Berkah Kenaikan Harga Komoditas

Kamis, 17 Maret 2022 - 15:34 WIB
loading...
Berkah Kenaikan Harga Komoditas
Situasi politik global yang sedang bergejolak antara lain imbas dari perang Rusia vs Ukraina membuat harga komoditas andalan Indonesia seperti batubara, nikel, dan kelapa sawit melonjak tajam.
A A A
SITUASI geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian justru memberikan berkah bagi Indonesia. Harga komoditas seperti batubara, nikel, komoditas perkebunan seperti kelapa sawit melonjak tajam. Harga kelapa sawit (CPO) sudah ditransaksikan di level USD2.010 per ton. Permintaan CPO global pun meningkat setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Indonesia sebagai salah satu negara penghasil komoditas yang dibutuhkan dunia tentu menerima berkah berlimpah. Tak hanya CPO, batubara dan nikel olahan juga mengalami lonjakan harga. Nilai ekspor komoditas diperkirakan meningkat menjadi USD172 miliar atau setara dengan proyeksi surplus perdagangan USD7 miliar per bulan.

Sebagai produsen CPO dunia, Indonesia bisa memengaruhi kenaikan harga CPO dunia. Karenanya pemerintah harus memiliki jurus jitu untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas dengan mendorong kinerja ekspor. Karena kinerja ekspor komoditas akan didukung oleh momentum kenaikan harga komoditas dan pemulihan ekonomi global hingga yang diperkirakan hingga akhir tahun ini.

Komoditas utama yang mendorong kinerja ekspor Indonesia masih didominasi sektor yang berasal dari sumber daya alam. Pemerintah perlu memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas lantaran fluktuasi harga komoditas berlaku dalam jangka pendek saja.

Kenaikan harga CPO sudah hampir 200% bila dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi. Sama halnya dengan kenaikan harga batubara yang mencapai ratusan persen sehingga mendorong kenaikan pendapatan negara karena ekspor meningkat. Berkah dari kenaikan harga komoditas juga mendorong terciptanya lapangan kerja yang menyokong peningkatan daya beli dan peningkatan konsumsi masyarakat.

Harga sejumlah komoditas energi dan komoditas lain mencetak rekor akibat konflik di Ukraina. Harga gas alam melonjak ke rekor tertinggi di tengah kekhawatiran pasokan baru setelah Amerika Serikat (AS) mengusulkan embargo minyak mentah Rusia. Adapun harga aluminium dan tembaga mencapai rekor tertinggi di tengah kekhawatiran pasokan sehubungan dengan serangan Rusia ke Ukraina.

Pertumbuhan nilai ekspor komoditas karena membaiknya pasar global akan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Kenaikan harga komoditas juga bisa dijadikan momentum bagi pemerintah untuk memperkuat keuangan negara. Harga acuan batubara di pasar internasional yang tinggi bisa menjadi momentum untuk pemerintah meningkatkan royalti ekspor dari komoditas tersebut.

Pemerintah perlu menaikkan royalti ekspor di tengah kenaikan harga batubara saat ini. Sebab kondisi keuangan negara tertekan utang untuk pembiayaan guna mengatasi dampak pandemi Covid-19. Namun hal itu mesti dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian nasional dan tidak menaikkan besaran royalti batubara untuk kebutuhan domestik yang digunakan sebagai sumber energi. Kenaikan harga batubara otomatis meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor mineral dan batubara (minerba). Lonjakan harga batubara berpotensi bertahan dalam beberapa tahun ke depan seiring dengan upaya pemulihan ekonomi negara-negara konsumen batubara lainnya seperti Amerika Serikat, China, dan negara-negara kawasan Eropa.

Produsen mineral dan batubara domestik perlu juga menggenjot produksi dengan tetap mematuhi kaidah-kaidah pertambangan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jangan sampai ketika produksi batubara dan mineral lainnya digenjot, hal itu justru menimbulkan kerusakan lingkungan.

Kenaikan harga komoditas itu diyakini akan mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. Hal itu pulalah yang diproyeksikan oleh Bank Dunia yang memperkirakan ekonomi Indonesia bisa bertumbuh 5,2% pada tahun ini. Selain peningkatan harga komoditas, permintaan domestik yang tinggi juga makin memperbesar peluang pertumbuhan Indonesia. Meski masih terhantam pandemi gelombang ketiga, tingkat produksi komoditas sudah kembali ke masa sebelum Covid-19 melanda Indonesia.

Pemerintah harus segera merumuskan langkah strategis mengingat salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah ekspor komoditas. Selain itu pertumbuhan ekonomi Indonesia harus diperkuat pula dari ekspor dari sektor manufaktur seperti automotif dan industri pengolahan dan menekan impor.
(bmm)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1578 seconds (11.252#12.26)