alexametrics

Kerap Disebut Radikal, Ini Penjelasan Ustaz Haikal Hassan

loading...
Kerap Disebut Radikal, Ini Penjelasan Ustaz Haikal Hassan
Ustaz Haikal Hassan. Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Penceramah Haikal Hassanmengaku, dirinya telah menjadi korban dari framing media atas perjuangannya selama ini yang justru dianggap oleh sekelompok pihak sebagai penceramah garis keras atau radikal.

Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Persaudaraan Alumni (PA) 212 itu dalam Bincang Santai Bersama Ustadz Haikal Hassan bertema Wawasan Kebangsaan dan Keislaman Indonesia dan US yang digelar secara virtual oleh Nusantara Foundation dan dipandu Direktur Jamaica Muslim Center, New York, AS, Imam Shamsi Ali, Minggu (28/6/2020) malam.

Dia mengaku heran dengan anggapan bahwa dirinya dicap radikal. Padahal, selama 34 tahun, dirinya mendirikan sebuah yayasan yang bergerak di dalam pemberantasan buta huruf Alquran. (Baca juga; Kesukaran adalah Jalan Menuju Kemudahan)



"Di sana diajarkan ngaji mulai alif, ba' ta', itulah kiprah saya terus. Saya juga seorang konsultan, apa mungkin saya dicap radikal padahal 80 persen lebih klien saya Chinese dan nonmuslim, kok bisa mereka menerima saya. Tapi orang yang baru kenal menganggap saya keras karena framing, (informasinya) dipotong untuk character assasination (pembunuhan karakter)," tuturnya.

Hal ini terjadi, menurut Hassan, sebagai buntut dari gonjang-ganjing politik di Tanah Air. "Ini kesalahan saya karena gonjang-ganjing politik padahal seperti antum ketahui, ini luar biasa framing terjadi," katanya. (Baca juga; Haikal Hassan: Jangan Lagi Panggil Cebong dan Kadrun)

Menurut dia, hal ini terjadi karena di Indonesia gap pendidikan warganya terlampau jauh. Akibatnya, ketika dirinya atau para penceramah lain berbicara kerap kali terjadi kesalahan pemahaman. "Kita bicara ketinggian yang bawah tidak memahami, dan sebaliknya kita bicara rendah tidak dianggap oleh yang di atas," ujarnya.

Haikal juga mengaku heran dengan persepsi negatif seorang ustaz yang masuk atau berbicara ke ranah politik. "Sekarang siapa yang tidak berpolitik? Saya tidak berpolitik, saya tidak anggota parpol, namun saya boleh menyuarakan satu pendapat bahwa saya memilih paslon tertentu," paparnya.

Menurut dia, masyarakat Indonesia umumnya masih belum cukup dewasa dalam menerima perbedaan pilihan politik. Sehingga, ketika ada perbedaan pilihan politik kerap kali muncul anggapan sebagai musuh. "Apa kita yang berlabelkan dai tak boleh menyuarakan sesuatu dan harus terus berada di tengah?" ucapnya heran.

Menarik cerita ke belakang, Haikal Hassan mengaku sedikit ada penyesalan karena saat ini akibat dari perbedaan dukungan politik, dirinya tidak lagi leluasa dalam berdakwah. "Kalau dulu saya bisa dakwah di kalangan teman-teman nonmuslim. Dulu saya diundang (berceramah) di kepengurusan PDIP di Buncit. Sekarang tak satupun mau menengok saya. Ini jadi curhat saya. Ini saya sedikit menyesal," ungkapnya.

Sementara itu, Imam Shamsi Ali pun menanggapi bahwa citra seseorang kerap kali memang sangat tergantung pada framing yang dibangun dan interest masing-masing orang yang memandang. Shamsi Ali mengatakan, politik tidak bisa lepas dari kehidupan. Karena itu, menurutnya setiap orang harus bisa menghormati sebuah perbedaan pilihan politik. "Jangan menyalahkan satu pihak yang memiliki pilihan politik berbeda," tuturnya.

Karena itulah, Shamsi Ali menyebut pentingnya pendidikan. Karena sebenarnya setiap perbedaan yang dialami dalam kehidupan sesungguhnya adalah didorong hak ijtihad masing-masing orang. "Pada zaman Nabi (Muhammad SAW) para sahabat justru dimotivasi untuk berijtihad padahal Nabi masih hidup. Maka ada perbedaan pendapat. Jangan alergi dalam perbedaan. Jadikan perbedaan itu menjadi motivasi timbulnya motivasi-motivasi baru," tuturnya.
(wib)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak