Serangan Darat dan Udara Para Capres: Bagi-Bagi Sembako hingga Eksis di Medsos
Kamis, 06 Januari 2022 - 08:55 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Anggota Komisi XI DPR Bagikan 2.250 Sembako Bergambar Puan untuk Warga Jakarta
Direktur Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara mengatakan bahwa kampanye dua tahun menjelang Pilpres 2024 bagi tokoh nasional yang berniat maju sebagai capres-cawapres efektif dilakukan pada tahun 2022 ini sebagai awal dari tahun politik, baik lewat medsos ataupun turun langsung ke masyarakat. Tujuannya, kata Igor, untuk lebih dikenal publik dan meningkatkan elektabilitasnya.
Maka itu, menurut dia, pencitraan potensi dilakukan untuk mulai membangun komunikasi, kekuatan, dan kesempatan politik sebagai sebuah aktifitas dalam mencapai sebuah tujuan politik di 2024. "Sasaran kampanye politiknya, baik terbuka atau terselubung sebaiknya bisa menyentuh publik secara nasional, terutama mereka yang dikategorikan massa mengambang (floating mass), swing voters, dan golput," kata Igor kepada SINDOnews dihubungi terpisah.
Igor mengatakan, kerja politik akan dimulai pada 2022 ini sebagai bagian dari personal branding dan embrio kemungkinan munculnya koalisi parpol pengusung. Dia mengatakan, mereka yang berminat menjadi capres-cawapres harus mulai menunjukkan diferensiasi politiknya.
Baca: Survei, Ganjar Pranowo dan Puan Maharani Masuk 5 Besar
"Apa kinerjanya, pemikiran dan langkahnya ke depan jika ingin maju sebagai kandidat. Tahun 2022 ibarat pasar politik, dimana publik secara nasional adalah calon pembelinya," imbuhnya.
Apalagi, menurut dia, mayoritas pemilih di Indonesia itu bersifat dinamis, tidak statis. "Masyarakat cenderung lebih melihat ketokohan seseorang mulai dari kompetensi sampai integritasnya. Semuanya akan dilihat publik awal tahun 2022 ini," pungkasnya.
Direktur Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara mengatakan bahwa kampanye dua tahun menjelang Pilpres 2024 bagi tokoh nasional yang berniat maju sebagai capres-cawapres efektif dilakukan pada tahun 2022 ini sebagai awal dari tahun politik, baik lewat medsos ataupun turun langsung ke masyarakat. Tujuannya, kata Igor, untuk lebih dikenal publik dan meningkatkan elektabilitasnya.
Maka itu, menurut dia, pencitraan potensi dilakukan untuk mulai membangun komunikasi, kekuatan, dan kesempatan politik sebagai sebuah aktifitas dalam mencapai sebuah tujuan politik di 2024. "Sasaran kampanye politiknya, baik terbuka atau terselubung sebaiknya bisa menyentuh publik secara nasional, terutama mereka yang dikategorikan massa mengambang (floating mass), swing voters, dan golput," kata Igor kepada SINDOnews dihubungi terpisah.
Igor mengatakan, kerja politik akan dimulai pada 2022 ini sebagai bagian dari personal branding dan embrio kemungkinan munculnya koalisi parpol pengusung. Dia mengatakan, mereka yang berminat menjadi capres-cawapres harus mulai menunjukkan diferensiasi politiknya.
Baca: Survei, Ganjar Pranowo dan Puan Maharani Masuk 5 Besar
"Apa kinerjanya, pemikiran dan langkahnya ke depan jika ingin maju sebagai kandidat. Tahun 2022 ibarat pasar politik, dimana publik secara nasional adalah calon pembelinya," imbuhnya.
Apalagi, menurut dia, mayoritas pemilih di Indonesia itu bersifat dinamis, tidak statis. "Masyarakat cenderung lebih melihat ketokohan seseorang mulai dari kompetensi sampai integritasnya. Semuanya akan dilihat publik awal tahun 2022 ini," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :