Diaspora Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi
Jum'at, 09 Juli 2021 - 16:33 WIB
loading...
Diaspora Indonesia. Foto/SINDOnews/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Memasuki penghujung tahun 2019, masyarakat dunia dibuat gempar dengan kemunculan virus Corona atau Covid-19. Dalam waktu singkat, virus yang ditengarai berasal dari Wuhan, China ini menyebar ke banyak negara.
Berdasarkan data worldometers.info, per Kamis, 8 Juli 2021 tercatat jumlah kasus Covid di seluruh dunia telah mencapai 185.857.140. Dari jumlah tersebut, sebanyak 170.103.648 telah sembuh sedangkan 4.017.885 lainnya meninggal dunia. Sejak merebak pertama kali, pemerintah di seluruh negara langsung mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menghalau penyebaran virus ini.
Baca juga: Pengawasan Pasien Isolasi Mandiri Tak Maksimal, Sekda KBB: Banyak Nakes Positif Covid-19
Tak hanya aturan yang memuat protokol kesehatan seperti kewajiban memakai masker dan mencuci tangan, melainkan juga aturan-aturan lain di bidang lain, seperti kewajiban untuk belajar dan bekerja dari rumah, batasan jumlah antrian hingga pembatasan perjalanan di wilayah atau antar wilayah. Kondisi tersebut tak pelak merubah pola hidup dan kebiasaan seluruh masyarakat dunia.
![Diaspora Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi]()
Tim Litbang MPI melakukan penelusuran terhadap berbagai kebijakan selama Pandemi serta dampaknya bagi para diaspora dari 3 negara, yaitu Thailand, Jepang serta Amerika serikat. Bagi Diaspora Indonesia yang menetap di Amerika Serikat, Satya Grove, kebijakan selama pandemi Covid-19 tak dapat dipungkiri telah merubah pola hidup warga disana.
Salah satunya terkait kebijakan pembatasan jam buka grocery store. Menurut Satya, saat awal Pandemi orang-orang harus antre untuk masuk. Satya mengibaratkan situasi saat itu sama seperti situasi perang.
"Situasi di sana sudah kayak jaman perang. Kita akhirnya cari jam yang tidak begitu ramai untuk belanja," ujarnya. Baca juga: Datangi Serbuan Vaksin, Panglima TNI: Tempat dan Nakes Kunci Percepatan Vaksin Nasional
Berdasarkan data worldometers.info, per Kamis, 8 Juli 2021 tercatat jumlah kasus Covid di seluruh dunia telah mencapai 185.857.140. Dari jumlah tersebut, sebanyak 170.103.648 telah sembuh sedangkan 4.017.885 lainnya meninggal dunia. Sejak merebak pertama kali, pemerintah di seluruh negara langsung mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menghalau penyebaran virus ini.
Baca juga: Pengawasan Pasien Isolasi Mandiri Tak Maksimal, Sekda KBB: Banyak Nakes Positif Covid-19
Tak hanya aturan yang memuat protokol kesehatan seperti kewajiban memakai masker dan mencuci tangan, melainkan juga aturan-aturan lain di bidang lain, seperti kewajiban untuk belajar dan bekerja dari rumah, batasan jumlah antrian hingga pembatasan perjalanan di wilayah atau antar wilayah. Kondisi tersebut tak pelak merubah pola hidup dan kebiasaan seluruh masyarakat dunia.

Tim Litbang MPI melakukan penelusuran terhadap berbagai kebijakan selama Pandemi serta dampaknya bagi para diaspora dari 3 negara, yaitu Thailand, Jepang serta Amerika serikat. Bagi Diaspora Indonesia yang menetap di Amerika Serikat, Satya Grove, kebijakan selama pandemi Covid-19 tak dapat dipungkiri telah merubah pola hidup warga disana.
Salah satunya terkait kebijakan pembatasan jam buka grocery store. Menurut Satya, saat awal Pandemi orang-orang harus antre untuk masuk. Satya mengibaratkan situasi saat itu sama seperti situasi perang.
"Situasi di sana sudah kayak jaman perang. Kita akhirnya cari jam yang tidak begitu ramai untuk belanja," ujarnya. Baca juga: Datangi Serbuan Vaksin, Panglima TNI: Tempat dan Nakes Kunci Percepatan Vaksin Nasional
Lihat Juga :