BMKG Ajak Para Insinyur Indonesia Kolaborasi Hadapi Ancaman Multi Bencana
Senin, 06 Juni 2022 - 14:40 WIB
loading...
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengajak para insinyur Indonesia untuk berkolaborasi menghadapi ancaman multi bencana akibat perubahan iklim ataupun fenomena tektonik-vulkanik. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) , Dwikorita Karnawati mengajak para insinyur Indonesia untuk berkolaborasi menghadapi ancaman multi bencana akibat perubahan iklim ataupun fenomena tektonik-vulkanik. Menurutnya, peran insinyur sangat dibutuhkan dalam upaya mitigasi bencana alam.
"Sebagai negara kepulauan yang terletak di wilayah cincin api dan juga negara seismik aktif, Indonesia rentan terhadap risiko multi-bencana alam baik berupa gempabumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, banjir bandang, banjir rob, puting beliung dan longsor. Realitas ini menjadi tantangan bagi kita semua termasuk para insinyur Indonesia, untuk sama-sama bergotong royong mewujudkan zero victim," ujar Dwikorita dalam Webinar HUT Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ke-70 dikutip Senin (6/6/2022). Baca juga: BMKG: Waspada Dua Hari ke Depan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Sejumlah Perairan
Dwikorita menyebut anugerah letak yang diberikan Tuhan kepada Indonesia tersebut harus disikapi Insinyur Indonesia dengan senantiasa mengedepankan atau mengintegrasikan manajemen risiko bencana dalam setiap pekerjaan perencanaan, pembangunan, operasional dan pemeliharaan infrastruktur dengan menempatkan komunitas masyarakat sebagai mitra aktif.
Upaya pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan literasi perlu dilakukan agar masyarakat dapat pula berpartisipasi dalam menjaga, memelihara bahkan bilamana diperlukan ikut pula mendukung pengoperasian sistem atau infrastruktur yang dibangun. Dengan demikian efektivitas dan keamanan infrastruktur/sistem yang dibangun dapat terwujud secara berkelanjutkan.
"Insinyur juga bertanggung jawab terhadap literasi kebencanaan masyarakat. Masyarakat perlu dikenalkan desain baru bangunan hingga material bangunan yang lebih baik untuk meminimalkan risiko kegagalan bangunan akibat gempa," jelasnya.
Dwikorita mengatakan bahwa perubahan iklim menjadi faktor penguat, mengapa cuaca ekstrem makin sering terjadi di Indonesia. Mulai dari hujan lebat disertai kilat dan petir, siklon tropis, gelombang tinggi, hingga hujan es atau kekeringan panjang.
Karenanya, lanjut dia, perlu upaya mitigasi yang dilakukan seluruh pihak dan lapisan masyarakat secara komprehensif dan terukur guna menahan laju perubahan iklim, beradaptasi dan memitigasi dampaknya. Bila situasi saat ini terus dibiarkan maka kenaikan suhu di seluruh pulau utama di Indonesia mencapai 3.5 hingga 4 derajat celcius pada tahun 2100.
"Sebagai negara kepulauan yang terletak di wilayah cincin api dan juga negara seismik aktif, Indonesia rentan terhadap risiko multi-bencana alam baik berupa gempabumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, banjir bandang, banjir rob, puting beliung dan longsor. Realitas ini menjadi tantangan bagi kita semua termasuk para insinyur Indonesia, untuk sama-sama bergotong royong mewujudkan zero victim," ujar Dwikorita dalam Webinar HUT Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ke-70 dikutip Senin (6/6/2022). Baca juga: BMKG: Waspada Dua Hari ke Depan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Sejumlah Perairan
Dwikorita menyebut anugerah letak yang diberikan Tuhan kepada Indonesia tersebut harus disikapi Insinyur Indonesia dengan senantiasa mengedepankan atau mengintegrasikan manajemen risiko bencana dalam setiap pekerjaan perencanaan, pembangunan, operasional dan pemeliharaan infrastruktur dengan menempatkan komunitas masyarakat sebagai mitra aktif.
Upaya pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan literasi perlu dilakukan agar masyarakat dapat pula berpartisipasi dalam menjaga, memelihara bahkan bilamana diperlukan ikut pula mendukung pengoperasian sistem atau infrastruktur yang dibangun. Dengan demikian efektivitas dan keamanan infrastruktur/sistem yang dibangun dapat terwujud secara berkelanjutkan.
"Insinyur juga bertanggung jawab terhadap literasi kebencanaan masyarakat. Masyarakat perlu dikenalkan desain baru bangunan hingga material bangunan yang lebih baik untuk meminimalkan risiko kegagalan bangunan akibat gempa," jelasnya.
Dwikorita mengatakan bahwa perubahan iklim menjadi faktor penguat, mengapa cuaca ekstrem makin sering terjadi di Indonesia. Mulai dari hujan lebat disertai kilat dan petir, siklon tropis, gelombang tinggi, hingga hujan es atau kekeringan panjang.
Karenanya, lanjut dia, perlu upaya mitigasi yang dilakukan seluruh pihak dan lapisan masyarakat secara komprehensif dan terukur guna menahan laju perubahan iklim, beradaptasi dan memitigasi dampaknya. Bila situasi saat ini terus dibiarkan maka kenaikan suhu di seluruh pulau utama di Indonesia mencapai 3.5 hingga 4 derajat celcius pada tahun 2100.
Lihat Juga :