Neraca Keadilan Ekonomi

Selasa, 21 Desember 2021 - 12:45 WIB
loading...
Neraca Keadilan Ekonomi
Dani Setiawan (Foto:Ist)
A A A
Dani Setiawan
Pengajar FISIP UIN Jakarta, Ketua Harian DPP KNTI

DALAM memformulasi suatu kebijakan pembangunan, dua faktor utama harus dipegang pemerintah. Pertama, pengetahuan yang kokoh atas teori pembangunan yang akan menjadi panduan kebijakan disertai bukti-bukti empiris mengenai pelaksanaan teori ini. Kedua, tujuan-tujuan sosial yang ditetapkan dalam konstitusi negara. Letak dari faktor yang kedua ini amat penting. Menyangkut suatu fundamen dalam melatakkan nilai-nilai utama dari tujuan pembangunan seperti keadilan (justice), ketertiban (order), kemerdekaan atau kebebasan (freedom) serta kemakmuran dan kesejahteraan bersama (common prosperity and welfare).

Berdasarkan pengalaman negara-negara berkembang termasuk Indonesia, pembangunan tidak bisa dimaknai hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dalam pengertian memaksimalkan produksi nasional. Model-model analisis pertumbuhan neoklasik yang menjanjikan manfaat mekanisme tetesan ke bawah (trickle-down mechanism), berbalik menghasilkan tetesan ke atas (trickle-up) hasil-hasil pertumbuhan dan menyebabkan kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin semakin hebat. Model ini juga kerap dikritik karena bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan hidup akibat eksploitasi sumber daya alam tanpa batas.

Formulasi kebijakan pembangunan juga tidak berada dalam ruang hampa, namun disandarkan pada situasi nyata dalam masyarakat terutama adanya ketimpangan dalam struktur sosial. Bagi Indonesia, pengangguran, kemiskinan, kesenjangan distribusi pendapatan dan kekayaan serta degradasi lingkungan hidup merupakan lapis utama masalah-masalah sosial yang mendesak untuk dituntaskan, bahkan sebelum pandemi terjadi. Masalah struktural ini tidak boleh diabaikan, bahkan menjadi pijakan utama dalam orientasi pembangunan nasional.

Tengok saja data Susenas 2019, ketimpangan struktur sosial-ekonomi Indonesia menjadi perkara serius. Jumlah penduduk miskin sebesar 9,4%, warga yang rentan 20,6%, kelompok masyarakat yang menuju kelas menengah 48,2%, kelas menengah 21,5%, dan berpendapatan tinggihanya 0,4%. Potret ini menunjukkan kesejahteraan ekonomi di Indonesia hanya dirasakan tak lebih dari 21,9% penduduk lapis paling atas.

Demikian juga dapat dilihat pada struktur pelaku usaha. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2021 lebih dari 64 juta pelaku, usaha mikro sebanyak 98,6%, usaha kecil 1,2%, usaha menengah 0,09%, dan usaha besar hanya 0,01%. Pelaku usaha mikro berada pada struktur paling bawah piramida dan berjuang untuk tetap bertahan di tengah berbagai himpitan.

Di antara kelompok masyarakat miskin Indonesia, sumbangan terbesar berasal dari sektor pertanian dan perikanan. Meskipun sektor pertanian menempati porsi terbesar dari total lapangan kerja utama (28,3%), tetapi kondisinya masih kurang beruntung. Data BPS pada 2020 menyebutkan jumlah rumah tangga miskin di Indonesia 46,30% berasal dari sektor pertanian. Hal ini juga dapat kita lihat dari sumbangan penduduk miskin di perdesaan yang masih lebih besar dari perkotaan dalam satu dekade terakhir. Meskipun terjadi kenaikan nilai tukar petani dan nilai tukar usaha pertanian, tetapi upah riil buruh tani cenderung stagnan.

Tidak jauh berbeda kondisi sektor kelautan dan perikanan. Sekitar 27,54 juta penduduk miskin di Indonesia, 70%-nya berada di wilayah pesisir (BPS, 2021). Penduduk miskin di kawasan pesisir umumnya menggantungkan hidup pada pemanfaatan sumber daya laut dan pantai. Bekerja sebagai nelayan tradisional yang memiliki struktur armada kecil, buruh nelayan, pengolah ikan skala kecil, dan pedagang kecil karena memiliki kemampuan investasi yang sangat kecil.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Sri Gusni: Pergantian...
Sri Gusni: Pergantian Pimpinan BGN Harus Jadi Momentum Pembenahan Menyeluruh Program MBG
Wali Kota Agustina Inisiasi...
Wali Kota Agustina Inisiasi Program Waras Ekonomi, UMKM Semarang Kini Terhubung dalam Satu Platform
Mitigasi Krisis
Mitigasi Krisis
Pertumbuhan yang Berdampak
Pertumbuhan yang Berdampak
Pesta Elite, Resesi...
Pesta Elite, Resesi Sulit
Dukung Nelayan Lebih...
Dukung Nelayan Lebih Aman Melaut, Askrindo Gandeng DKP Kabupaten Demak
Nanik S Deyang Ancam...
Nanik S Deyang Ancam Tutup SPPG Jika Tak Beli Telur Langsung dari Peternak
Perkuat Rantai Ekonomi...
Perkuat Rantai Ekonomi Kerakyatan, Holding BUMN Danareksa Salurkan Kurban untuk 3.800 Keluarga
Rekomendasi
Nvidia RTX Spark: Superkomputer...
Nvidia RTX Spark: Superkomputer Kemasan Sachet, Bikin Intel dan AMD Keringat Dingin
2 Pemain Timnas Putri...
2 Pemain Timnas Putri Palestina Diculik Israel, FIFA Tutup Mata
Rencanakan Liburan dengan...
Rencanakan Liburan dengan Lebih Fleksibel Melalui Paylater
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved