Jauh dari Keluarga, Ciptakan Dampak Psikologis
Sabtu, 10 Juli 2021 - 08:44 WIB
loading...
A
A
A
Ia mengaku sangat bersyukur dengan kecanggihan teknologi yang kini ada. Sebab, mempermudah komunikasi dengan keluarga yang jauh dengannya. Aktivitas serupa juga dilakukan Topan. "Kalau sekarang sebisa mungkin komunikasinya tetap berjalan jangan sampai terputus. Kalau sama keluarga bisa dengan telpon baik lewat whatsapp maupun video call," ujar pria yang bekerja di lembaga internasional ini.
Dalam buku yang ditulis oleh John Canavan, John Pinkerton dan Pat Dolan yang bertajuk ‘Family Support as Reflective Practice’ disebutkan bahwa, dukungan keluarga adalah sebuah bentuk dukungan sosial bagi individu. Dukungan tersebut bersifat informal antar keluarga dan disebut sebagai central helping system. Menurut, Ardi Primasari, Psikolog Klinis, Diaspora Indonesia umumnya mengalami pengurasan energi akibat tidak bisa bertemu dengan keluarga.
Baca juga: Rektor Unej Minta Diaspora ”Viralkan” Kuliner Indonesia
"Meskipun memang tidak bisa digeneralisasi ya. Namun, beberapa ada yang mengalami hal itu. Tidak ada yang bisa menggantikan berharganya sebuah pertemuan. Apalagi dengan keluarga. Karena, mereka andil besar dalam memberikan dukungan," ujarnya.
Namun, wanita yang juga bekerja sebagai psikolog di salah satu perusahaan oli dan gas ini sangat optimistis, Diaspora Indonesia mampu berjuang dan bertahan di tengah pandemi Covid-19 ini. Untuk ke depannya, masyarakat harus menyesuaikan diri dengan penggunaan teknologi. Menurutnya, pertemuan secara daring menjadi senjata ampuh untuk bertemu keluarga atau rekan kerja.
Dalam buku yang ditulis oleh John Canavan, John Pinkerton dan Pat Dolan yang bertajuk ‘Family Support as Reflective Practice’ disebutkan bahwa, dukungan keluarga adalah sebuah bentuk dukungan sosial bagi individu. Dukungan tersebut bersifat informal antar keluarga dan disebut sebagai central helping system. Menurut, Ardi Primasari, Psikolog Klinis, Diaspora Indonesia umumnya mengalami pengurasan energi akibat tidak bisa bertemu dengan keluarga.
Baca juga: Rektor Unej Minta Diaspora ”Viralkan” Kuliner Indonesia
"Meskipun memang tidak bisa digeneralisasi ya. Namun, beberapa ada yang mengalami hal itu. Tidak ada yang bisa menggantikan berharganya sebuah pertemuan. Apalagi dengan keluarga. Karena, mereka andil besar dalam memberikan dukungan," ujarnya.
Namun, wanita yang juga bekerja sebagai psikolog di salah satu perusahaan oli dan gas ini sangat optimistis, Diaspora Indonesia mampu berjuang dan bertahan di tengah pandemi Covid-19 ini. Untuk ke depannya, masyarakat harus menyesuaikan diri dengan penggunaan teknologi. Menurutnya, pertemuan secara daring menjadi senjata ampuh untuk bertemu keluarga atau rekan kerja.
(zik)
Lihat Juga :