Kecewa Kinerja Menterinya, Resuffle Jadi Pilihan Dilematis Jokowi
Senin, 29 Juni 2020 - 08:07 WIB
loading...
A
A
A
Dalam video pembukaan sidang kabinet paripurna tanggal 18 Juni yang diunggah Biro Pers Setpres kemarin Jokowi mengungkapkan kegeramannya atas kelambanan kinerja para menteri dalam penanganan krisis pandemi Covid-19. Bahkan, dia menyebut bisa saja membubarkan lembaga ataupun melakukan reshuffle jika memang diperlukan untuk penanganan Covid-19. (Baca juga: Fraksi PKS Kecam keras Rencana Israel Caplok Tepi Barat)
“Bisa saja membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya,” katanya dalam video pembukaan sidang kabinet paripurna tanggal 18 Juni yang diunggah Biro Pers Setpres kemarin.
Dia mengatakan bahwa saat ini pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi bisa mencapai -7,5%. Hal ini merupakan kondisi serius yang tidak bisa hanya ditangani secara biasa-biasa saja. Setiap pejabat seharusnya memiliki rasa untuk segera mengatasi krisis. “Perasaan ini harus sama. Kita harus mengerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linier, jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali kita,” ungkapnya.
Jokowi melihat masih banyak jajarannya yang menganggap kondisi sekarang normal. Hal ini terlihat dari kinerja yang biasa-biasa saja. “Saya lihat masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini Apa enggak punya perasaan suasana ini krisis,” tuturnya. (Baca juga: Merasa Petugas Partai, Jokowi Tak Akan Kirim Surat ke DPR)
Dia meminta agar setiap tindakan, keputusan, maupun kebijakan didasarkan pada situasi krisis. Tidak boleh hal ini dianggap sebagai sebuah kenormalan biasa. “Jangan kebijakan yang biasa-biasa saja. Menganggap ini sebuah kenormalan. Apa-apaan ini?,” katanya.
“Bisa saja membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya,” katanya dalam video pembukaan sidang kabinet paripurna tanggal 18 Juni yang diunggah Biro Pers Setpres kemarin.
Dia mengatakan bahwa saat ini pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi bisa mencapai -7,5%. Hal ini merupakan kondisi serius yang tidak bisa hanya ditangani secara biasa-biasa saja. Setiap pejabat seharusnya memiliki rasa untuk segera mengatasi krisis. “Perasaan ini harus sama. Kita harus mengerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linier, jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali kita,” ungkapnya.
Jokowi melihat masih banyak jajarannya yang menganggap kondisi sekarang normal. Hal ini terlihat dari kinerja yang biasa-biasa saja. “Saya lihat masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini Apa enggak punya perasaan suasana ini krisis,” tuturnya. (Baca juga: Merasa Petugas Partai, Jokowi Tak Akan Kirim Surat ke DPR)
Dia meminta agar setiap tindakan, keputusan, maupun kebijakan didasarkan pada situasi krisis. Tidak boleh hal ini dianggap sebagai sebuah kenormalan biasa. “Jangan kebijakan yang biasa-biasa saja. Menganggap ini sebuah kenormalan. Apa-apaan ini?,” katanya.