Tabayyun, Tradisi Ilmiah Memastikan Suatu Kebenaran
Sabtu, 05 Maret 2022 - 14:08 WIB
loading...
A
A
A
Perspektif Emic
Secara sederhana, perspektif Emic mengacu kepada pandangan dari pihak yang menjadi obyek penelelitian, yang diamati atau menjadi sorotan tertentu (native’s viewpoint). Terkait dengan pernyataan Gus Menteri sebagaimana dalam tayangan video yang viral itu, dalam kacamata perspektif emic, pandangan dari dalam, dari Menteri Agama dan semua orang-orang dalam Kementerian Agama tentu tidak ada masalah karena karena kalau kita tonton tayangan tersebut dari awal hingga akhir dengan cermat semuanya dalam konteks menjelaskan pesan dari Surat Edaran tersebut.
Kita semua yang di dalam sangat memahami latar belakang, pesan, dan isi surat edaran ini. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama ingin betul-betul menjadi garda terdepan dalam menyuarakan dan membangun kerukunan, toleransi dan harmoni umat beragama. Kondisi umat yang kondusif seperti sekarang ini harus terus dijaga dan diperjuangkan. Tentu sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Kementerian Agama yang diberi tanggungjawab dalam pembangunan bidang keagamaan salah satunya adalah merumuskan aturan, kebijakan dan regulasi keagamaan.
Sesungguhnya tidak hanya dari dalam, banyak pihak seperti dari tokoh-tokoh agama, ulama, akademisi dan pengamat yang mengapresiasi terhadap lahirnya surat edaran ini. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, kebijakan seperti ini tidak hanya diberlakukan di Indonesia tetapi juga dipelbagai negara dan khususnya di negara-negara Islam. Mereka yang telah menerapkan kebijakan ini betul-betul merasakan manfaat dan makin mengokohkan tolerannsi, kerukunan, harmoni umat tanpa sedikitpun ada yang merasa seperti ini adalah sebuah kebijakan yang membelenggu atau menghalangi untuk menjalankan ibadah terutama kaitannya dengan pengumandangan suara azan.
Perspektif Etic
Mengapa pernyataan Gus Menteri dalam dalam video ini menjadi heboh dan menyita banyak perhatian publik? Karena ada pihak luar yang tidak melihat secara utuh, tidak memahami teks dan konteks, melihat bagian-bagian tertentu tidak secara utuh atau secara sengaja memanfaatkan momentum ini untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Inilah pandangan-pandangan dari luar (outsider’s viewpoint) atau kalau dalam konteks analisis penelitian kualitatif sering disebut dengan perspektif etic.
Pandangan dan kesimpulan dari orang luar kadang-kadang bisa sesuai dengan faktanya tetapi tidak jarang juga yang berbeda dengan yang sebenarnya. Untuk memastikan kebenaran sesungguhnya dalam metodologi penelitian ini ada langkah atau tindakan yang bisa dilakukan yakni dengan melakukan triangulasi atau dalam bahasa yang lain disebut tabayyun (mensintesakan pelbagai data dan informasi untuk memastikan kebenarannya).
Triangulasi (Tabayyun)
Kebenaran itu bisa menurut kita sendiri, orang lain atau kebenaran yang diakui bersama. Dalam penelitian kualitatif khususnya, sebelum merumuskan atau membuat suatu kesimpulan selalu dilakukan triangulasi (check, recheck dan crosscheck). Tahapan ini untuk memastikan suatu kebenaran betul-betul sudah sesuai dengan yang sebenarnya. Tidak ada perbedaan frontal antara yang diteliti dan peneliti, antara perspektif emic dan perspektif etic.
Secara sederhana, perspektif Emic mengacu kepada pandangan dari pihak yang menjadi obyek penelelitian, yang diamati atau menjadi sorotan tertentu (native’s viewpoint). Terkait dengan pernyataan Gus Menteri sebagaimana dalam tayangan video yang viral itu, dalam kacamata perspektif emic, pandangan dari dalam, dari Menteri Agama dan semua orang-orang dalam Kementerian Agama tentu tidak ada masalah karena karena kalau kita tonton tayangan tersebut dari awal hingga akhir dengan cermat semuanya dalam konteks menjelaskan pesan dari Surat Edaran tersebut.
Kita semua yang di dalam sangat memahami latar belakang, pesan, dan isi surat edaran ini. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama ingin betul-betul menjadi garda terdepan dalam menyuarakan dan membangun kerukunan, toleransi dan harmoni umat beragama. Kondisi umat yang kondusif seperti sekarang ini harus terus dijaga dan diperjuangkan. Tentu sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Kementerian Agama yang diberi tanggungjawab dalam pembangunan bidang keagamaan salah satunya adalah merumuskan aturan, kebijakan dan regulasi keagamaan.
Sesungguhnya tidak hanya dari dalam, banyak pihak seperti dari tokoh-tokoh agama, ulama, akademisi dan pengamat yang mengapresiasi terhadap lahirnya surat edaran ini. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, kebijakan seperti ini tidak hanya diberlakukan di Indonesia tetapi juga dipelbagai negara dan khususnya di negara-negara Islam. Mereka yang telah menerapkan kebijakan ini betul-betul merasakan manfaat dan makin mengokohkan tolerannsi, kerukunan, harmoni umat tanpa sedikitpun ada yang merasa seperti ini adalah sebuah kebijakan yang membelenggu atau menghalangi untuk menjalankan ibadah terutama kaitannya dengan pengumandangan suara azan.
Perspektif Etic
Mengapa pernyataan Gus Menteri dalam dalam video ini menjadi heboh dan menyita banyak perhatian publik? Karena ada pihak luar yang tidak melihat secara utuh, tidak memahami teks dan konteks, melihat bagian-bagian tertentu tidak secara utuh atau secara sengaja memanfaatkan momentum ini untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Inilah pandangan-pandangan dari luar (outsider’s viewpoint) atau kalau dalam konteks analisis penelitian kualitatif sering disebut dengan perspektif etic.
Pandangan dan kesimpulan dari orang luar kadang-kadang bisa sesuai dengan faktanya tetapi tidak jarang juga yang berbeda dengan yang sebenarnya. Untuk memastikan kebenaran sesungguhnya dalam metodologi penelitian ini ada langkah atau tindakan yang bisa dilakukan yakni dengan melakukan triangulasi atau dalam bahasa yang lain disebut tabayyun (mensintesakan pelbagai data dan informasi untuk memastikan kebenarannya).
Triangulasi (Tabayyun)
Kebenaran itu bisa menurut kita sendiri, orang lain atau kebenaran yang diakui bersama. Dalam penelitian kualitatif khususnya, sebelum merumuskan atau membuat suatu kesimpulan selalu dilakukan triangulasi (check, recheck dan crosscheck). Tahapan ini untuk memastikan suatu kebenaran betul-betul sudah sesuai dengan yang sebenarnya. Tidak ada perbedaan frontal antara yang diteliti dan peneliti, antara perspektif emic dan perspektif etic.
Lihat Juga :