Memaknai Hari Jadi OKI ke-52 dan Refleksi bagi Indonesia
Senin, 27 September 2021 - 19:54 WIB
loading...
A
A
A
Indonesia mempunyai modal politik yang sangat baik di mana citra Indonesia sebagai pendukung OKI termasuk dukungan secara konsisten terhadap kemerdekaan Palestina. Selain itu Indonesia juga mempunyai modal sejarah politik yang besar sebagai negara pencetus Gerakan Non Blok dan penggagas Konferensi Asia-Afrika. Untuk melengkapinya, peran Indonesia di kawasannya di mana Indonesia merupakan salah satu founding nations pendiri ASEAN dan mempunyai reputasi besar sebagai juru damai di kawasan.
Berbekal modal politik tersebut, Indonesia mempunyai peluang besar dalam meningkatkan kerja sama di semua bidang guna memajukan kepentingan nasional. Kementerian Luar Negeri RI telah menggarisbawahi prioritas politik luar negeri kita hingga 2024 bertumpu pada empat prioritas; yaitu diplomasi ekonomi, peningkatan kontribusi kepemimpinan Indonesia di kawasan dan dunia, kedaulatan dan kebangsaan, dan perlindungan.
Dalam diplomasi ekonomi, Indonesia bertekad melakukan kapitalisasi penguatan pasar domestik Indonesia yang merupakan pasar besar dengan populasi penduduk lebih mencapai 270 juta jiwa. Untuk itu Indonesia harus mampu menjadikan pasar domestik sebagai leverage atau daya tawar untuk menjalin kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan di tingkat bilateral maupun regional.
Di samping itu, Indonesia dituntut mampu melakukan penguatan pasar tradisional dan terobosan pasar non-tradisional. Keberhasilan awal Indonesia menembus pasar non tradisional seperti Afrika melalui Indonesia-Africa Forum dan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue, sudah selayaknya diikuti dengan upaya keras BUMN dan pebisnis Indonesia menggarap kawasan non tradisional lainnya, terutama sesama anggota OKI di Timur Tengah, Asia Selatan dan Tengah.
Sejalan dengan semangat itu, Indonesia sudah waktunya mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swastanya untuk lebih percaya diri lagi melakukan ekspansi outbound investment termasuk ke negara OKI potensial. Sebagai contoh tindakan diskriminatif Eropa terhadap kelapa sawit Indonesia seharusnya semakin membakar semangat Indonesia untuk mencari pasar nontradisional di Asia Selatan, Tengah, Timur Tengah hingga Afrika yang potensial menjadi mitra dagang dan produksi.
Kepentingan kelapa sawit Indonesia merupakan salah satu hal fundamental karena menyangkut hajat hidup 16 juta orang di Indonesia. Lautan peluang bagi Indonesia masih terbentang luas termasuk di antaranya mendorong ekonomi 4.0 meliputi industri digital, ekonomi kreatif dan pengembangan SDM di mana Indonesia dipandang sebagai negara yang cukup kuat. Sesuai dengan motto HUT RI ke-76, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Semoga kita dapat mengambil momentum ini dengan merangkul OKI lebih erat.
Berbekal modal politik tersebut, Indonesia mempunyai peluang besar dalam meningkatkan kerja sama di semua bidang guna memajukan kepentingan nasional. Kementerian Luar Negeri RI telah menggarisbawahi prioritas politik luar negeri kita hingga 2024 bertumpu pada empat prioritas; yaitu diplomasi ekonomi, peningkatan kontribusi kepemimpinan Indonesia di kawasan dan dunia, kedaulatan dan kebangsaan, dan perlindungan.
Dalam diplomasi ekonomi, Indonesia bertekad melakukan kapitalisasi penguatan pasar domestik Indonesia yang merupakan pasar besar dengan populasi penduduk lebih mencapai 270 juta jiwa. Untuk itu Indonesia harus mampu menjadikan pasar domestik sebagai leverage atau daya tawar untuk menjalin kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan di tingkat bilateral maupun regional.
Di samping itu, Indonesia dituntut mampu melakukan penguatan pasar tradisional dan terobosan pasar non-tradisional. Keberhasilan awal Indonesia menembus pasar non tradisional seperti Afrika melalui Indonesia-Africa Forum dan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue, sudah selayaknya diikuti dengan upaya keras BUMN dan pebisnis Indonesia menggarap kawasan non tradisional lainnya, terutama sesama anggota OKI di Timur Tengah, Asia Selatan dan Tengah.
Sejalan dengan semangat itu, Indonesia sudah waktunya mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swastanya untuk lebih percaya diri lagi melakukan ekspansi outbound investment termasuk ke negara OKI potensial. Sebagai contoh tindakan diskriminatif Eropa terhadap kelapa sawit Indonesia seharusnya semakin membakar semangat Indonesia untuk mencari pasar nontradisional di Asia Selatan, Tengah, Timur Tengah hingga Afrika yang potensial menjadi mitra dagang dan produksi.
Kepentingan kelapa sawit Indonesia merupakan salah satu hal fundamental karena menyangkut hajat hidup 16 juta orang di Indonesia. Lautan peluang bagi Indonesia masih terbentang luas termasuk di antaranya mendorong ekonomi 4.0 meliputi industri digital, ekonomi kreatif dan pengembangan SDM di mana Indonesia dipandang sebagai negara yang cukup kuat. Sesuai dengan motto HUT RI ke-76, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Semoga kita dapat mengambil momentum ini dengan merangkul OKI lebih erat.
(bmm)
Lihat Juga :