Keterkejutan Sosial
Senin, 19 Juli 2021 - 11:55 WIB
loading...
A
A
A
Perasaan kompetisi ini sebenarnya dalam pandangan Al-Qur'an bukan sesuatu yang asing, apalagi aneh. Karena sejatinya dalam hidup seorang Mukmin, semangat kompetisi harus selalu terbangun. Itulah yang dibahasakan oleh Al-Qur'an dengan "fastabiqul khaerat". Atau "falyatanaafisul mutanaafisuun".
Dilemanya memang ada pada:
Satu, situasi batin atau mentalitas seseorang. Kalau bisikan batinnya penuh polusi, penuh kotoran hati yang tidak perlu saya rincikan, hilang integritas karakternya. Hal itu karena kompetisi itu dianggap ancaman. Dan karenanya dia akan melakukan segala hal untuk "menang dan mengalahkan" siapa pun yang dianggap pesaingnya.
Akibatnya tumbuh rasa "insecurity". Merasa tidak aman dengan kemajuan atau prestasi, bahkan apa yang diasumsikan keberhasilan orang lain. Keberhasilan orang lain tidak akan pernah positif di matanya. Sebaliknya justeru dilihat sebagai ancaman yang mengintainya setiap saat.
Dua, masalah social shock tadi. Orang yang terkejut karena sesuatu yang dianggap menjadikannya "upper hand". Merasa memiliki sesuatu atau mungkin perasaan ada kelebihan. Perasaan ini paling rentang terjadi kepada orang yang secara "kebetulan atau tiba-tiba" ada sesuatu yang terjatuh dalam genggamannya.
Tiba-tiba kaya bisa menjadikan seseorang terkejut secara sosial. Seseorang yang dapat lotto misalnya pada umumnya berakhir tragis. Entah itu bangkrut pada akhirnya. Atau terlibat dalam gaya hidup yang tidak terkontrol.
Bahkan anak-anak orang kaya yang jadi kaya karena sekedar kayanya orang tua. Umumnya mereka menjadi orang-orang spoiled yang kurang bertanggung jawab dalam hidupnya.
Contoh lain yang sering terjadi dalam masyarakat adalah ketika seseorang secara tiba-tiba diangkat jadi RT di sebuah kampung. Kerap Pak RT ini bergaya. Merasa memiliki dunia. Padahal otoritasnya hanya RT. Itu pun terpilih karena dadakan. Terpilih karena situasi dan keadaan tertentu. Bukan karena punya kapasitas dan kemampuan.
Dilemanya memang ada pada:
Satu, situasi batin atau mentalitas seseorang. Kalau bisikan batinnya penuh polusi, penuh kotoran hati yang tidak perlu saya rincikan, hilang integritas karakternya. Hal itu karena kompetisi itu dianggap ancaman. Dan karenanya dia akan melakukan segala hal untuk "menang dan mengalahkan" siapa pun yang dianggap pesaingnya.
Akibatnya tumbuh rasa "insecurity". Merasa tidak aman dengan kemajuan atau prestasi, bahkan apa yang diasumsikan keberhasilan orang lain. Keberhasilan orang lain tidak akan pernah positif di matanya. Sebaliknya justeru dilihat sebagai ancaman yang mengintainya setiap saat.
Dua, masalah social shock tadi. Orang yang terkejut karena sesuatu yang dianggap menjadikannya "upper hand". Merasa memiliki sesuatu atau mungkin perasaan ada kelebihan. Perasaan ini paling rentang terjadi kepada orang yang secara "kebetulan atau tiba-tiba" ada sesuatu yang terjatuh dalam genggamannya.
Tiba-tiba kaya bisa menjadikan seseorang terkejut secara sosial. Seseorang yang dapat lotto misalnya pada umumnya berakhir tragis. Entah itu bangkrut pada akhirnya. Atau terlibat dalam gaya hidup yang tidak terkontrol.
Bahkan anak-anak orang kaya yang jadi kaya karena sekedar kayanya orang tua. Umumnya mereka menjadi orang-orang spoiled yang kurang bertanggung jawab dalam hidupnya.
Contoh lain yang sering terjadi dalam masyarakat adalah ketika seseorang secara tiba-tiba diangkat jadi RT di sebuah kampung. Kerap Pak RT ini bergaya. Merasa memiliki dunia. Padahal otoritasnya hanya RT. Itu pun terpilih karena dadakan. Terpilih karena situasi dan keadaan tertentu. Bukan karena punya kapasitas dan kemampuan.