Mahfud MD: Indonesia Bukan Sekulernya Soekarno dan Islamnya Natsir

Rabu, 10 November 2021 - 08:03 WIB
loading...
Mahfud MD: Indonesia Bukan Sekulernya Soekarno dan Islamnya Natsir
Menko Polhukam Mahfud MD mengingatkan Indonesia bukanlah negara sekluer seperti dibayangkan Soekarno tetapi juga bukan negara Islam seperti dimimpikan Mohammad Natsir. Foto/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Menko Polhukam Mahfud MD menuturkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia adalah kesepakatan suci. Kesepakatan itu tercapai melalui perdebatan panjang bermutu tinggi.

Sebagai contoh, Mahfud menyebut perdebatan antara Presiden Pertama RI Soekarno dan mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir. Sejak tahun 1930-an keduanya kerap terlibat perdebatan panjang soal penentuan dasar negara.

"Menurut saya keduanya sama-sama tokoh dan pejuang Islam, keduanya hanya berbeda dalam meletakkan hubungan antara Islam dan Negara ketika Indonesia akan merdeka saat itu. Keduanya sama-sama ingin melihat umat Islam maju di dalam negara yang juga maju," ujar Mahfud dalam keterangan tertulis, Rabu (10/10/2021).

Baca juga: Omongan Mahfud MD Terbukti, Gugatan Yusril Tak Ada Gunanya!

Ketika itu, Soekarno ngotot ingin mendirikan negara sekuler Indonesia. Namun hal itu mendapat perdebatan sengit dari Natsir yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam.

Pada 1938, Soekarno tetiba membuat serangkaian tulisan di Majalah Panji Islam yang isinya memuji-muji Kemal Attaturk yang telah mengubah Turki dari negara Islam menjadi negara sekuler.

"Kata Bung Karno negara harus dipisahkan dari agama agar keduanya sama-sama maju seperti yang dilakukan oleh Kemal Attaturk," tutur Mahfud.

Tulisan Soekarno dibantah oleh Natsir dengan argumen yang tak kalah hebat. Menurut dia, saat itu Natsir menyebut justru negara itu harus menyatu dengan agama.

"Islam kata Natsir, bisa menyediakan semua perangkat yang dibutuhkan oleh negara moderen sehingga kalau kita mau mendirikan negara merdeka Indonesia maka dasarnya yang tepat adalah Islam," ungkap Mahfud.

Dia menjelaskan, perdebatan antara keduanya amat hebat dan penuh retorika tingkat tinggi. Adapun Soekarno, sambung dia, menulis artikel Memudakan Pengertian Islam, Mengapa Turki Memisahkan Agama dari Negara, dan Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2207 seconds (11.252#12.26)