Tombo Ati Membangun Komunikasi Beradab

Sabtu, 26 Februari 2022 - 11:50 WIB
loading...
“Tombo Ati” Membangun...
Nugroho Agung Prasetyo. FOTO/Dok SINDO
A A A
Nugroho Agung Prasetyo
Praktisi Komunikasi
Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat


Bila kita mengamati dengan cermat denyut kehidupan berkebangsaan dalam realitas sehari-hari masyarakat saat ini, sangat wajar manakala yang datang menghampiri wacana adalah rasa risau dan khawatir. Utamanya, yang paling mengemuka dalam kekhawatiran itu adalah semakin lemahnya kohesi sosial kita dalam berbangsa.

Dalam pelajaran ilmu Fisika, kohesi didefinisikan sebagai ikatan antara molekul dalam satu unsur. Dalam kehidupan bermasyarakat, kohesi sosial diartikan sebagai pertautan dan ikatan bersama masyarakat dalam satu bangsa, dalam hal ini Bangsa Indonesia.

Persoalan kohesi sosial terus mengemuka karena perubahannya dalam masyarakat terlihat cukup telanjang dan kasat mata. Sejak hampir satu dekade lalu—banyak kalangan menandainya dengan tahun 2014—sulit untuk menafikan bahwa bangsa ini terasa mulai mengalami fragmentasi karena larut dalam keberpihakan.

Penekanan pada 2014 tidak semata berkaitan dengan urusan Pemilihan Presiden yang sistemnya memang meniscayakan terjadinya keberpihakan kelompok berbeda pilihan. Namun yang sama sekali tidak bisa diabaikan, saat itu menandainya kian masuknya bangsa Indonesia ke dalam kebiasaan bebas merdeka berpendapat di media sosial, dengan serenceng ekses negatifnya.

Lewat medsos semuanya seakan bisa mengakomodasi berbagai komentar, dukungan, pujian atau kekesalan secara instan tanpa banyak dipikirkan lebih dulu. Selanjutnya, mendatangkan kebiasaan yang awalnya terasa ganjil di masyarakat, yakni orang tidak lagi malu untuk menyatakan berbeda 180 derajat dengan tetangganya. Perilaku pun berubah. Banyaknya “like” dan dukungan dunia maya telah membuat sebagian orang tak lagi mempersoalkan apakah posting dan komennya mencederai perasaan orang lain.

Semua kemudian terasa semakin rumit dan kompleks, manakala “Like” pun terbukti mendatangkan candunya sendiri. Orang pada akhirnya tak lagi peduli apakah posting dan respons atau komentarnya masuk akal, tidak mencederai perasaan, dan bahkan masih tergolong ‘beradab’ atau tidak.

Perilaku seperti ini jelas sebagai sebuah sikap selfish yang tidak bertanggung jawab. Mengapa? Karena berbeda dengan—katakanlah--Inggris, Belanda, atau yang dekat Malaysia atau Brunei Darussalam, sejarah terbangunnya Indonesia berbeda diametral dengan negara-negara tadi. Banyak negara-negara tersebut tumbuh relatif homogen (kalaupun terjadi migrasi, pendatang menyesuaikan dengan adat budaya negara tersebut), sebagai satu bangsa.

Indonesia justru terbangun dari keanekaragaman dan terajut dalam kemajemukan. Proses merajut kemajemukan juga berlangsung cukup lama sehingga terbentuk nilai-nilai seperi yang saat ini eksis. Dengan latar belakang seperi itu, seharusnya kita bisa lebih saling menghargai dan tidak begitu mudah mengorek-orek perbedaan berpoten menimbulkan gesekan sosial.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bisnis Indonesia Awards...
Bisnis Indonesia Awards Harapkan Pemenang Kategori Bisa Hadapi Tantangan di Tengah Situasi Dinamis
MNC Digital Entertainment...
MNC Digital Entertainment Raih Penghargaan Bisnis Indonesia Awards 2026 Kategori Media dan Hiburan
Gerindra: Komunikasi...
Gerindra: Komunikasi Prabowo dengan Jokowi Baik-Baik Aja
Pemerintah Perlu Menetralisir...
Pemerintah Perlu Menetralisir Narasi Negatif di Media Sosial
Isu Mark Up Harga Sepatu...
Isu Mark Up Harga Sepatu Siswa Sekolah Rakyat, Gus Ipul: Itu Fitnah, Hoaks
Menkomdigi: Media Konvensional...
Menkomdigi: Media Konvensional Harus Tetap Eksis di Tengah New Media
Viral Video Letusan...
Viral Video Letusan Gunung Anak Krakatau Disertai Semburan Api Merah, PVMBG: Hoaks Buatan AI
MICoCS 2026: Akademisi...
MICoCS 2026: Akademisi Dunia Kupas Tantangan AI bagi Industri Media dan Komunikasi
Jangan Jadi Korban!...
Jangan Jadi Korban! Ini Strategi Melawan Hoaks Lowongan Kerja yang Wajib Diketahui
Rekomendasi
Manohara Tolak Flexing,...
Manohara Tolak Flexing, Pilih Habiskan Uang untuk Merawat 8 Anjing dan 4 Kucing
Turki Jadi Bagian Penting...
Turki Jadi Bagian Penting Arsitektur Keamanan NATO di Masa Depan
Di Bawah Naungan Danantara,...
Di Bawah Naungan Danantara, Pegadaian Siap Akselerasi Ekosistem Bank Emas ke Kancah Internasional
Berita Terkini
Prabowo-Narendra Modi...
Prabowo-Narendra Modi Siap Teken 8 Kerja Sama, Pertahanan hingga Teknologi
Praperadilan Tersangka...
Praperadilan Tersangka Kasus Haji Asrul Azis Ditolak, KPK: Lanjutkan Penyidikan
3 Polisi Satresnarkoba...
3 Polisi Satresnarkoba Polres Katingan yang Gugur Terima Kenaikan Pangkat Luar Biasa
Soroti Survei Terbuka...
Soroti Survei Terbuka IndexMundi, Burhanuddin Muhtadi Beberkan Cacat Metodologi Riset Online
KY Bakal Tindak Lanjuti...
KY Bakal Tindak Lanjuti Laporan Kubu Nadiem Makarim
Dugaan Korupsi Pasokan...
Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara, Polri: Negara Rugi Rp5 Triliun Akibat Pemadaman Listrik
Infografis
Raksasa Chip Intel akan...
Raksasa Chip Intel akan Setop Rencana Membangun Pabrik di Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved