Peneliti BRIN Dorong Parpol Usung Kader Andalan Dicalonkan di Pilpres
Senin, 20 Juni 2022 - 19:28 WIB
loading...
Peneliti Ahli Riset BRIN, Prof Siti Zuhro. Foto/Dok LIPI
A
A
A
JAKARTA - Partai politik (parpol) dinilai lebih mementingkan popularitas dan elektabilitas tokoh dalam mencalonkan presiden (capres) di setiap Pilpres. Hal ini dikatakan oleh Peneliti Ahli Riset BRIN, Prof Siti Zuhro.
Baca juga: Pertarungan Digital Jadi Kunci Kemenangan di Pilpres 2024
Menurut dia, parpol harusnya membuat sistem kader yang kuat untuk mencalonkan kadernya di tiap pemilu. Prof Siti juga mengkritik kebiasaan parpol yang memilih capres-cawapres di akhir pendaftaran KPU. Dia pun menyebut, budaya ini akan berlanjut dalam Pilpres 2024.
Baca juga: Pilpres 2024, Pengamat: PDIP Maju Sendiri, Kalah
"Partai-partai politik di Indonesia sudah terbiasa memilih calon di saat yang sudah sangat mepet/genting. Hal ini tampaknya berlanjut sampai saat ini. Mereka berpikir Pilpres masih jauh. Karena itu, nanti-nanti sajalah menetapkan calon," kata Prof Siti, Senin (20/6/2022).
Siti melihat, ada sejumlah pertimbangan yang menjadi alasan parpol mengumumkan capres-cawapres di menit akhir. Salah satunya khawatir calon yang diumumkan tersebut 'masuk angin'.
Siti menilai, idealnya parpol mengusung kadernya dalam setiap kontestasi pemilu. Bukan malah mengandalkan popularitas dan elektabilitas tokoh di survei.
"Idealnya parpol bisa pamer, punya kader-kader andalan yang akan dicalonkan di Pilpres. Demikian juga dengan cara konvensi yang ditempuh partai via proses bottom up juga bagus. Artinya, hak otonom kader tetap dihormati dalam proses seleksi partai," tegas Siti.
Baca juga: Pertarungan Digital Jadi Kunci Kemenangan di Pilpres 2024
Menurut dia, parpol harusnya membuat sistem kader yang kuat untuk mencalonkan kadernya di tiap pemilu. Prof Siti juga mengkritik kebiasaan parpol yang memilih capres-cawapres di akhir pendaftaran KPU. Dia pun menyebut, budaya ini akan berlanjut dalam Pilpres 2024.
Baca juga: Pilpres 2024, Pengamat: PDIP Maju Sendiri, Kalah
"Partai-partai politik di Indonesia sudah terbiasa memilih calon di saat yang sudah sangat mepet/genting. Hal ini tampaknya berlanjut sampai saat ini. Mereka berpikir Pilpres masih jauh. Karena itu, nanti-nanti sajalah menetapkan calon," kata Prof Siti, Senin (20/6/2022).
Siti melihat, ada sejumlah pertimbangan yang menjadi alasan parpol mengumumkan capres-cawapres di menit akhir. Salah satunya khawatir calon yang diumumkan tersebut 'masuk angin'.
Siti menilai, idealnya parpol mengusung kadernya dalam setiap kontestasi pemilu. Bukan malah mengandalkan popularitas dan elektabilitas tokoh di survei.
"Idealnya parpol bisa pamer, punya kader-kader andalan yang akan dicalonkan di Pilpres. Demikian juga dengan cara konvensi yang ditempuh partai via proses bottom up juga bagus. Artinya, hak otonom kader tetap dihormati dalam proses seleksi partai," tegas Siti.
Lihat Juga :