Menapaki Setapak Perubahan dengan Literasi
Selasa, 26 April 2022 - 07:01 WIB
loading...
Koordinator Jaringan Aktivis Nusantara, Romadhon JASN. Foto/SINDOnews
A
A
A
Romadhon JASN
Koordinator Jaringan Aktivis Nusantara
TWIT Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo tentang peringatan Hari Buku Sedunia atau World Book Day menarik dicermati secara mendalam. Dalam laman Twitter pribadinya, mantan Kabareskrim Polri itu menuliskan sebuah kalimat bijak “rajinlah membaca buku agar terbuka wawasan, memiliki pandangan yang maju ke depan, sehingga kita mampu menghargai perbedaan dan kebhinnekaan".
Intinya, terdapat pesan moral dan makna yang tersirat pada kalimat bijak itu, yaitu tentang pentingnya membaca buku dan kaitannya dengan cara kita menghargai perbedaan dan kebhinnekaan.
Jika ditelisik lebih dalam, sesungguhnya mantan Kapolda Banten itu ingin menjelaskan kepada publik betapa kebhinnekaan kita terancam. Hal tersebut disebabkan minimnya tingkat kemampuan literasi kita sehingga pemikirannya cenderung eksklusif. Lemahnya kemampuan literasi juga menyebabkan seseorang gampang terjerembab, terprovokasi, dan mudah terjebak dalam arus informasi hoaks yang menyesatkan.
Akibat arus informasi yang melimpah ruah juga menyebabkan seseorang enggan untuk sekadar melakukan verifikasi atau "tabayyun" meminjam istilah Al-Qur'an. Akibatnya, disinformasi tak dapat dihindari saking meluapnya narasi-narasi kotor penuh hoaks dan bermuatan SARA menguasai ruang jagat digital.
Koordinator Jaringan Aktivis Nusantara
TWIT Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo tentang peringatan Hari Buku Sedunia atau World Book Day menarik dicermati secara mendalam. Dalam laman Twitter pribadinya, mantan Kabareskrim Polri itu menuliskan sebuah kalimat bijak “rajinlah membaca buku agar terbuka wawasan, memiliki pandangan yang maju ke depan, sehingga kita mampu menghargai perbedaan dan kebhinnekaan".
Intinya, terdapat pesan moral dan makna yang tersirat pada kalimat bijak itu, yaitu tentang pentingnya membaca buku dan kaitannya dengan cara kita menghargai perbedaan dan kebhinnekaan.
Jika ditelisik lebih dalam, sesungguhnya mantan Kapolda Banten itu ingin menjelaskan kepada publik betapa kebhinnekaan kita terancam. Hal tersebut disebabkan minimnya tingkat kemampuan literasi kita sehingga pemikirannya cenderung eksklusif. Lemahnya kemampuan literasi juga menyebabkan seseorang gampang terjerembab, terprovokasi, dan mudah terjebak dalam arus informasi hoaks yang menyesatkan.
Akibat arus informasi yang melimpah ruah juga menyebabkan seseorang enggan untuk sekadar melakukan verifikasi atau "tabayyun" meminjam istilah Al-Qur'an. Akibatnya, disinformasi tak dapat dihindari saking meluapnya narasi-narasi kotor penuh hoaks dan bermuatan SARA menguasai ruang jagat digital.