Menuju New Normal Pemerintah Harus Tegas
Jum'at, 29 Mei 2020 - 06:25 WIB
loading...
A
A
A
Kebijakan tatanan kehidupan normal baru memang sudah ditunggu-tunggu kalangan pengusaha, terutama para pelaku usaha yang bergerak di sektor pusat perbelanjaan. Menyambut hadirnya suasana new normal, pihak Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) telah menyiapkan sejumlah protokol kesehatan, di antaranya para pengunjung pusat perbelanjaan dan pemilik gerai ritel wajib menggunakan masker dan pemeriksaan suhu tubuh tanpa terkecuali, lalu pengaturan jaga jarak fisik juga diterapkan secara ketat. Mulai dari ketentuan antre masuk pusat perbelanjaan, toko-toko di dalamnya hingga penggunaan lift, eskalator, dan toilet sehingga pengunjung pusat perbelanjaan tidak berdekatan satu sama lain.
Menerapkan kebijakan tatanan kehidupan normal baru memiliki dilema tersendiri. Di satu sisi sangat positif untuk menggerakkan kembali aktivitas perekonomian yang sedang lumpuh akibat diterjang pandemi virus korona. Di sisi lain potensi negatifnya juga di ada depan mata. Artinya melonggarkan aktivitas masyarakat di tengah Covid-19 yang belum membentuk kurva sebagaimana diharapkan juga berisiko untuk menyuburkan kembali korban baru. Meski dipenuhi suasana dilematis, pemerintah memang harus bertindak terukur dalam pengertian bagaimana agar situasi dan kondisi perekonomian kembali berdenyut dan korban Covid-19 bisa diminimalisasi sehingga kehidupan masyarakat kembali bergerak lagi dalam teritori new normal.
Bukan hanya di Indonesia, sejumlah negara juga menerapkan tatanan kehidupan normal baru. Pemerintah Jerman telah melonggarkan pembatasan (new normal) untuk aktivitas bisnis restoran sejak pertengahan bulan ini dengan protokol kesehatan yang ketat. Begitu pula di Austria, bisnis restoran, kafe hingga gereja dan museum juga sudah menerapkan new normal dengan persyaratan ketat. Selandia Baru telah mencabut sebagian besar pembatasan lockdown menuju new normal di mana pusat perbelanjaan sudah beroperasi kembali.
Sukses tidaknya penerapan tatanan kehidupan normal baru sangat tergantung pada dukungan semua pihak terkait. Intinya sangat ditentukan oleh disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menghadapi Covid-19. Juga langkah konsisten pemerintah dalam menyosialisasi, mengevaluasi hingga mengawasi pelaksanaan kebijakan yang segera diberlakukan di tengah masyarakat.
Menerapkan kebijakan tatanan kehidupan normal baru memiliki dilema tersendiri. Di satu sisi sangat positif untuk menggerakkan kembali aktivitas perekonomian yang sedang lumpuh akibat diterjang pandemi virus korona. Di sisi lain potensi negatifnya juga di ada depan mata. Artinya melonggarkan aktivitas masyarakat di tengah Covid-19 yang belum membentuk kurva sebagaimana diharapkan juga berisiko untuk menyuburkan kembali korban baru. Meski dipenuhi suasana dilematis, pemerintah memang harus bertindak terukur dalam pengertian bagaimana agar situasi dan kondisi perekonomian kembali berdenyut dan korban Covid-19 bisa diminimalisasi sehingga kehidupan masyarakat kembali bergerak lagi dalam teritori new normal.
Bukan hanya di Indonesia, sejumlah negara juga menerapkan tatanan kehidupan normal baru. Pemerintah Jerman telah melonggarkan pembatasan (new normal) untuk aktivitas bisnis restoran sejak pertengahan bulan ini dengan protokol kesehatan yang ketat. Begitu pula di Austria, bisnis restoran, kafe hingga gereja dan museum juga sudah menerapkan new normal dengan persyaratan ketat. Selandia Baru telah mencabut sebagian besar pembatasan lockdown menuju new normal di mana pusat perbelanjaan sudah beroperasi kembali.
Sukses tidaknya penerapan tatanan kehidupan normal baru sangat tergantung pada dukungan semua pihak terkait. Intinya sangat ditentukan oleh disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menghadapi Covid-19. Juga langkah konsisten pemerintah dalam menyosialisasi, mengevaluasi hingga mengawasi pelaksanaan kebijakan yang segera diberlakukan di tengah masyarakat.
(ysw)
Lihat Juga :