Jangan Lupakan DBD!
Sabtu, 13 November 2021 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
Namun di antara penyakit tersebut, DBD memang perlu mendapat
perhatian karena bisa menimbulkan pandemi dan mengakibakan korban jiwa
yang tidak sedikit. Bila Covid-19 relatif hanya membahayakan orang
yang memiliki kormobid, DBD bisa berakibat fatal pada siapapun jika
terlambat mendapat penanganan dari dokter. Bahkan pada 2016 dan 2019,
22 provinsi harus berstatus KLB akibat tingginya kasus DBD.
Bukan hanya itu. Dalam satu kurun tertentu, kasus kematian
akibat DBD lebih tinggi dibanding kasus Covid-19. Hal ini terjadi pada
Januari hingga Maret 2020.Pada fase tersebut, angka kematian akibat
DBD mencapai 251 jiwa, sedangkan kematian akibat Covid-19 sebanyak 122
jiwa. Yang memprihatinkan, fakta tersebut seolah tidak bermakna karena
tenggelam oleh hingar-bingar pandemic.
Sebelum musim penghujan datang pun, DBD sudah menebar
ancaman. Mengutip data Kemenkes, misalnya, hingga 14 Juni 2021,
total kasus DBD sudah mencapai 16.320 kasus.Jumlah ini meningkat
sebanyak 6.417 kasus jika dibandingkan total kasus DBD pada 30 Mei
yang hanya 9.903 kasus. Jumlah kematian akibat DBD pun meningkat dari
98 kasus pada akhir Mei hingga menjadi 147 kasus pada 14 Juni 2021.
Berpijak pada fakta-fakta tersebut, pemerintah dan semua
lapisan masyarakat hendaknya tidak menutup fakta tentang ancaman DBD.
Dari sisi pemerintah hendaknya segera menggencarkan sosialiasi dalam
menghadapi DBD, baik melalui media massa maupun sosialiasi langsung
yang dilakukan hingga di strata pemerintahan terendah.
Adapun masyarakat juga tidak bisa menyepelekan dengan
melihat kondisi lingkungan sekitar apakah ada genangan air yang
menjadi tempat nyaman bagi nyamuk aedes aegypti untuk beranak-pinak.
Beberapa tempat yang biasanya menjadi sarang nyamuk ini adalah bak
mandi, pot bunga, atau pecah belah yang biasanya berserakan di
halaman rumah.
perhatian karena bisa menimbulkan pandemi dan mengakibakan korban jiwa
yang tidak sedikit. Bila Covid-19 relatif hanya membahayakan orang
yang memiliki kormobid, DBD bisa berakibat fatal pada siapapun jika
terlambat mendapat penanganan dari dokter. Bahkan pada 2016 dan 2019,
22 provinsi harus berstatus KLB akibat tingginya kasus DBD.
Bukan hanya itu. Dalam satu kurun tertentu, kasus kematian
akibat DBD lebih tinggi dibanding kasus Covid-19. Hal ini terjadi pada
Januari hingga Maret 2020.Pada fase tersebut, angka kematian akibat
DBD mencapai 251 jiwa, sedangkan kematian akibat Covid-19 sebanyak 122
jiwa. Yang memprihatinkan, fakta tersebut seolah tidak bermakna karena
tenggelam oleh hingar-bingar pandemic.
Sebelum musim penghujan datang pun, DBD sudah menebar
ancaman. Mengutip data Kemenkes, misalnya, hingga 14 Juni 2021,
total kasus DBD sudah mencapai 16.320 kasus.Jumlah ini meningkat
sebanyak 6.417 kasus jika dibandingkan total kasus DBD pada 30 Mei
yang hanya 9.903 kasus. Jumlah kematian akibat DBD pun meningkat dari
98 kasus pada akhir Mei hingga menjadi 147 kasus pada 14 Juni 2021.
Berpijak pada fakta-fakta tersebut, pemerintah dan semua
lapisan masyarakat hendaknya tidak menutup fakta tentang ancaman DBD.
Dari sisi pemerintah hendaknya segera menggencarkan sosialiasi dalam
menghadapi DBD, baik melalui media massa maupun sosialiasi langsung
yang dilakukan hingga di strata pemerintahan terendah.
Adapun masyarakat juga tidak bisa menyepelekan dengan
melihat kondisi lingkungan sekitar apakah ada genangan air yang
menjadi tempat nyaman bagi nyamuk aedes aegypti untuk beranak-pinak.
Beberapa tempat yang biasanya menjadi sarang nyamuk ini adalah bak
mandi, pot bunga, atau pecah belah yang biasanya berserakan di
halaman rumah.
(ynt)
Lihat Juga :