Bahasa Bertakdir Sejarah
Senin, 21 Februari 2022 - 13:53 WIB
loading...
A
A
A
Pengecapan berdasarkan derajat terjelaskan pula oleh John Hoffman. Nasib bahasa Melayu sempat pelik tapi terus bergerak. VOC teranggap memainkan peran diskriminatif untuk bahasa Melayu-Tinggi dan Melayu-Rendah. Perdebatan politis terasa membesar ketimbang dalam studi-studi lingusitik. Perkembangan bahasa itu terpikirkan serius di Belanda dalam memberi restu untuk pembuatan kebijakan-kebijakan besar di Nusantara. Perkara perdagangan dan administasi menggunakan bahasa Melayu ditambahi debat-debat panjang saat digunakan dalam sebaran agama Kristen dan penerjemahan Alkitab. Masa lalu itu seru. Bahasa selalu “ramai” dalam perdebatan berkepanjangan sampai abad XX.
Kita memandang silam diingatkan lagi oleh James T Collins: “Abad XVII gemerlap dengan berbagai contoh surat-surat berbahasa Melayu, lisensi perdagangan, perjanjian kontrak, sejarah, syair, buku ilmu ketuhanan yang sesungguhnya adalah masa yang kompleks dalam sejarah bahasa Melayu.” Kita mungkin kesulitan menuju masa ratusan tahun lalu. Ingatan masih mungkin terpelihara mengenai bahasa Melayu bergolak pada akhir abad XIX dan “beruntung” berlatar abad XX. Bahasa itu terpilih dalam gerakan politik-kultural dan sikap modern menggerakkan impian-impian baru untuk Hindia Belanda. Nasib untung disokong pembuatan buku-buku tata bahasa dan penerbitan kamus-kamus. Bahasa seperti dalam “asuhan” kolosal dan mendapat pencerahan.
Di lacakan sumber-sumber sejarah, John Hoffman menerangkan bila bahasa Melayu memang mendapat dukungan meriah dari pelbagai pihak saat bertumbuh subur pada abad XIX. Bahasa itu cocok dengan “kemadjoean”. Penggunaan bahasa Melayu di sekolah, pers, sastra, dakwah, dan birokrasi membuka kemungkinan-kemungkinan makin diterima di seantero Nusantara.
Bahasa itu beruntung. Bahasa terpilih ketimbang bahasa Jawa saat tanah jajahan bergerak dan membenarkan modernitas. Keberuntungan memang tampak saat kebijakan untuk (pengajaran) bahasa Belanda sering ragu dan salah. “Bangkrutnya VOC pada akhir abad XVIII bersamaan jatuhnya dengan gagalnya politik bahasa yang bertalian dengan bahasa Belanda,” penjelasan Kees Groeneboer. Bangkrut dan “salah” dalam politik bahasa itu berlanjut pada abad XIX dan XX. Pemerintah kolonial Belanda susah memamerkan kepongahan politik dalam “menjamin” bahasa Belanda sebagai bahasa “terpenting” dibandingkan bahasa Melayu atau Jawa.
Sejak awal abad XX, bahasa Melayu seperti bahasa “resmi” untuk peristiwa-peristiwa penting di Hindia Belanda. Kita memiliki ingatan-ingatan sejarah saat bahasa itu “bersaing” dengan bahasa Belanda dan Jawa dalam pemenuhan ide-imajinasi Indonesia. Bahasa kadang tersingkir atau terpenting di babak-babak sejarah pembentukan Boedi Oetomo (1908) sampai Kongres Pemuda II (1928). Bahasa itu telah menempuhi jalan (sejarah) panjang. Pada suatu masa, debat-debat besar tak lagi selalu dari kalangan pejabat kolonial atau sarjana Eropa. Elite terpelajar, jurnalis, dan pengarang-pengarang bumiputra perlahan turut dalam membesarkan bahasa Melayu. Mereka sadar bahasa digunakan untuk “membentuk” sejarah. Begitu.
Judul : Bahasa Melayu Indis
Penulis : John Hoffman
Kita memandang silam diingatkan lagi oleh James T Collins: “Abad XVII gemerlap dengan berbagai contoh surat-surat berbahasa Melayu, lisensi perdagangan, perjanjian kontrak, sejarah, syair, buku ilmu ketuhanan yang sesungguhnya adalah masa yang kompleks dalam sejarah bahasa Melayu.” Kita mungkin kesulitan menuju masa ratusan tahun lalu. Ingatan masih mungkin terpelihara mengenai bahasa Melayu bergolak pada akhir abad XIX dan “beruntung” berlatar abad XX. Bahasa itu terpilih dalam gerakan politik-kultural dan sikap modern menggerakkan impian-impian baru untuk Hindia Belanda. Nasib untung disokong pembuatan buku-buku tata bahasa dan penerbitan kamus-kamus. Bahasa seperti dalam “asuhan” kolosal dan mendapat pencerahan.
Di lacakan sumber-sumber sejarah, John Hoffman menerangkan bila bahasa Melayu memang mendapat dukungan meriah dari pelbagai pihak saat bertumbuh subur pada abad XIX. Bahasa itu cocok dengan “kemadjoean”. Penggunaan bahasa Melayu di sekolah, pers, sastra, dakwah, dan birokrasi membuka kemungkinan-kemungkinan makin diterima di seantero Nusantara.
Bahasa itu beruntung. Bahasa terpilih ketimbang bahasa Jawa saat tanah jajahan bergerak dan membenarkan modernitas. Keberuntungan memang tampak saat kebijakan untuk (pengajaran) bahasa Belanda sering ragu dan salah. “Bangkrutnya VOC pada akhir abad XVIII bersamaan jatuhnya dengan gagalnya politik bahasa yang bertalian dengan bahasa Belanda,” penjelasan Kees Groeneboer. Bangkrut dan “salah” dalam politik bahasa itu berlanjut pada abad XIX dan XX. Pemerintah kolonial Belanda susah memamerkan kepongahan politik dalam “menjamin” bahasa Belanda sebagai bahasa “terpenting” dibandingkan bahasa Melayu atau Jawa.
Sejak awal abad XX, bahasa Melayu seperti bahasa “resmi” untuk peristiwa-peristiwa penting di Hindia Belanda. Kita memiliki ingatan-ingatan sejarah saat bahasa itu “bersaing” dengan bahasa Belanda dan Jawa dalam pemenuhan ide-imajinasi Indonesia. Bahasa kadang tersingkir atau terpenting di babak-babak sejarah pembentukan Boedi Oetomo (1908) sampai Kongres Pemuda II (1928). Bahasa itu telah menempuhi jalan (sejarah) panjang. Pada suatu masa, debat-debat besar tak lagi selalu dari kalangan pejabat kolonial atau sarjana Eropa. Elite terpelajar, jurnalis, dan pengarang-pengarang bumiputra perlahan turut dalam membesarkan bahasa Melayu. Mereka sadar bahasa digunakan untuk “membentuk” sejarah. Begitu.
Judul : Bahasa Melayu Indis
Penulis : John Hoffman
Lihat Juga :