Kecewa Kinerja Menterinya, Resuffle Jadi Pilihan Dilematis Jokowi
Senin, 29 Juni 2020 - 08:07 WIB
loading...
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku jengkel terhadap kinerja anak buahnya di kabinet selama masa pandemi virus corona (Covid-19). Foto/Koran SINDO/ Edi Purwanto
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengaku jengkel terhadap kinerja anak buahnya di kabinet selama masa pandemi virus corona (Covid-19). Dia pun mengancam tak segan membubarkan lembaga maupun melakukan reshuffle kabinet.
Pengamat komunikasi politik dari Telkom University dan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dedi Kurnia Syah, menilai reshuffle sebenarnya pilihan dilematis bagi Jokowi. Resuffle ini bisa dimaknai dua hal. Pertama, resuffle menunjukkan bahwa Jokowi gagal mengoordinasikan kementerian yang sejak awal terlalu dibangga-banggakan, baik formasi maupun tokoh-tokoh yang dipilih.
Kedua, ada sikap jemawa dari para menteri yang merasa dipilih karena berjasa dalam pemenangan, atau merasa dekat dengan lingkaran Jokowi secara politis. (Baca: Sindir Menteri Jokowi Tak Suka Diskusi, Fachri: Makanya Pendiam Semua)
"Dua hal ini memicu lambannya kinerja atau justru ada pola ketiga, yakni Jokowi gagal mengimplementasikan kepemimpinan kepala negara sehingga kerja kabinet tidak terstruktur dan berjalan sendiri," ujarnya kemarin.
Menurut Dedi, Jokowi pada saat memulai periode kedua menyampaikan peringatan, "Tidak ada visi-misi menteri." Itu sama sekali tidak didengar para menteri itu sendiri. "Meskipun, kerja pemerintah seharusnya kolektif, produktif atau tidaknya bergantung Presiden, kekecewaan Presiden pada menteri, sama saja kecewa pada diri sendiri," katanya.
Pengamat komunikasi politik dari Telkom University dan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dedi Kurnia Syah, menilai reshuffle sebenarnya pilihan dilematis bagi Jokowi. Resuffle ini bisa dimaknai dua hal. Pertama, resuffle menunjukkan bahwa Jokowi gagal mengoordinasikan kementerian yang sejak awal terlalu dibangga-banggakan, baik formasi maupun tokoh-tokoh yang dipilih.
Kedua, ada sikap jemawa dari para menteri yang merasa dipilih karena berjasa dalam pemenangan, atau merasa dekat dengan lingkaran Jokowi secara politis. (Baca: Sindir Menteri Jokowi Tak Suka Diskusi, Fachri: Makanya Pendiam Semua)
"Dua hal ini memicu lambannya kinerja atau justru ada pola ketiga, yakni Jokowi gagal mengimplementasikan kepemimpinan kepala negara sehingga kerja kabinet tidak terstruktur dan berjalan sendiri," ujarnya kemarin.
Menurut Dedi, Jokowi pada saat memulai periode kedua menyampaikan peringatan, "Tidak ada visi-misi menteri." Itu sama sekali tidak didengar para menteri itu sendiri. "Meskipun, kerja pemerintah seharusnya kolektif, produktif atau tidaknya bergantung Presiden, kekecewaan Presiden pada menteri, sama saja kecewa pada diri sendiri," katanya.