Sains yang Nirmakna

Sabtu, 22 Januari 2022 - 08:54 WIB
loading...
Sains yang Nirmakna
Sains yang Nirmakna
A A A
Slamet makhsun
Mahasiswa jurusan studi agama-agama uin sunan kalijaga

Di era modern ini, telah dicapai seabrek kemajuan teknologi yang diklaim sebagai penemuan dan revolusi sains terbaik sepanjang sejarahnya. Bagaimana tidak, jika dulu manusia hidup dalam kesederhanaan dalam artian teknologi tidak terlalu mendominasi mereka, sekarang, dengan banyaknya penemuan itu kian mempermudah kehidupan.

Namun, bagi beberapa kalangan, justru kemudahan tersebut dianggap telah menjatuhkan manusia pada egoisme akut, yang mengeksploitasi alam dalam jumlah yang tak lagi wajar. Kerusakan alam, bencana yang secara beruntun terus terjadi, terancamnya ekosistem kehidupan yang, kesemuanya itu akan memusnahkan manusia secara bertahap, merupakan efek langsung dari ulah manusia atas eksploitasi yang berlebihan.

Adalah Seyyed Hossein Nasr—pemikir Islam kontemporer—turut menyoroti permasalahan tersebut. Menurutnya, bahwa kecenderungan manusia di abad ini untuk terus mengeksploitasi alam, bukan lain karena hilangnya ruh daripada sains sendiri. Di abad pertengahan dan era sebelum-sebelumnya, sains memiliki keterikatan dengan simbolisme agama.

Seperti dari beberapa kepercayaan kuno, misalnya meyakini bahwa alam semesta adalah ejawantah dari wujud Realitas Mutlak (Tuhan). Maka para pengikut kepercayaan tersebut akan berhati-hati, agar ulahnya tidak merusak alam. Karena dengan merusak, sama halnya tidak taat dan ingkar terhadap perintah Tuhan. Misal pun mereka menciptakan teknologi, akan dipertimbangkan sedemikian cermatnya supaya tidak menyebabkan kerusakan alam. Bagi mereka, alam adalah sakral, sama halnya dengan kesakralan Tuhan.

Pandangan seperti itu, jelas nampak pada tradisi-tradisi masyarakat timur. Misalnya agama Budha yang menekankan keseimbangan hidup dengan alam agar dapat mencapai moksha, atau Islam yang menyatakan bahwa manusia adalah khalifah fil ‘ard yang bertugas untuk mengatur, menyeimbangkan, menyejahterakan, serta menjaga bumi dan seisinya agar tetap dalam ekosistem yang baik. Pun demikian dengan taoisme di China yang mengajarkan bila manusia ingin hidup tenteram dan damai, maka harus bersahabat dengan alam.

Nasr menjelaskan bahwa akar dari permasalahan ini karena terjadinya revolusi sains di Eropa. Hal itu bermula di era renaisans, para filsuf dan pemikir di Eropa kala itu, membuang pemikiran teistik menuju logika yang empiris, yakni segala sesuatu harus berjalan sesuai bukti fisik, yang indera manusia sendiri secara nyata harus merasakannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengelola Sawit untuk...
Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Mengenal System Shift,...
Mengenal System Shift, Kerangka Baru Membaca Perubahan Dunia
Mudiruna, Kisah Ulama...
Mudiruna, Kisah Ulama Cahaya dari Rumah Sederhana
Bukan Motivasi Kosong,...
Bukan Motivasi Kosong, Positivo Theory Jadi Panduan Nyata Anak Muda Bangun Masa Depan
Rustini Muhaimin Tekankan...
Rustini Muhaimin Tekankan Budaya Literasi dengan Gerakan Membaca
Prosumenesia: Era Baru...
Prosumenesia: Era Baru Konsumen Jadi Produsen Digital
Buku “Misi untuk Raka”...
Buku Misi untuk Raka Diluncurkan, Edukasi Anak Usia Dini agar Seru Tanpa Gawai
Berani Sehat, Tak Perlu...
Berani Sehat, Tak Perlu Takut Kuman
3 Manfaat Membacakan...
3 Manfaat Membacakan Buku untuk Anak: Asah Kemampuan Komunikasi, Emosi, dan Imajinasi
Rekomendasi
IHSG Berakhir Longsor...
IHSG Berakhir Longsor 1,70% ke Posisi 5.839, Ada 651 Saham Berjatuhan
Tinjau SDN Babakan 01...
Tinjau SDN Babakan 01 Pascarevitalisasi, Wakil Wali Kota Tangsel Pastikan KBM Nyaman
Pernikahan Membuka Pintu...
Pernikahan Membuka Pintu Rezeki, Benarkah?
Berita Terkini
Bonjowi Minta PTUN Jakarta...
Bonjowi Minta PTUN Jakarta Tolak Gugatan UGM Soal Keberatan Putusan Komisi Informasi Pusat
2 Pengusaha Penyuap...
2 Pengusaha Penyuap Noel Ebenezer Cs Divonis 1,5 Tahun Penjara, Lebih Rendah dari Tuntutan Jaksa
Kawal Anggaran Negara,...
Kawal Anggaran Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Tuntas BGN hingga ke Daerah
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved