
Sekjen PKS: Pemilih Muda Jadi Kunci, Kader Harus Siap Menangkan Pemilu 2029
Viral Dua WNI Diduga...
Viral Dua WNI Diduga Disekap di Myanmar, Polri Lakukan Koordinasi
DPR Minta KPK Transparan...
DPR Minta KPK Transparan Usut Kasus Dugaan Gratifikasi Menhut
Infografis
Daftar 10 Pemain Tersubur...
Daftar 10 Pemain Tersubur dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved