Bicara Transformasi Digital UMKM, Wishnutama Ingatkan RI Akan Hadapi Gelombang Disrupsi Kedua

loading...
Bicara Transformasi Digital UMKM, Wishnutama Ingatkan RI Akan Hadapi Gelombang Disrupsi Kedua
Prabu Revolusi, News Director Deputy MNC Group. Foto/Dok. Pribadi
Prabu Revolusi
News Director Deputy MNC Group

KETUA Dewan Pengarah ICCN, Wishnutama Kusubandio mengatakan, Indonesia harus berhati-hati karena akan menghadapi gelombang disrupsi kedua (second wave disruption). Menurutnya, pandemi telah mengakselerasi inovasi teknologi digital jauh lebih cepat karena masyarakat sangat bergantung pada teknologi untuk menjalankan aktivitasnya.

Gelombang disrupsi kedua adalah kelanjutan fenomena disrupsi yang sebelumnya terjadi lewat e-commerce dan transportasi online. Kali ini, Indonesia harus hati-hati, dengan hadirnya teknologi 5G, sektor-sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan keuangan akan menjadi sektor-sektor baru yang akan terdisrupsi menjadi healthtech, fintech, edutech, dan seterusnya.
Bicara Transformasi Digital UMKM, Wishnutama Ingatkan RI Akan Hadapi Gelombang Disrupsi Kedua

Ketua Dewan Pengarah ICCN, Wishnutama Kusubandio. Foto/Dok. Pribadi

Berbicara dalam acara penandatangan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KemenKopUKM) dan PT MNC Investama Tbk (BHIT dan MNC Group), Rabu, 07 Oktober, 2021, Mantan Menparekraf RI ini menyebutkan bahwa kontribusi ekonomi digital di Indonesia akan mencapai Rp4.500 triliun. “Tapi jangan senang dulu. Dari angka segitu, pertanyaan kita, berapa banyak yang dinikmati bangsa kita sendiri? Jangan-jangan sebagian besar lagi keluar,” ujarnya.



Gelombang disrupsi kedua ini juga akan “mematikan” lebih dari 23 juta pekerja di Indonesia karena akan tergantikan oleh automation. Kesiapan Indonesia dipertaruhkan apakah bangsa ini akan jadi tukang saja di negeri sendiri atau menjadi tuan rumah digital.

Komisaris Utama Telkomsel ini juga menyebutkan akan ada 40 juta lapangan kerja baru terkait digital di gelombang disrupsi kedua ini. Namun masalahnya harus dipastikan agar bangsa Indonesia yang mengisinya, bukan bangsa lain yang bekerja di negeri kita.
(poe)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top