Pupuk, Benih, dan ICMI
Jum'at, 04 Februari 2022 - 09:14 WIB
loading...
A
A
A
Peran ICMI
ICMI diharapkan dapat membantu menemukan solusi persoalan di atas. Namun, perlu kita sadari bersama, ICMI bukan lembaga riset. Pun bukan universitas. ICMI hanyalah kumpulan cerdik pandai muslim yang sejatinya merasa terpanggil bersumbangsih gagasan dan pemikiran untuk mengatasi persoalan bangsa. Termasuk dalam megatasi persoalan pupuk dan benih sebagaimana sekilas diurai di atas. Maka, solusi yang dapat ICMI tawarkan adalah menyampaikan gagasan brilian, komprehensif, mendalam, dan akurat berdasarkan analisis teoiritis dan empiris. Sebab, hanya sebatas itu yang dapat ICMI lakukan.
Lalu, bagaimana ICMI melakukannya? Pertama, ICMI segera melakukan konsolidasi para pakar yang terkait dengan pupuk dan benih tadi. Tidak terbatas pada pakarnya dewan pakar ICMI, melainkan para pakar lintas agama, lembaga, bila perlu lintas negara. ICMI menjadi aktor utamanya.
Kedua, para pakar tersebut segera berkumpul menyusun agenda kajian dan menjalankan agenda tersebut dengan target menghasilkan rekomendasi jitu tanpa ragu kepada pemerintah disertai sedikit tekanan agar pemerintah menjalankannya. Untuk melakukan tekanan, ICMI mesti bebas dari kepentingan politik. Posisioning ICMI harus jelas demi kepentingan bangsa dan negara. Demi kesejahteraan rakyat.
Kendatipun pada akhirnya ada petinggi ICMI yang ditarik ke pusat kekuasaan, itu hanyalah bentuk apresiasi atas prestasi kerja ICMI. Anggaplah sebagai bonus.
Ketiga, ICMI mesti segera menggagas konsorsium riset antaruniversitas dan universitas dengan Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN). Tujuannya demi membangun sinergi dan koordinasi antarpara pakar untuk melakukan agenda riset inovatif bersama. Baik terkait dengan kedua persoalan pertanian kritikal tadi maupun persoalan pertanian lainnya yang juga sama-sama penting untuk diatasi.
Gagasan ini pun mesti didasarkan pada kajian komprehensif agar rekomendasinya argumentatif baik secara teoritis maupun empiris sehingga sulit untuk ditolak. Saya yakin di bawah kepemimpinan Prof Arif Satria, yang juga rektor IPB, ICMI akan mampu mewujudkannya.
ICMI diharapkan dapat membantu menemukan solusi persoalan di atas. Namun, perlu kita sadari bersama, ICMI bukan lembaga riset. Pun bukan universitas. ICMI hanyalah kumpulan cerdik pandai muslim yang sejatinya merasa terpanggil bersumbangsih gagasan dan pemikiran untuk mengatasi persoalan bangsa. Termasuk dalam megatasi persoalan pupuk dan benih sebagaimana sekilas diurai di atas. Maka, solusi yang dapat ICMI tawarkan adalah menyampaikan gagasan brilian, komprehensif, mendalam, dan akurat berdasarkan analisis teoiritis dan empiris. Sebab, hanya sebatas itu yang dapat ICMI lakukan.
Lalu, bagaimana ICMI melakukannya? Pertama, ICMI segera melakukan konsolidasi para pakar yang terkait dengan pupuk dan benih tadi. Tidak terbatas pada pakarnya dewan pakar ICMI, melainkan para pakar lintas agama, lembaga, bila perlu lintas negara. ICMI menjadi aktor utamanya.
Kedua, para pakar tersebut segera berkumpul menyusun agenda kajian dan menjalankan agenda tersebut dengan target menghasilkan rekomendasi jitu tanpa ragu kepada pemerintah disertai sedikit tekanan agar pemerintah menjalankannya. Untuk melakukan tekanan, ICMI mesti bebas dari kepentingan politik. Posisioning ICMI harus jelas demi kepentingan bangsa dan negara. Demi kesejahteraan rakyat.
Kendatipun pada akhirnya ada petinggi ICMI yang ditarik ke pusat kekuasaan, itu hanyalah bentuk apresiasi atas prestasi kerja ICMI. Anggaplah sebagai bonus.
Ketiga, ICMI mesti segera menggagas konsorsium riset antaruniversitas dan universitas dengan Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN). Tujuannya demi membangun sinergi dan koordinasi antarpara pakar untuk melakukan agenda riset inovatif bersama. Baik terkait dengan kedua persoalan pertanian kritikal tadi maupun persoalan pertanian lainnya yang juga sama-sama penting untuk diatasi.
Gagasan ini pun mesti didasarkan pada kajian komprehensif agar rekomendasinya argumentatif baik secara teoritis maupun empiris sehingga sulit untuk ditolak. Saya yakin di bawah kepemimpinan Prof Arif Satria, yang juga rektor IPB, ICMI akan mampu mewujudkannya.
(bmm)
Lihat Juga :