Menuju Normal Baru, Komunikasi Internal Pemerintah Harus Diperbaiki

Kamis, 04 Juni 2020 - 21:02 WIB
loading...
Menuju Normal Baru,...
Pemerintah diminta memperbaiki komunikasi internal di lingkup Istana, kementerian/lembaga, hingga pemerintah daerah. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Sudah tiga bulan lebih pandemi Covid-19 menghantam Indonesia sejak kasus pertama ditemukan awal Maret lalu. Meski wabah belum usai, pemerintah mulai mendorong sektor-sektor produktif untuk kembali aktif dengan tetap menerapkan protokol kesehatan mencegah penularan Corona. Kondisi itu dikenal dengan tatanan kehidupan baru atau populer dikenal new normal. Namun tidak dimungkiri masih ada kegamangan mengenai penerapan di era normal baru tersebut.

Terkait itu, Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Ari Nurcahyo meminta agar pemerintah harus segera mengevaluasi kinerjanya selama tiga bulan terakhir. Salah satu yang paling krusial dan mendasar adalah buruknya koordinasi dan komunikasi internal di lingkup Istana, kementerian/lembaga, hingga pemerintah daerah. “Koordinasi dan publikasinya pemerintah carut marut, buruk sekali. Lebih mengejar kecepatan tapi mengabaikan ketepatan,” kata Ari dalam sebuah diskusi daring bertajuk Era New Normal: Indonesia Optimis versus Indonesia Terserah, Kamis (4/6/2020). (Baca juga: Tetapkan New Normal, Daerah Harus Penuhi Tiga Kriteria Aman Covid-19)

Dia mengamati langkah Presiden Joko Widodo yang ingin penanganan pandemi dan dampak yang ditimbulkan bisa diselesaikan secara cepat. Ironinya, dari segi pengambil kebijakan di bawah ternyata belum siap sehingga dianggap tidak efektif. “Presiden maunya apa, tapi tafsir kebijakan yang dipahami kementerian/lembaga, pemda itu ternyata berbeda. Makanya itu yang buat masyarakat bingung. Bagaimana masyarakat displin, kan butuh teladan,” imbuhnya.

Saat Jokowi menggaungkan berdamai dengan Corona, misalnya. Saat itu pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih dibahas dalam rapat di Istana. Namun tak lama berselang, justru Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi malah membuka bandara. “Ini kan buruk sekali komunikasi dan koordinasinya antarkelembagaan. Hal itu semakin memperlebar ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah, mulai dari penanganan pandemi, penyaluran bansos dan lainnya,” tambah dia. (Baca juga: Istana Kepresidenan Mulai Terapkan New Normal)

Ari menyebut wajar bila makin banyak orang yang akhirnya ‘ngeyel’ dan tidak disiplin. Bahkan, karena mulai enggak percaya, ada peluang juga bagi kelompok-kelompok tertentu untuk membuat suasana menjadi kisruh. “Ada politisasi pandemik dan itu bisa membangkitkan lagi kelompok lain untuk melakukan propaganda. Dengan harapan, untuk memperbesar konflik sosial,” ujarnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
WYCE Targetkan Penjualan...
WYCE Targetkan Penjualan 100.000 Boks pada Tahun Pertama
Pramono Akan Resmikan...
Pramono Akan Resmikan CFD Rasuna Said saat HUT Jakarta, Mayoritas Warga Minta Dilanjutkan
Argentina Gusur Spanyol...
Argentina Gusur Spanyol di Puncak Ranking FIFA, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Berita Terkini
Pengamat: Seskab Teddy...
Pengamat: Seskab Teddy Punya Kapasitas untuk Dipercaya Presiden Prabowo
Seleksi Hakim Agung...
Seleksi Hakim Agung 2026 Berlanjut, 36 Kandidat Jalani Penelusuran Rekam Jejak
Roy Suryo Sentil Rismon...
Roy Suryo Sentil Rismon Sianipar yang Ungkit Lagi Kasus Panci: Perkara Sudah Inkrah
6 Pejabat TNI AL Berganti,...
6 Pejabat TNI AL Berganti, Kadiskomlekal hingga Kadislitbangal
Presiden Prabowo Fokus...
Presiden Prabowo Fokus pada Kebutuhan Dasar Rakyat dan Kesejahteraan Masyarakat
Kubu Roy Suryo Tepis...
Kubu Roy Suryo Tepis Berkas Kasus Pencemaran Nama Baik Terkait Ijazah Jokowi Sudah P21
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved