Resesi Ekonomi Sudah di Depan Mata
Rabu, 24 Juni 2020 - 11:10 WIB
loading...
A
A
A
Rupanya pemerintah meyakini berbagai insentif untuk dunia usaha termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19 dan belanja pemerintah bisa menjadi bahan bakar untuk menghidupkan motor perekonomian.
Untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini, pemerintah hanya memproyeksi sekitar 1% dan skenario terburuknya berada di level minus 0,4%. Pemerintah harus bersiap dengan skenario terburuk menyusul proyeksi sejumlah lembaga internasional terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tak sampai 1%.
Sebelumnya pemerintah memasang angka pertumbuhan ekonomi pada level negatif 0,4% hingga 2,3%, namun belakangan dikoreksi menjadi sekitar minus 0,4 sampai 1,%. Tantangan pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tetap positif hingga akhir tahun adalah bagaimana menggenjot pertumbuhan pada kuartal ketiga dan keempat. Itu kuncinya.
Bila membandingkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia antara versi pemerintah dan sejumlah lembaga internasional, terjadi perbedaan yang mencolok. Tengok saja proyeksi Organisation for Economic Coorperation and Development (OECD) pada level negatif 2,8% hingga negatif 3,9%, Bank Dunia dipatok 0%, Asian Development Bank (ADB) pada kisaran negatif 1%, dan International Monetary Fund (IMF) pada level 0,5% serta Bloomberg juga pada kisaran 0,5%.
Apa dampaknya bila terjadi resesi ekonomi? Satu di antara dampak paling mengerikan adalah meroketnya angka pengangguran yang akan berujung meningkatnya angka kemiskinan. Jangankan pengaruh resesi ekonomi, saat ini angka pengangguran terus bergerak naik karena dampak pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat kehilangan pekerjaan. Adapun tingkat pengangguran terbuka (TPT) berpotensi mencapai 10,7 juta sampai 12,7 juta orang pada 2021.
Untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini, pemerintah hanya memproyeksi sekitar 1% dan skenario terburuknya berada di level minus 0,4%. Pemerintah harus bersiap dengan skenario terburuk menyusul proyeksi sejumlah lembaga internasional terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tak sampai 1%.
Sebelumnya pemerintah memasang angka pertumbuhan ekonomi pada level negatif 0,4% hingga 2,3%, namun belakangan dikoreksi menjadi sekitar minus 0,4 sampai 1,%. Tantangan pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tetap positif hingga akhir tahun adalah bagaimana menggenjot pertumbuhan pada kuartal ketiga dan keempat. Itu kuncinya.
Bila membandingkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia antara versi pemerintah dan sejumlah lembaga internasional, terjadi perbedaan yang mencolok. Tengok saja proyeksi Organisation for Economic Coorperation and Development (OECD) pada level negatif 2,8% hingga negatif 3,9%, Bank Dunia dipatok 0%, Asian Development Bank (ADB) pada kisaran negatif 1%, dan International Monetary Fund (IMF) pada level 0,5% serta Bloomberg juga pada kisaran 0,5%.
Apa dampaknya bila terjadi resesi ekonomi? Satu di antara dampak paling mengerikan adalah meroketnya angka pengangguran yang akan berujung meningkatnya angka kemiskinan. Jangankan pengaruh resesi ekonomi, saat ini angka pengangguran terus bergerak naik karena dampak pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat kehilangan pekerjaan. Adapun tingkat pengangguran terbuka (TPT) berpotensi mencapai 10,7 juta sampai 12,7 juta orang pada 2021.
Lihat Juga :