Mandalika sebagai Destinasi Wisata
Jum'at, 21 Januari 2022 - 15:37 WIB
loading...
A
A
A
Pada 4 April 2017 telah disepakati Rencana Deliniasi kawasan sekitar KEK Mandalika sebagai berikut: (a) Kawasan inti: Luas: 1.250 Ha, meliputi: Desa Sengkol; Desa Sukadana; Desa Kuta; dan Desa Mertak; (b) Kawasan penyangga: semuanya berada di Kecamatan Pujut meliputi : sebagian wilayah Desa Kuta (di luar Kawasan Inti) ; sebagian wilayah Desa Rembitan ; sebagian Desa Mertak (Dusun Sereneng), sebagian Desa Sengkol (Dusun Grupuk I, Dusun Grupuk II, Dusun Ebanga) ; sebagian Desa Sukadana (di luar Kawasan Inti) dan sebagian Desa Prabu (lokasi dalam lingkup dusun); (c) Kawasan pengaruh: meliputi : 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Praya Barat ( Desa Selong Belanak; Desa Mekarsari); Kecanatan Pujut ( Desa Tumpak; Desa Prabu; Desa Sengkol; Desa Sukadana; Desa Ketara ; Desa Tanak Awu ; Desa Gapura (Kec. Pujut); Desa Teruwai ; Desa Pengengat ; Desa Mertak ; Desa Bangket Parak) dan Kecamatan Praya Timur (Desa Kidang; Desa Bilelando) (https://dpu.ntbprov.go.id/web/post/Rencana-Deliniasi-Kawasan-Sekitar-Kawasan-Ekonomi-Khusus-KEK-Mandalika-Kabupaten-Lombok-Tengah).
Permasalahannya, sejauh mana rasionalitas penetapan DPSP Mandalika sebagai high end tourism? Data sekunder memperlihatkan bahwa sebelum pandemi Covid-19, KEK Mandalika sudah mengalami penurunan jumlah wisatawan. Gempa bumi di Lombok, pada 2018 silam, menjadi satu di antara penyebabnya. Namun demikian, terpilihnya KEK Mandalika sebagai satu di antara DPSP Indonesia, berdampak positif pada citra NTB. Prestasi demi prestasi terus diraih NTB, antara lain: peningkatan kunjungan wisatawan Nusantara maupun mancanegara. Data dari Dinas Pariwisata NTB diperoleh bahwa pada 2016 jumlah wisatawan yang berkunjung ke NTB mencapai 3.094.047 dan pada 2017 meningkat menjadi 3.508.903 jiwa (Dinas Pariwisata NTB, 2017).
Dampak langsung pandemi Covid-19 dirasakan oleh DPSP Mandalika, berupa turunnya okupansi hotel. Selama pandemi Covid-19, seluruh tempat wisata di Lombok Tengah ditutup demi mencegah penyebaran Covid-19. Namun, sejak memasuki era new normal pada pertengahan 2020, beberapa tempat wisata sudah dibuka secara perlahan dan bertahap.
Pada 18-20 Maret 2022 nanti, MotoGP akan diselenggarakan di Sirkuit Mandalika. Momen ini diyakini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan Mandalika dan sekitarnya. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, memproyeksikan jumlah penonton, total seluruhnya sekitar 100.000 orang. Sekitar 90% didominasi wisatawan domestik, dan selebihnya wisatawan asing. Rasionalitas prediksi demikian, didasarkan pada gelaran World Superbike Mandalika 2021 lalu. Oleh karenanya, pemerintah terus memprioritaskan dan mempersiapkan berbagai akomodasi dan ketersediaan penginapan.
Sisi lain yang mesti diperhatikan adalah dukungan masyarakat setempat terhadap DPSP dan KEK Mandalika. Beberapa waktu lau, sejumlah warga setempat berdemonstrasi pada hari pertama ajang World Superbike (WSBK) 2021. Para demonstras adalah sejumlah pemilik lahan, yang merasa tanahnya dicaplok untuk pembangunan Sirkuit Mandalika. Pada kesempatan itu, para pemilik lahan menggelar spanduk di depan Sirkuit Mandalika. Noda hitam seperti ini, mesti diselesaikan dengan tuntas, agar kepariwisataan betul-betul berbau harum, berwarna cerah, dan indah.
Permasalahannya, sejauh mana rasionalitas penetapan DPSP Mandalika sebagai high end tourism? Data sekunder memperlihatkan bahwa sebelum pandemi Covid-19, KEK Mandalika sudah mengalami penurunan jumlah wisatawan. Gempa bumi di Lombok, pada 2018 silam, menjadi satu di antara penyebabnya. Namun demikian, terpilihnya KEK Mandalika sebagai satu di antara DPSP Indonesia, berdampak positif pada citra NTB. Prestasi demi prestasi terus diraih NTB, antara lain: peningkatan kunjungan wisatawan Nusantara maupun mancanegara. Data dari Dinas Pariwisata NTB diperoleh bahwa pada 2016 jumlah wisatawan yang berkunjung ke NTB mencapai 3.094.047 dan pada 2017 meningkat menjadi 3.508.903 jiwa (Dinas Pariwisata NTB, 2017).
Dampak langsung pandemi Covid-19 dirasakan oleh DPSP Mandalika, berupa turunnya okupansi hotel. Selama pandemi Covid-19, seluruh tempat wisata di Lombok Tengah ditutup demi mencegah penyebaran Covid-19. Namun, sejak memasuki era new normal pada pertengahan 2020, beberapa tempat wisata sudah dibuka secara perlahan dan bertahap.
Pada 18-20 Maret 2022 nanti, MotoGP akan diselenggarakan di Sirkuit Mandalika. Momen ini diyakini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan Mandalika dan sekitarnya. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, memproyeksikan jumlah penonton, total seluruhnya sekitar 100.000 orang. Sekitar 90% didominasi wisatawan domestik, dan selebihnya wisatawan asing. Rasionalitas prediksi demikian, didasarkan pada gelaran World Superbike Mandalika 2021 lalu. Oleh karenanya, pemerintah terus memprioritaskan dan mempersiapkan berbagai akomodasi dan ketersediaan penginapan.
Sisi lain yang mesti diperhatikan adalah dukungan masyarakat setempat terhadap DPSP dan KEK Mandalika. Beberapa waktu lau, sejumlah warga setempat berdemonstrasi pada hari pertama ajang World Superbike (WSBK) 2021. Para demonstras adalah sejumlah pemilik lahan, yang merasa tanahnya dicaplok untuk pembangunan Sirkuit Mandalika. Pada kesempatan itu, para pemilik lahan menggelar spanduk di depan Sirkuit Mandalika. Noda hitam seperti ini, mesti diselesaikan dengan tuntas, agar kepariwisataan betul-betul berbau harum, berwarna cerah, dan indah.
Lihat Juga :