Wakili Penasihat Spiritual Raja Mataram, Menko Airlangga: Leluhur Kita Ajarkan Hidup Rukun
Jum'at, 23 Agustus 2024 - 16:29 WIB
loading...
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto hadir dalam prosesi Saparan Apem Yaa Qawiyyu di Klaten pada Jumat (23/8/2023). (Foto: dok Kemenko Perekonomian)
A
A
A
KLATEN - Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman tradisi dan budaya yang masih terus dijaga turun-temurun, salah satunya yakni Festival Yaa Qawiyyu yang digelar setiap tahun pada bulan safar. Tradisi yang juga disebut Saparan tersebut menjadi momen yang selalu dinanti-nantikan oleh warga di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Tradisi tersebut merupakan puncak acara pembagian lebih dari 6 ton apem yang berasal dari sedekah masyarakat dan disebarkan selepas salat Jumat kepada lebih dari sepuluh ribu khalayak yang berdatangan dari seantero Tanah Air termasuk dari mancanegara.
Dalam prosesi Saparan Apem Yaa Qawiyyu pada Jumat (23/8/2023), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, tradisi pembagian apem adalah simbol dari kekuatan spiritual dan kedermawanan.
”Tradisi pembagian apem sambil melafalkan wirid Yaa Qawiyyu merupakan simbol dari kekuatan spiritual dan kedermawanan yang harus terus kita lestarikan. Yaa Qawiyyu mengajarkan kita akan pentingnya kekuatan doa dan ikhtiar dalam menghadapi berbagai tantangan hidup,” tuturnya.
Tradisi penyebaran penganan yang terbuat dari tepung beras tersebut bermula dari Kyahi Ageng Gribig dan menjadi metode yang praktis dalam menyiarkan Islam di tanah Jawa.
Bernama asli Syekh Wasibagno Timur, Kyahi Ageng Gribig merupakan ulama besar yang gigih menyiarkan ajaran Islam di tanah Jawa dan dikenal masih keturunan dari Raja Majapahit, Brawijaya V. Semasa hidupnya, Kyahi Ageng Gribig merupakan seorang alim ulama yang terkenal dermawan dan tak pernah pelit untuk membagikan ilmu serta hartanya.
"Saat hidup, beliau menjadi amir tanah perdikan di Jatinom. Beliau merupakan penasihat spiritual Raja Mataram Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma," ujar Menko Airlangga yang juga merupakan keturunan dari Kyahi Ageng Gribig.
Tradisi tersebut merupakan puncak acara pembagian lebih dari 6 ton apem yang berasal dari sedekah masyarakat dan disebarkan selepas salat Jumat kepada lebih dari sepuluh ribu khalayak yang berdatangan dari seantero Tanah Air termasuk dari mancanegara.
Dalam prosesi Saparan Apem Yaa Qawiyyu pada Jumat (23/8/2023), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, tradisi pembagian apem adalah simbol dari kekuatan spiritual dan kedermawanan.
”Tradisi pembagian apem sambil melafalkan wirid Yaa Qawiyyu merupakan simbol dari kekuatan spiritual dan kedermawanan yang harus terus kita lestarikan. Yaa Qawiyyu mengajarkan kita akan pentingnya kekuatan doa dan ikhtiar dalam menghadapi berbagai tantangan hidup,” tuturnya.
Tradisi penyebaran penganan yang terbuat dari tepung beras tersebut bermula dari Kyahi Ageng Gribig dan menjadi metode yang praktis dalam menyiarkan Islam di tanah Jawa.
Bernama asli Syekh Wasibagno Timur, Kyahi Ageng Gribig merupakan ulama besar yang gigih menyiarkan ajaran Islam di tanah Jawa dan dikenal masih keturunan dari Raja Majapahit, Brawijaya V. Semasa hidupnya, Kyahi Ageng Gribig merupakan seorang alim ulama yang terkenal dermawan dan tak pernah pelit untuk membagikan ilmu serta hartanya.
"Saat hidup, beliau menjadi amir tanah perdikan di Jatinom. Beliau merupakan penasihat spiritual Raja Mataram Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma," ujar Menko Airlangga yang juga merupakan keturunan dari Kyahi Ageng Gribig.
Lihat Juga :