Ketika Bumi Berhenti Bersabar

Kamis, 04 Juni 2026 - 09:23 WIB
loading...
Ketika Bumi Berhenti...
Zaenal Abidin, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (2012-2015). Foto/Dok. SINDOnews
A A A
Zaenal Abidin
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia-IDI (2012–2015)
Wakil Ketua Umum PP Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia – MHKI (2024–2027)

DAVID Wallace-Wells membuka bukunya, The Uninhabitable Earth: A Story of the Future, dengan kalimat yang terasa seperti tamparan: "It is worse, much worse, than you think." Buku itu terbit pada 2019. Tujuh tahun kemudian, bumi telah membuktikan bahwa Wallace-Wells tidak berlebihan. Ia bahkan tergolong konservatif.

Januari 2025 bukan sekadar bulan biasa. Layanan Iklim Eropa Copernicus mencatat, bulan itu adalah Januari terpanas dalam sejarah pencatatan manusia, suhu global menyentuh 1,75 derajat Celsius di atas rata-rata era pra-industri. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menegaskan bahwa sebelas tahun terpanas yang pernah dicatat semuanya terjadi dalam rentang 2015 hingga 2025.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebutnya “tanda bahaya besar.” Bagi saya, ini bukan lagi tanda bahaya. Ini adalah alarm yang sudah berbunyi dan kita pilih mematikan tombolnya lalu kembali tidur.

Skenario yang Bukan Fiksi
Wallace-Wells dalam bukunya menyusun “bab-bab bencana”: panas yang mematikan, kelaparan, banjir, kebakaran hutan, perang sumber daya, pandemi baru, hingga keruntuhan ekonomi, semua dikaitkan langsung dengan trajektori pemanasan global yang sedang kita jalani. Yang paling mengguncang, temuan bahwa bencana-bencana itu tidak akan terjadi satu per satu, melainkan bersamaan, saling memperkuat, seperti pasien dengan penyakit multiorgan yang serentak gagal.

Lautan adalah contoh paling fasih tentang betapa dalamnya kerusakan, tersembunyi dari mata telanjang. Pada 2025, sebuah studi yang melibatkan lebih dari 50 ilmuwan memperkirakan bahwa samudra dunia menyerap tambahan sekitar 23 zettajoule energi, setara dengan puluhan tahun konsumsi energi seluruh manusia.

Panas itu tidak menguap. Ia merusak ekosistem laut, mencairkan es kutub, dan mendorong permukaan laut naik 11 sentimeter sejak 1993. Wallace-Wells mengingatkan kita bahwa “lautan adalah penyerap dosa iklim kita.” Tetapi penyerap itu pun kini sudah hampir tidak sanggup lagi menelan.

Polusi gas rumah kaca saat ini berada di level tertinggi dalam 800.000 tahun terakhir. Bukan 80 tahun. Bukan 8.000 tahun. Delapan ratus ribu tahun. Angka ini seharusnya membuat kita terdiam, bukan sekadar mengangguk dalam rapat kebijakan lalu melanjutkan agenda berikutnya.

Indonesia: Bukan di Pinggir, Melainkan di Titik Paling Rentan
Jika Wallace-Wells menulis dari perspektif global dengan latar New York dan Eropa, maka Indonesia adalah “bab yang belum ia tulis”, sebuah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai sepanjang 108.000 kilometer yang berdiri tepat di garis depan bahaya. Bukan karena pilihan, melainkan karena geografi dan ketidakadilan emisi global yang brutal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
Iran, Teokrasi Islam...
Iran, Teokrasi Islam dan Pelajaran bagi Dunia Islam
TNI di Kejaksaan: Antara...
TNI di Kejaksaan: Antara Persepsi Backing, Kepastian Hukum, dan Konsolidasi Negara
Komitmen Berkelanjutan,...
Komitmen Berkelanjutan, Tracon Industri Kolaborasi Tanam 500 Mangrove di Karawang
Singapura Mulai Proyek...
Singapura Mulai Proyek Raksasa Lawan Kenaikan Permukaan Laut
Tingkat Polusi Jakarta...
Tingkat Polusi Jakarta Tertinggi di Dunia
Rekomendasi
Eksepsi Ditolak Hakim,...
Eksepsi Ditolak Hakim, Richard Lee Langsung Minta Penahanannya Ditangguhkan
Proyek Perpanjangan...
Proyek Perpanjangan 3 Peron Rampung, Stasiun Bogor Kini Bisa Layani 12 Rangkaian Kereta
Profil Ismail Elfath,...
Profil Ismail Elfath, Mantan Tukang Protes yang Jadi Wasit Duel Inggris vs Argentina
Berita Terkini
Percepat Proses Pengganti...
Percepat Proses Pengganti Jampidsus, Istana: Diputuskan Pekan Ini
Tito Karnavian: Kemendagri...
Tito Karnavian: Kemendagri dan Pemda Akan Dukung Penuh Optimalisasi Program BSPS
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
KPU Kaji E-Voting, Partai...
KPU Kaji E-Voting, Partai Perindo Ingatkan Kesiapan Sistem Jadi Penentu
Mensesneg Benarkan Kuntadi...
Mensesneg Benarkan Kuntadi Diusulkan Jadi Calon Jampidsus: Iya, Kalau Berdasarkan Suratnya
Penyidik Kortas Tipikor...
Penyidik Kortas Tipikor Datangi Kejagung Bawa Bingkai Foto Dibungkus Kain MU hingga 3 Boks Kontainer
Infografis
Kapasitas Pembangkit...
Kapasitas Pembangkit Listrik Panas Bumi Indonesia Bisa Salip AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved