Mitigasi Perubahan Iklim, 'Now or Never'!

Selasa, 07 Juni 2022 - 10:28 WIB
loading...
A A A
Perusahaan data analitik berbasis di Inggris, YouGov, menyurvei 23 negara di dunia, termasuk Indonesia, mengenai negara yang memperhatikan perubahan iklim. Hasil dari survei tersebut menempatkan masyarakat Indonesia di urutan tertinggi yang tidak percaya pemanasan global dipicu oleh ulah/tindakan/aktivitas manusia. Rendahnya literasi ilmu pengetahuan atau sains masyarakat Indonesia ditengarai menjadi minimnya kesadaran masyarakat terhadap kerusakan lingkungan.

Menurut Pike, dkk. (2010) untuk mengubah keyakinan, asumsi, dan pemikiran terkait lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan kita, sejumlah kesalahan umum pandangan harus diatasi;

(1) Kebanyakan orang mencari bukti yang menegaskan keyakinan yang ada dan cenderung menolak informasi yang kontradiktif (Confirmed-Bias),

(2) mudah untuk mengasumsikan masa depan akan serupa dengan masa lalu, sehingga sulit untuk mengidentifikasi kesalahan dan mengubah perilaku ketika kondisi berubah (Misplaced-Confidence),

(3) kita cenderung percaya hasil yang menguntungkan lebih mungkin terjadi daripada yang tidak diinginkan (Wishful Thinking),

(4) banyak yang memilih untuk bergaul hanya dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama (Belief Polarization).

Kita perlu mengevaluasi kembali beberapa pandangan terhadap dunia yang kita tinggali. Mayoritas dari kita mungkin menerima bahwa pemanasan global sedang terjadi, namun sebagian besar masyarakat justru semakin pasrah, terlebih ketidakmampuan dalam mengatasi pemanasan global. Bahkan orang-orang yang sudah peduli pun mengalami kesulitan.

Peran publik dalam menciptakan perubahan harus dibingkai ulang. Upaya ini dimaksudkan untuk meningkatkan dukungan publik. Keterlibatan publik yang sukses dalam pemanasan global membutuhkan dukungan bersama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, terutama bagi lingkungan.

Bagaimana perubahan dalam pemikiran dan perilaku terjadi? Apa yang diperlukan individu, organisasi, atau masyarakat untuk mengubah praktik mereka?

Terkadang emosi kerap digunakan untuk mengubah perilaku, seperti rasa bersalah, ketakutan, dan rasa malu. Sebagai contoh, menggaungkan pesan mengenai keterbatasan air di sejumlah daerah, hingga perubahan suhu ekstrem yang melanda sejumlah daerah.

Jika taktik ini tidak sukses, apa yang berhasil?Perilaku dibentuk oleh keyakinan dan nilai yang dipegang teguh tentang bagaimana dunia bekerja dan tempat kita di dalamnya. Banyak orang percaya bahwa alam memiliki kapasitas tak terbatas untuk menyediakan sumber daya bagi manusia dan juga kapasitas tak terbatas untuk menyerap limbah. Akibatnya dalam budaya kita menganut model Ambil-Buat-Sampah (Take-Make-Waste Model).

Orang yang menganut pandangan di atas secara otomatis merespons informasi yang tampak kontradiktif dengan mengabaikan, menyangkal, atau menantangnya. Mereka juga terus melakukan kebiasaan menghasilkan emisi, bahkan jika hal tersebut dapat merusak diri sendiri.

Untuk membantu individu, organisasi, dan masyarakat menantang pikiran dan perilaku otomatis mereka, outreach strategic harus memasukkan tiga elemen dasar perubahan. Dari berhenti merokok hingga mempromosikan perusahaan keberlanjutan. Program perubahan perilaku yang sukses menggambarkan bahwa harus ada tekanan, efikasi, dan manfaat yang cukup untuk membuat perubahan yang berarti (Pike dkk, 2010).

Merujuk kepada kisi-kisi di atas, masihkah kita bisa berdiam diri dan berasumsi bahwa bumi dan lingkungan sekitar baik-baik saja?
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Forum Bisnis New York,...
Forum Bisnis New York, RI Dorong Investasi Karbon Hutan Berintegritas Tinggi
Legislator PAN Dorong...
Legislator PAN Dorong Pemerintah Terus Upayakan Transisi Energi Ramah Lingkungan
IISM Dorong Transisi...
IISM Dorong Transisi Energi Berkeadilan bagi Masyarakat
Mengenal Konsep Green...
Mengenal Konsep Green Building dan Manfaat Penerapannya
Rakornas KKMD, Kemenhut...
Rakornas KKMD, Kemenhut Perkuat Kelembagaan Daerah untuk Rehabilitasi Mangrove
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
Transisi Energi Bersih...
Transisi Energi Bersih Didoorong Jadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi
Pakar ITB Soroti Tantangan...
Pakar ITB Soroti Tantangan Sistem Kelistrikan dalam Menghadapi Perubahan Iklim
Rekomendasi
Begini Respons Ruben...
Begini Respons Ruben Onsu Usai Permintaan Maaf Sarwendah Viral
Iran Merudal Kuwait...
Iran Merudal Kuwait dan Bahrain, Balas Pengeboman AS di Pulau Qeshm
Ada Konser hingga Lomba,...
Ada Konser hingga Lomba, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan GBK
Berita Terkini
Kasus Korupsi MBG Jadi...
Kasus Korupsi MBG Jadi Alarm Integritas Yayasan, PFI Dorong Audit dan Pengawasan Ketat
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Penahanan Sudewo Dipindah...
Penahanan Sudewo Dipindah ke Semarang Jelang Sidang Perdana Kasusnya
Mensos Gus Ipul Tegaskan...
Mensos Gus Ipul Tegaskan Tak Ada Zona Aman untuk Korupsi di Kemensos
Alasan Natalius Pigai...
Alasan Natalius Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil
Silmy Karim Cs Ditahan...
Silmy Karim Cs Ditahan KPK, DPR Bakal Minta Penjelasan Kemenimipas
Infografis
Perubahan Iklim Jadikan...
Perubahan Iklim Jadikan Bulan Juli 2023 Waktu Terpanas di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved