Membenahi Jakarta Sepeninggalan Ibu Kota
Senin, 01 Agustus 2022 - 11:09 WIB
loading...
A
A
A
Keempat, kualitas udara Jakarta yang terus masuk terburuk di dunia menjadi pekerjaan rumah utama yang juga harus dituntaskan. Pemerintah DKI Jakarta dapat menerapkan berbagai kebijakan untuk memperbaiki kualitas udara secara signifikan dan mengembangkan transportasi perkotaan rendah karbon.
Selain itu, perluasan pembatasan pergerakan semua jenis kendaraan pribadi (ganjil genap, parkir progresif, jalan berbayar elektronik), peralihan gaya hidup (naik transportasi publik untuk jarak sedang-jauh, jalan kaki/bersepeda untuk jarak dekat), pengembangan kawasan terpadu berbasis transportasi massal (transit oriented development/TOD).
Di samping itu, persyaratan bangunan hijau dan penertiban kawasan industri terhadap emisi gas buangan. Penggunan bahan bakar energi baru terbarukan (listrik, biogas, hidrogen) dimulai dari transportasi publik dan kendaraan operasional pemerintah, serta insentif menarik bagi pengguna kendaraan pribadi.
Kelima, setelah tidak menjadi Ibu Kota, Jakarta tetap mampu sejajar dengan kota-kota pusat dunia, seperti kota New York dengan Washington DC, Shanghai dan Beijing, Mumbai dan New Delhi, Sydney dan Canberra, Putrajaya dan Kuala Lumpur, Sejong dan Seoul, Osaka dan Tokyo. Jakarta dapat dikembangkan sebagai sebagai kota bisnis, keuangan dan perdagangan (Hong Kong, Singapura, Tokyo Raya, London Raya, New York Raya); kota seni-budaya (Paris, Milan, Melbourne, Barcelona); kota ekonomi kreatif digital (Sydney, London, Los Angeles, Seoul).
Kawasan industri secara bertahap harus dikurangi dan pengetatan jenis industrinya yang bersih dan padat modal. Jakarta harus segera berpacu mengejar ketinggalannya dari kota-kota tetangga seperti Singapura, Kuala Lumpur, Sydney, Melbourne, New Delhi, Seoul, Shanghai.
Selain itu, perluasan pembatasan pergerakan semua jenis kendaraan pribadi (ganjil genap, parkir progresif, jalan berbayar elektronik), peralihan gaya hidup (naik transportasi publik untuk jarak sedang-jauh, jalan kaki/bersepeda untuk jarak dekat), pengembangan kawasan terpadu berbasis transportasi massal (transit oriented development/TOD).
Di samping itu, persyaratan bangunan hijau dan penertiban kawasan industri terhadap emisi gas buangan. Penggunan bahan bakar energi baru terbarukan (listrik, biogas, hidrogen) dimulai dari transportasi publik dan kendaraan operasional pemerintah, serta insentif menarik bagi pengguna kendaraan pribadi.
Kelima, setelah tidak menjadi Ibu Kota, Jakarta tetap mampu sejajar dengan kota-kota pusat dunia, seperti kota New York dengan Washington DC, Shanghai dan Beijing, Mumbai dan New Delhi, Sydney dan Canberra, Putrajaya dan Kuala Lumpur, Sejong dan Seoul, Osaka dan Tokyo. Jakarta dapat dikembangkan sebagai sebagai kota bisnis, keuangan dan perdagangan (Hong Kong, Singapura, Tokyo Raya, London Raya, New York Raya); kota seni-budaya (Paris, Milan, Melbourne, Barcelona); kota ekonomi kreatif digital (Sydney, London, Los Angeles, Seoul).
Kawasan industri secara bertahap harus dikurangi dan pengetatan jenis industrinya yang bersih dan padat modal. Jakarta harus segera berpacu mengejar ketinggalannya dari kota-kota tetangga seperti Singapura, Kuala Lumpur, Sydney, Melbourne, New Delhi, Seoul, Shanghai.
(ynt)
Lihat Juga :