Peluang Ikan Nila Danau Toba Menjadi Primadona dan Komoditas Andalan Ekspor
Jum'at, 12 November 2021 - 10:42 WIB
loading...
A
A
A
Selain tinggi protein, ikan tilapia yang sering dijuluki ayam air (chicken on the water) mengandung omega 3 yang bermanfaat bagi kesehatan jantung. Meskipun tidak memiliki kandungan omega 3 sebanyak ikan tuna, ikan tilapia tetap saja memiliki kandungan omega 3 yang lebih banyak dibandingkan dengan daging sapi, babi, ayam, atau kalkun.
Kenaikan konsumsi ikan tilapia di dunia ditandai dengan adanya kenaikan total impor ikan nila dari tahun 2017 ke tahun 2018. International Trade Center (ITC) mencatat kenaikan total nilai impor ikan nila sebesar 6,75% dari USD1,35 miliar di tahun 2017 menjadi USD1,44 miliar di tahun 2018. FAO memperkirakan jumlah konsumsi ikan nila akan terus meningkat setiap tahunnya. Pasar ikan nila global ditargetkan akan mencapai USD9,2 miliar di tahun 2027, atau naik 2,20% dari tahun 2020 yang berada di angka USD7,9 miliar.
Saat ini, terdapat 4 klasifikasi jenis produk ikan nila yang diperjual-belikan di pasar global, antara lain Tilapia Segar (HS 03027100), Tilapia Beku (HS 03032300), Fillet Tilapia Segar (HS 03043100), dan Fillet Tilapia Beku (HS 03046100).
Fillet Tilapia Beku menjadi jenis produk dengan permintaan paling tinggi dibandingkan dengan 3 jenis produk lainnya. Hingga saat ini, Cina menjadi negara penghasil ikan nila terbesar pertama di dunia. Di tahun 2019 misalnya, Cina menghasilkan 1,8 juta ton ikan nila dan mengekspornya ke berbagai negara di dunia.
Sayangnya, beberapa negara menganggap ikan nila yang berasal dari Cina tidak baik untuk dikonsumsi karena praktik budidaya yang salah. Beberapa ikan yang dibudidayakan di Cina rentan terhadap risiko terkontaminasi bakteri dan penggunaan antibiotik dalam perawatannya. Kondisi tersebut sebenarnya bisa menjadi peluang baik bagi Indonesia, mengingat nilai ekspor ikan nila Indonesia menempati urutan kedua setelah Cina.
Di tahun 2019 saja, Indonesia menghasilkan 900 juta ton ikan nila dan berhasil mengekspor sebanyak 12.000 ton atau setara dengan USD66,96 juta. Ikan nila dapat menjadi primadona dan komoditas ekspor yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kenaikan konsumsi ikan tilapia di dunia ditandai dengan adanya kenaikan total impor ikan nila dari tahun 2017 ke tahun 2018. International Trade Center (ITC) mencatat kenaikan total nilai impor ikan nila sebesar 6,75% dari USD1,35 miliar di tahun 2017 menjadi USD1,44 miliar di tahun 2018. FAO memperkirakan jumlah konsumsi ikan nila akan terus meningkat setiap tahunnya. Pasar ikan nila global ditargetkan akan mencapai USD9,2 miliar di tahun 2027, atau naik 2,20% dari tahun 2020 yang berada di angka USD7,9 miliar.
Saat ini, terdapat 4 klasifikasi jenis produk ikan nila yang diperjual-belikan di pasar global, antara lain Tilapia Segar (HS 03027100), Tilapia Beku (HS 03032300), Fillet Tilapia Segar (HS 03043100), dan Fillet Tilapia Beku (HS 03046100).
Fillet Tilapia Beku menjadi jenis produk dengan permintaan paling tinggi dibandingkan dengan 3 jenis produk lainnya. Hingga saat ini, Cina menjadi negara penghasil ikan nila terbesar pertama di dunia. Di tahun 2019 misalnya, Cina menghasilkan 1,8 juta ton ikan nila dan mengekspornya ke berbagai negara di dunia.
Sayangnya, beberapa negara menganggap ikan nila yang berasal dari Cina tidak baik untuk dikonsumsi karena praktik budidaya yang salah. Beberapa ikan yang dibudidayakan di Cina rentan terhadap risiko terkontaminasi bakteri dan penggunaan antibiotik dalam perawatannya. Kondisi tersebut sebenarnya bisa menjadi peluang baik bagi Indonesia, mengingat nilai ekspor ikan nila Indonesia menempati urutan kedua setelah Cina.
Di tahun 2019 saja, Indonesia menghasilkan 900 juta ton ikan nila dan berhasil mengekspor sebanyak 12.000 ton atau setara dengan USD66,96 juta. Ikan nila dapat menjadi primadona dan komoditas ekspor yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Lihat Juga :