IDI Ingatkan Indonesia Jangan Jumawa Hadapi Varian Omicron

Minggu, 28 November 2021 - 05:34 WIB
loading...
IDI Ingatkan Indonesia Jangan Jumawa Hadapi Varian Omicron
Varian baru Covid-19 yakni B.1.1.529 atau Omicron saat ini telah dinyatakan World Health Organization (WHO) sebagai variant of concern (VoC). Foto: Ilustrasi/Ist
A A A
JAKARTA - Varian baru Covid-19 yakni B.1.1.529 atau Omicron saat ini telah dinyatakan World Health Organization ( WHO ) sebagai variant of concern (VoC). Bahkan, diyakini varian Omicron ini dapat menyebabkan penularan yang lebih cepat dari varian lainnya.

Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban pun meminta agar Indonesia tidak jumawa menghadapi Omicron ini. Baca juga: Varian Covid Omicron Mungkin Sudah Ada di AS, Segera Menyebar Luas

“Kita jangan jumawa hadapi Omicron. Ingat penilaian media barat? Penanganan Indonesia terburuk dan baru normal 10 tahun lagi. Itu kata Bloomberg. Lalu, kita bangkit dan membuktikan. Saat ini? Kita cukup baik dan negara asal media ini pun jauh dari baik. Maka itu, jangan jemawa,” tulis Zubairi dikutip dari laman media sosial pribadinya, Minggu (28/11/2021).

Zubairi pun menegaskan agar langkah mitigasi mutlak dilakukan untuk menanggulangi semua varian Covid-19 yang telah menyebar termasuk Omicron ini.



“Langkah mitigasi mutlak dilakukan untuk hindari pengulangan Delta. Apalagi Omicron (B.1.1.529) ini seperti “fitur terbaik” dari Alpha, Beta, Gamma, dan Delta. Disisi lain, kita harus terima kasih kepada ilmuwan di Afrika Selatan yang transparan dan cekatan ungkap Omicron ini,” katanya.



Dia mengatakan, varian ini pertama kali ditemukan pada 9 November 2021. Penularan varian ini, kata dia, lebih cepat. Baca juga: Fakta Varian Covid-19 Omicron yang Mulai Meresahkan Dunia

“Omicron pertama kali ditemukan dari spesimen yang diambil pada 9 November. Hampir sebulan keliling dunia. Pelbagai negara langsung membatasi penerbangan. Indonesia pun harusnya punya mitigasi, termasuk mempertimbangkan untuk batasi akses penerbangan ke dan dari negara tertentu,” ungkap Zubairi.
(mhd)
Mungkin Anda Suka
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1357 seconds (10.177#12.26)